Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 51 : Pertarungan Pelayan


__ADS_3

Marie mengirim rantai untuk melilit sebuah tiang, sementara dirinya berayun untuk menghindari anak panah yang mengincarnya.


Tepat saat dia mendarat, dia segera bersembunyi di balik bangunan. Lawannya adalah orang yang cukup merepotkan, seorang yang memiliki lampion dan merupakan dalang dari semua kekacauan di ibukota ini.


Ia termasuk dalam guild kegelapan yang dikenal sebagai Scot.


Dia berkata dengan percaya diri setelah melepas penutup mata yang selama ini dipakainya.


"Apa menurutmu kau bisa lolos dariku, sayang sekali mata ini bisa melihat menembus apapun."


Mata Scot sendiri terlihat seperti mata seekor elang, ketika Marie hendak bergerak anak panah menembus pahanya memberikan rasa sakit yang intens terhadap tubuhnya.


Dia sedikit berteriak sebelum kembali bersembunyi lalu menariknya keluar.


"Bagaimana dia bisa mengetahuinya?" apa yang dia pikirkan saat ini.


Marie merobek pakaiannya yang merupakan pakaian pelayan sebelum melilitnya pada pahanya untuk menghentikan pendarahan.


Ketika dia melihat ke samping dua panah meluncur padanya kembali, beruntung bahwa ia berhasil menghindarinya. Selain bisa melihat dia juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan panahnya. Jelas sekali bahwa ini kemampuan tingkat atas bagi seorang yang memiliki kemampuan pertarungan jarak jauh. Jika demikian hanya ada satu jalan satu-satunya yaitu menerobos maju.


Mengabaikan rasa sakit Marie keluar dari persembunyiannya lalu berlari ke arah Scot berada.


"Kau sudah putus asa gadis kecil, maka kematianmu akan datang lebih cepat," katanya.

__ADS_1


Berdasarkan arah tembakan awal Marie bisa memprediksi bahwa Scot sekarang tepat di depan dirinya, jaraknya 200 meter darinya serta berada dibangunan paling tinggi.


Anak panah meluncur pada Marie, dia tidak menghindar melainkan menggunakan rantai yang terlilit dengan bola besi untuk membenturkannya sekaligus.


Itu meledak di tengahnya.


Tidak berhenti di sana tiga panah yang sama diantisipasi dengan cara yang sama.


"Hoh, kau bisa menahannya, kalau begitu bagaimana dengan ini?"


Scot sekaligus menempatkan tiga anak panah di busurnya lalu melesatkannya secara bersamaan.


Marie tertembus dua di antaranya di kaki serta di jantungnya.


"Sudah berakhir."


"Apa yang?"


Sosok Marie yang asli muncul di belakangnya memberikan hantaman keras mengenai bagian sisi samping tubuh Scot hingga dia terlempar ke samping.


"Guakh."


Darah menyembur dari mulutnya dan ia berusaha bangkit.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?"


"Aku menggunakan mana untuk membuat tubuh pengganti sementara, bisa dibilang menggandakan diri, awalnya aku ingin menggunakan teknik ini ketika aku kewalahan dalam pekerjaanku sebagai seorang pelayan tapi tidak disangka harus menggunakannya seperti ini."


Bagi Marie inilah jalan satu-satunya, tidak ada celah dari Scot tunjukan, ia memang terlahir sebagai pemburu namun ketika cara ini digunakan ia sudah skakmat.


Marie mengeluarkan pisau yang disembunyikan di pahanya menampilkan gater belt yang terhubung dengan kaos kakinya serta bagian yang tidak terlihat oleh siapapun.


"Tunggu sebentar, apa yang.. jika kau membunuhku maka keberadaan lampion tersebut tidak akan pernah kalian temukan dan Orifiel tetap akan seperti itu."


Marie tersenyum sembari membalasnya.


"Jangan khawatir, kami sudah tahu bahwa lampion itu tidak bisa terlalu jauh dari target, paling tidak, ada di salah satu sudut kota ini bukan, temanku sudah mencarinya... kini bayar atas kejahatanmu."


"Ka-kau?"


Jleb.


Pisau menancap baik di kepala Scot sebelum dirinya jatuh dari ketinggian. Kila yang muncul dengan kibasan ekornya melihatnya dengan masam.


"Dia benar-benar mati."


"Lalu bagaimana lampionnya?"

__ADS_1


"Sudah diurus Yue, sebentar lagi kurasa ia dapat menemukannya nyan.. lebih dari itu sebaiknya kita obati lukamu nyan."


"Aku rasa begitu."


__ADS_2