Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Episode 5


__ADS_3

***


Mereka tidak berusaha terlalu keras untuk mengisi lembar kerja. Salah satu sebabnya, perhatian Jason terlalu tertuju ke badai dan perasaannya sendiri yang campur aduk. Sebab lainnya, dia sama sekali tak punya gambaran bagaimana cara mengisi soal seperti “sebutkan tiga lapisan sedimen yang kau amati” atau “jelaskan dulu contoh erosi.”


Leo tidak membantu. Dia terlalu sibuk merakit helikopternya dari tali-tali kapas.


“Lihat nih.” Leo meluncurkan helikopter tersebut. Jason menduga Helikopter itu akan jatuh, namun baling-baling dan tali kapas itu betul-betul bisa berputar. Helikopter kecil tersebut berhasil menyeberang sampai ke tengah-tengah ngarai sebelum kehilangan momentum dan terpuntir ke jurang.


“Bagaiamana caramu melakukan itu?” tanya Jason.


Leo mengangkat bahu. “Bakalan lebih keren kalau aku punya karet gelang.”


“Serius nih,” kata Jason, “apa kita benar-benar berteman?”


“Terakhir kali yang kuingat sih begitu.”

__ADS_1


“Kau yakin? Kapan hari pertama kita bertemu? Apa yang biasanya kita obrolkan?”


“Kejadiannya ...” Leo mengerutkan kening. “Aku tak ingat persisnya. Aku ini penderita GPPH, Bung. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. Mana bisa aku ingat semua detail?”


“Tapi aku tak bisa mengingatmu sama sekali. Aku tak ingat siapa pun yang ada di sini. Bagaimana kalau—“


“Kau benar dan yang lain salah semua?” tanya Leo. “Kaukira kau baru muncul di sini pagi ini, dan kami semua punya ingatan palsu tentangmu?”


Suara kecil dalam kepala Jason berujar, Memang itu yang sedang kupikirkan.


“Bawakan lembar kerja ini.” Jason menyerahkan lembar kerja itu kepada Leo. “Aku akan segera kembali.”


Sebelum Leo sempat protes, Jason berjalan menyeberangi tititian.


Hanya ada kelompok sekolah mereka di tempat itu. Mungkin masih terlalu pagi untuk kedatangan turis, atau mungkin cuaca ganjil ini telah menakut-nakuti para wisatawan. Anak-anak Sekolah Alam Liar telah menyebar berpasang-pasangan di titian. Sebagian besar sedang berkelakar atau mengobrol. Sebagian cowok menjatuhkan koin satu sen dari tepi pagar. Kira-kira lima belas meter dari posisi Jason, Piper sedang berusaha mengisi lembar kerjanya, namun Dylan, pasangannya yang bodoh, malah merayunya, merangkulkan lengan ke bahu Piper dan memberinya senyuman putih menyilaukan itu. piper terus saja mendorong Dylan agar menjauh, dan ketika cewek itu melihat Jason diberinya cowok itu tatapan yang seolah menyiratkan, Cekik cowok ini demi aku.

__ADS_1


Jason memberi isyarat agar Piper menunggu. Dia mengampiri Pak Pelatih Hedge, yang sedang menumpukan badai ke tongkat bisbol sambil mengamati awan badai.


“Apa kau yang melakukan ini?” sang Pelatih menanyai Jason.


Jason melangkah mundur. “Melakukan apa?” kedengarannya sang pelatih baru saja bertanya apakah Jason telah menciptakan badai guntur.


Pak Pelatih Hedge memelototi Jason, matanya yang bagai manik-manik berkilat di bawah pinggiran topinya. “Jangan main-main denganku, Bocah. Apa yang kaulakukan di sini, dan kenapa kau mengacaukan pekerjaanku?”


“Maksud Bapak ... Bapak tidak mengenal saya?” ujar Jason. “Saya bukan salah satu murid Bapak?”


Hedge mendengus. “Tak pernah melihatmu sebelum hari ini.”


Jason lega sekali sampai-sampai dia ingin menangis. setidaknya dia tidak gila. Dia memang berada di tempat yang salah. “Begini, Pak, saya tidak tahu bagaimana ceritanya sampai saya berada di sini. Ketika saya terbangun, saya sudah berada di bus sekolah ini. Saya cuma tahu saya tak seharusnya berada di sini.”


“Memang benar.” Suara galak Hedge memelan hingga menjadi gumaman, seakan dia tengah berbagi rahasia. “Kau punya kekutan yang hebat untuk mempengaruhi Kabut, Bocah, jika kau bisa membuat semua orang ini mengira mereka mengenalmu; tapi kau tak bisa mengelabuiku. Sudah berhari-hari aku mencium bau monster. Aku tahu kami kedatangan penyusup, tapi baumu tak seperti monster. Baumu seperti blaster

__ADS_1


__ADS_2