
Aku mencoba untuk menstabilkan pernapasanku setelah menyelesaikan latihan pertamaku, seluruh batu di tempat ini telah dihancurkan.
Tak lama Rider muncul selagi bertepuk tangan.
"Kerja bagus, kini kau telah mempelajari pukulan penghancur batu."
"Dari mana datangnya nama itu?"
"Tentu saja aku yang menamainya."
Aku pikir namanya terdengar biasa.
"Kurasa latihanmu sekarang sudah selesai, mari pergi, istriku membuatkan makanan enak untuk kita semua."
"Ah ya."
Kami duduk layaknya sebuah keluarga.
"Mau tambah lagi Okta?"
"Tidak, aku sudah kenyang."
"Benarkah, kamu makan sedikit sekali, suamiku apa kamu melatihnya terlalu keras hingga nafsu makannya hilang."
"Kurasa tidak, orang normal memang makannya seperti itu."
Keduanya melirik ke arah Rider.
"Kenapa kalian melotot kepadaku, aku mengatakan hal sebenarnya kita yang makannya terlalu banyak bukan berarti buruk, aku senang melihat kalian yang bersemangat saat makan."
"Benar-benar."
Aku hanya tertawa ragu.
"Benar, besok sebelum latihan... Okta ikutlah denganku... aku akan mempertemukanmu dengan seseorang."
"Seseorang?"
__ADS_1
"Nanti juga tahu."
Aku bertanya-tanya siapa yang akan aku temui dan keesokan paginya aku tahu bahwa dia seorang wanita yang harus dirawat di sebuah tempat yang bernama rumah sakit.
"Tuan Rider, Anda datang berkunjung?"
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sedikit lebih baik, dokter bilang aku hanya harus tetap berada di sini satu bulan lagi."
"Syukurlah."
Kelihatanya wanita ini telah mengalami hal yang cukup mengerikan, beberapa tubuhnya harus diperban dengan kain putih.
"Namanya Elina.. ia sebelumnya merupakan mantan anggota militer."
"Mantan anggota militer?"
"Salam kenal."
"Sementara dia, namamu siapa yah?"
"Aku Okta petualang yang meminta bimbingan tuan Rider untuk melatihnya."
"Aku akan senang jika kamu mengatakannya dengan semangat," potong Rider.
"Itu salahmu sendiri tidak mengingat namaku."
"Singkatnya pria muda ini akan melawan malaikat yang telah membuatmu seperti ini."
Tunggu, bahkan petinggi militer seperti Elina sampai berakhir seperti ini. Seolah membaca ekspresiku Elina menjelaskan.
"Makhluk itu sangatlah kuat, sihir dan pedang tidak bisa melukainya. Terlebih, dia telah mencuri gerbang Solomon milikku, entah apa yang akan dilakukannya ke depannya."
Gerbang yang bisa mengeluarkan monster tanpa batas.
Membayangkannya membuatku merinding.
__ADS_1
"Tapi kurasa kamu belajar pada orang tepat."
Aku bisa melihat hidung Rider memanjang.
"Walaupun sebaiknya jangan tiru sifat tuan yang pengangguran."
"Aku tidak akan menirunya."
Rider menjatuhkan bahunya lemas.
Dari rumah sakit kami kembali pergi ke lokasi yang sebelumnya aku gunakan latihan, sekarang tingkat berikutnya aku akan dilatih menggunakan pedang.
"Aku akan menggunakan ranting ini, Okta bisa menggunakan pedangmu... silahkan, serang aku dari arah manapun."
"Aku mengerti."
Ini kesempatan bagus untuk melihat seberapa hebat ayah Yue. Aku menghentakkan kakiku menerjang maju, saat aku sadari tubuhku terlempar ke udara lalu jatuh ke tanah dengan keras.
Apa yang barusan terjadi?
Saking cepatnya mata dan tubuhku tidak bisa beraksi.
"Coba lagi."
"Baik."
Beberapa kali aku mencoba hasilnya akan tetap sama. Rider mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
"Aku tidak ingin mengatakannya tapi pedang jelas tidak terlalu cocok untukmu, kamu bisa menggunakannya sesekali tapi dalam pertarungan sesungguhnya antara hidup dan mati kamu akan kalah."
"Apa kelemahanku?"
"Kamu tidak memiliki niat pedang, setiap seniman pedang memilikinya tapi kamu tidak demikian, bisa dibilang itu semacam kecocokan terhadap pedang sendiri."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Aku sudah menduga hal itu karenanya aku memintamu berlatih jurus pukulan penghancur batu, aku akan mengajarimu seni bela diri martial art."
__ADS_1
Bagiku itu sebuah kata asing yang pernah aku dengar.