
Zil mengarahkan ujung tangannya dan dari sana sebuah cahaya ditembakan. Aku yang langsung menyadari hal tersebut mengendong Kokoro sebelum melompat menghindarinya.
"Gerakan yang bagus tapi itu membuatku tidak bisa beristirahat."
"Jangan khawatir akan kubuat kau beristirahat selamanya," balasku demikian.
"Tujuanku hanya menghabisi siapapun yang aku temui, ini akan jauh lebih menarik dari sebelumnya."
Zil hendak bergerak namun dua orang telah muncul menghadangnya, yang satu merupakan pria yang seluruh tubuhnya tertutup perban layaknya mumi dan satu lagi wanita kecil yang menggunakan jangkar sebagai senjatanya.
"Hentikan Zil, kita sudah selesai di sini."
"Max dan Robin?"
"Yang dikatakannya benar, kontrak yang kita buat dengannya telah selesai dan kita tidak perlu membawa nama-nama dosa mematikan lagi."
Aku jelas tidak mengerti apa yang mereka coba katakan?
Orang bernama Max melihat ke arahku.
"Kami ini bukan dosa mematikan yang kalian pikirkan, kami adalah organisasi yang dinamakan Dragontail, yang menyewakan diri kami untuk kejahatan dan uang."
Aku menurunkan Kokoro lalu ia membalas.
"Dragontail adalah guild kegelapan, jadi kalian berusaha menghancurkan negaraku karena seseorang membayarnya."
"Benar, aku tidak tahu apa yang dia inginkan tapi ia hanya bilang kami harus melakukan ini, tujuan kami dengannya tidak jauh berbeda, jadi kami menerimanya."
"Kalian, orang-orang biadab yang bisa membunuh orang lain tanpa pikir panjang."
__ADS_1
Max mengangkat bahunya ringan.
"Malasnya."
Robin mendesah pelan atas pernyataan Zil.
"Hentikan itu, aktingmu menyebalkan."
"Ini sudah sifatku."
"Benarkah."
"Kalau begitu kami undur diri, sepertinya kita akan bertemu suatu hari nanti... yah, hanya firasatku."
Max meletakan tangannya di tanah dan lingkaran sihir muncul hingga mengeluarkan semacam burung yang mereka tunggangi dan hilang di udara.
Kokoro menjatuhkan dirinya dengan putus asa, bagaimanapun seluruh orang-orang di istana telah mati.
Beberapa saat kemudian kelompokku mulai bergabung dan aku menjelaskan semuanya.
Aku melihat Fel yang sedikit memucat jadi aku bertanya ke arahnya.
"Kamu baik-baik saja?"
"Tidak juga, kemampuanku telah disegel seutuhnya."
"Kemampuanmu?"
"Yah, bahkan sekarang aku tidak bisa mengajarimu apapun tentang sihir."
__ADS_1
"Tidak mungkin, lalu bagaimana soal latihanku?"
"Kurasa ada satu orang yang bisa melakukanya, jika mau kau bisa berlatih dengan ayah Yue."
"Apa ayahnya sehebat itu?"
"Benar, dia sangat hebat terlepas dari sifatnya yang pengangguran."
Aku sedikit penasaran bagaimana orangnya, tapi mengingat Yue bisa sehebat itu jelas sekaligus bahwa ayahnya adalah orang yang hebat.
Aku mengalihkan pertanyaan ke arah yang lebih penting.
"Jadi apa kamu tahu siapa orang yang melakukan ini semua?"
"Salah satu malaikat tinggi, dia memiliki kemampuan menghilangkan kekuatan musuhnya, dia adalah malaikat yang paling merepotkan."
"Malaikat berusaha menghancurkan satu negara."
"Banyak hal yang belum aku ketahui sayangnya sebelum aku mencoba, keadaanku sudah tidak akan memungkinkan mencari tahu, mungkin sekarang harapan bergantung padamu dan teman-temanmu saja."
Jika dia sampai mengatakan itu maka hal itu benar.
Fel menunjukkan pedang sucinya namun tiba-tiba pedang miliknya hancur menjadi serpihan kecil.
"Kenapa bisa?".tanyaku terkejut.
"Ini hanya pedang tiruan, saat tugasku selesai aku memang mendapatkan pedangku kembali hanya saja aku memutuskan untuk mencari penerus untuk memilikinya jadi aku menyimpannya di dalam dungeon di wilayah selatan, jika mau kau bisa pergi ke sana untuk mengambilnya, itu juga jika tidak ada orang yang menyelesaikannya."
Banyak hal yang terjadi sekarang, namun perlahan aku mengerti apa yang harus kulakukan.
__ADS_1
Malaikat dan juga Dragontail, dua hal yang tidak bisa aku lepaskan dari dalam kepalaku.