Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 65 : Pengguna Sihir


__ADS_3

Robin terkejut namun setelahnya dia bangkit kembali. Kila telah muncul di sampingnya memberikan berbagai tendangan cepat. Untuk mengatasinya Robin tidak pikir panjang melepaskan jangkarnya dan bertarung dengan sama-sama menggunakan tangan kosong.


Mereka bergerak dengan cepat, di tanah, di udara, hingga sulit untuk melihat bagaimana mereka bergerak.


Tanah di sekitar mereka meledak.


"Luar biasa," ucap Noel masih menunggu kesempatan.


Mereka saling memukul dan terlempar secara bergantian. Robin melompat ke udara kemudian menukik dengan sebuah pukulan kuat. Di sisi lain Kila dari bawah melakukan hal sama.


Kedua pukulan itu saling berbenturan terdistorsi menjadi sebuah ledakan besar. Kila ambruk ke tanah sementara Robin berdiri sembari babak belur.


"Pemenangnya tetap aku."


Saat dia mengutarakan hal tersebut ujung pedang sudah menembus tubuhnya.


"Mustahil, kau? Jadi ini yang kalian incar?"


"Aku menghindari organ vitalmu seharusnya kau akan baik-baik saja."


Pedang ditarik dari lengan Noel, sementara Robin tersungkur ke tanah.


"Sudah selesai."

__ADS_1


Noel hanya melihat Kila yang tampaknya telah tertidur.


Di sisi lain Yue yang bertarung dengan Zil masih memunculkan lingkaran sihir di sekitarnya, dia pertama menembakan bongkahan es disusul dengan api, air dan angin.


Zil di tempat lain mampu menghindarinya walau area di sekelilingnya telah menjadi lubang-lubang besar.


"Kau benar-benar hebat, tapi sihir sebanyak itu pasti lambat laun akan mempengaruhimu juga bukan, tidak ada manusia yang bisa menggunakannya selama itu."


Zil mengarahkan tangannya untuk memanggil lingkaran sihir dari celah-celah jarinya, dia mengeluarkan sebuah tombak yang meluncur dengan kecepatan tinggi.


Yue yang menyadari itu menciptakan lima lingkaran sihir pelindung, walau demikian kelimanya hancur satu persatu sebelum ujung tombak tersebut menggores sedikit pipinya.


"Sihirku adalah sihir penyimpanan, aku bisa menyimpan senjata apapun yang nantinya aku lemparkan seperti ini, tidak ada yang bisa melakukanya kecuali aku saja."


Es dibentuk menjadi sebuah tombak yang sama seperti sebelumnya dilempar lalu dilesatkan ke arah Zil, dia tidak bisa menahannya dan memilih memunculkan lingkaran sihir untuk menelannya seutuhnya.


"Aku tidak perlu repot-repot mencari senjata, sihir esku bisa dibentuk menjadi apapun yang aku mau."


Zil terlihat kesal lalu berlari untuk menghindari tombak lainnya yang dibuat oleh Yue.


Melihat Yue yang tiba-tiba sedikit menurunkan kekuatannya, Zil tersenyum kecil.


"Sudah waktunya."

__ADS_1


Ia mengeluarkan pisau lalu dari yang semula hanya menghindar berubah menjadi menyerang. Yue terduduk lelah karena penggunaan sihirnya.


"Akan aku akhiri, matilah."


Sebelum Zil bisa melakukannya tubuhnya terhenti lalu membeku secara perlahan.


"Kau, bagaimana bisa?"


Yue berdiri sebelum menjawabnya dengan santai.


"Debu es, saat senjataku hancur debu-debu itu berterbangan di sekeliling kita, aku hanya harus membuatmu mendekat lalu mengambil kesempatan tersebut seperti ini."


"Mengendalikan es sekecil itu... tidak masuk akal, bukannya kau pasti sudah kehabisan mana untuk melakukannya."


"Sayang sekali, tapi aku sejak awal tidak benar-benar menggunakan setengah dari kekuatanku.. manaku bahkan tidak berkurang banyak."


"Kau pasti monster."


"Terserah apa yang kau katakan tapi tetaplah diam di sana."


Seluruh tubuh Zil membeku seluruhnya, setelah dipastikan bahwa dia sudah pingsan Yue baru melelehkan esnya dengan mudah.


Dia menatap jauh selagi bergumam.

__ADS_1


"Apa yang lainnya baik-baik saja?" sebelum bergegas pergi.


__ADS_2