
Tengkorak tersebut mengayunkan kedua pedangnya ke tanah dan itu menciptakan gelombang kejut yang melempar kami darinya.
Yue yang ada di sebelahku berkata.
"Lihat itu Okta."
Aku mengikuti arah yang ditunjuknya dan di sana ada sebuah pintu yang kemungkinan besar akan membawa kami semakin jauh.
Jika ada pilihan kita bisa meloloskan diri tanpa bertarung dengan makhluk ini maka itu pantas dicoba.
Di sisi lain ada semacam peti harta karun, ini menjadi pilihan mengambil hartanya atau meloloskan diri.
Kila dan Noel menyerang serempak bersamaan Marie yang telah melompat ke atasnya, ketiganya melakukan combo serangan namun pada akhirnya mereka diterbangkan ke belakang.
Ada semacam pelindung yang melindunginya.
"Yue cobalah untuk menggunakan sihir cahaya."
"Baik."
Aku memberikan instruksi tersebut selagi melangkah maju.
"Kila?" panggilku.
"Baik nyan."
Kila memosisikan untuk berdiri dengan dua tangan sementara kakinya di atas dengan posisi menekuk, ia termasuk orang yang Atlentis.
__ADS_1
Aku melompat, menempatkan kakiku di kakinya saat dia mendorongku ke atas melebihi kepala musuh kami, aku berputar beberapa saat di udara menukik dengan gerakan tusukan.
Terdengar bunyi retakan namun bukan berasal dari kepala tengkorak melainkan dari pedangku, pedangku hancur berkeping-keping sebelum aku benar-benar jatuh dari ketinggian.
Kila menangkapku selagi menghindari serangan balasan, ketika kami mundur sinar cahaya dari sihir Yue membungkus tengkorak tersebut lalu memudar setelahnya.
"Apa berhasil?" tanya Marie.
Tentu saja tidak, pelindung itu masih kokoh.
"Perubahan rencana, semuanya bergerak menuju lantai berikutnya, sekarang."
"Baik."
Kami buru-buru berlari dengan sekuat tenaga.
"Sihir suciku tidak mempan, kemungkinan sihirnya harus setingkat pahlawan suci atau Arc Priest."
"Kamu belum mencapai tingkat itu?" tanyaku sambil berlari.
"Tentu saja, mereka yang memiliki title job saja yang bisa."
Aku bisa mengerti itu.
Seseorang tidak begitu saja bisa menggunakan sihir suci tingkat atas jika mereka tidak benar-benar mengambil pekerjaannya, singkatnya itu seperti sihir yang diberikan oleh dewi.
Kami melompat tepat saat bilah pedang nyaris mengenai kami. Kepalaku berada di bawah kaki Noel.
__ADS_1
Itu pemandangan bagus tapi bukan waktunya melihat hal tidak-tidak, kami tidak tahu berada di lantai berapa sekarang dan jelas kami tersesat dari peta.
Yue mengeluarkan obor untuk penerangan kami.
"Mari bergerak."
Aku memimpin jalan kemudian berhenti saat melihat bahwa di depan kami penuh dengan tengkorak manusia.
"Mereka terjebak di sini dan tidak bisa melarikan diri, orang-orang yang malang nyan."
"Mari cari sesuatu di tubuh mereka, paling tidak aku harap kita menemukan sedikit petunjuk."
"Bukannya itu terlalu berlebihan?" Noel mengutarakan pendapatnya.
Wajar saja jika ia berkata seperti itu, bagi seorang kesatria mengambil barang dari orang-orang yang sudah meninggal merupakan tindakan tidak terpuji. Namun, saat ini kami tidak bisa pilih-pilih. Dibandingkan apapun aku ingin tahu kami berada di mana sekarang.
Aku meminta Noel tetap berdiri dan memperhatikan sementara aku memeriksa tubuh prianya.
"Maafkan kami."
Aku berkata seperti itu saat mulai meraba-raba, aku menemukan sebuah catatan di dalamnya.
Di sana tergambar sebuah peta kecil di luar peta dungeon, dan aku putuskan untuk membandingkannya dengan peta yang kuterima dari guild.
Sejauh ini peta ini hanya mencapai lantai 50 dan sekarang kami berada di lantai 51. Hanya lewat tangga kami bisa berjalan sejauh ini.
Semuanya jelas tidak masuk akal.
__ADS_1