
Tepat saat kami berlari, dari balik pepohonan orang-orang berjubah bermunculan dengan senjata lengkap di tangan mereka, tidak hanya itu beberapa orang juga terlihat seperti penyihir.
Mereka tersenyum licik sebelum menembakan sihir ke arah kami semua, yang memaksa kami berlindung di belakang sihir es milik Yue.
"Mereka pasti dari guild kegelapan nyan, kita harus melawan mereka semua nyan."
Tidak diragukan lagi, seperti itulah yang harus kami lakukan saat ini. Aku mengeluarkan bom asap dari balik pakaianku.
Ketika aku lemparkan ke arah mereka, itu meledak yang menjadikan tanda untuk kami bergerak secara serempak, sebelum asap ini menghilang kami segera menerjang untuk menjatuhkan siapapun musuh kami.
Kila menggunakan pukulan dan tendangan.
Noel melalui tebasan pedangnya.
Marie menghantam mereka dengan bola besi.
Yue memilih menggunakan sihir es sementara aku menggunakan En tanpa mengeluarkan kekuatannya.
Mereka semua terbang ke udara sebelum tumbang di tanah, kami tidak membunuhnya melainkan hanya membuat mereka pingsan dan lalu Yue menggunakan sihirnya untuk mengikat mereka dengan tali.
Akan lebih baik jika kami memberikan mereka pada pihak militer untuk diadili.
Masing-masing dari kami berlari untuk melanjutkan perjalanan. Kila secara mengejutkan membentangkan tangannya untuk menghentikan kami.
"Ada apa?" tanya Noel.
__ADS_1
"Ada semacam jebakan di tempat ini."
Dia mengambil kerikil lalu melemparkannya ke tanah, tidak perlu menunggu lama sebuah ledakan tercipta melemparkan isi perut bumi ke udara.
"Hoh, kau menyadarinya juga."
Sebuah suara itu berasal dari seorang gadis kecil bernama Robin yang berdiri dengan jangkar di punggungnya.
"Jika menyangkut soal jebakan aku tidak mungkin tidak menyadarinya nyan."
"Jadi begitu, yah selanjutnya... aku sendiri yang akan mengalahkan kalian."
"Kalian pergi saja nyan, serahkan orang ini padaku, dia pasti sangat kuat."
"Satu lawan satu terlalu beresiko melawannya, Noel temani Kila, dan sisanya mari bergerak."
Kami bergerak memutar untuk melewati Robin, seperti yang aku duga dia tidak berusaha mengejar kami, jika demikian maka di depan pasti ada orang lain yang akan menghalangi kami dan itu memanglah tepat.
Di sana berdiri seorang pria bernama Zil.
"Aku sudah menunggu kalian, apa kalian semua akan langsung menyerangku."
Tentu jawabannya tidak, aku menyerahkannya untuk dihadapi oleh Yue. Dia adalah orang paling kuat di kelompok kami dan jelas hanya seorang diri ia mampu melakukannya.
"Serahkan padaku, kalian berdua pergilah."
__ADS_1
Aku dan Marie sekali lagi menerobos maju, yang menunggu kami terakhir merupakan pria mumi bernama Max, dia berdiri di sana di depan sebuah altar batu yang tiba-tiba naik ke atas lalu menembakan cahaya ke langit.
Cahaya itu menghantam gunung di mana naga legendaris tersegel dan secara perlahan mencoba mengikis keberadaannya.
"Aku sudah menduga kalian akan muncul, ketika gerhana matahari terjadi cahaya ini akan menjadi sangat kuat dan gunung itu akan lenyap sekaligus dan akhirnya kehancuran akan tiba ke dunia ini."
"Kenapa kau melakukan ini?" tanyaku demikian.
"Sudah jelas, demi menciptakan dunia baru... naga ini akan menghancurkan setiap wilayah manusia dan saat itu maka dunia ini bisa kami kuasai."
"Aku tidak ingin menyela, bukannya jika naga itu keluar kalian juga akan diserang," potong Marie.
"Aku tahu itu, namun skill Tamerku bisa mengatasinya. Singkatnya aku sendiri yang akan mengendalikan makhluk mengerikan ini dengan tanganku."
Max tertawa senang.
"Ini akan sulit Okta, ternyata dia juga penjinak."
"Iya."
"Bagi pengguna sihir pemanggil sepertiku itu bukan hal sulit."
"Kalau begitu kami akan langsung menghentikanmu di sini."
Aku dan Marie menerjang maju, sebelum kami sampai sesuatu telah muncul di dekat Max, itu adalah seekor kadal raksasa yang mampu menyemburkan api dari mulutnya.
__ADS_1
"Itu tidak akan mudah untuk mengalahkanku. Kalian diam saja dan lihat bagaimana kehancuran akan tiba."