Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 66 : Satu Tebasan


__ADS_3

Marie mengikat tubuh kadal melalui rantainya, di saat yang sama aku telah menerjang ke depan untuk menebasnya, memenggal kepalanya ke udara.


Tubuh kadal terjatuh tapi hanya sesaat sebelum bangkit kembali sembari menumbuhkan kembali kepalanya, ia sudah terbunuh lima kali semenjak pertarungan ini dimulai.


Di sisi lain Max hanya memperhatikan dengan datar.


"Kau tahu sudah berapa banyak anggota guild kegelapan yang dihabisi oleh kesatria, lalu kenapa dari semuanya hanya aku yang masih bertahan. Jawabannya sederhana, karena akulah yang terkuat dari mereka."


Aku tidak menyangkalnya, walau hanya terbatas pada sihir pemanggilan orang ini adalah orang yang sangat kuat.


Kadal kembali menerjang, targetnya adalah Marie, aku segera melompat untuk membantu Marie menghindarinya, sebelum berlari ekor kadal menghantam tubuh kami sebelum akhirnya terbang menukik pepohonan. Bersamaan itu gerhana matahari muncul lalu melenyapkan gunung hingga raungan memekakkan telinga terdengar.


Gerhana ini hanya terjadi sebentar meski begitu itu sudah cukup untuk mengeluarkan naga legendaris, naga tersebut memiliki ukuran besar dengan dua kepala serta empat sayap.


"Akhirnya, impianku akan terwujud dengan ini. Datanglah kemari."


Max menciptakan sebuah lingkaran sihir raksasa di atas kepala naga legendaris, secara perlahan jatuh untuk mengikat tubuhnya.


"Kau akan jadi alatku yang berharga."


Mata kami hanya tertuju dengan apa yang terjadi selanjutnya, lingkaran sihir yang dibuat oleh Max hancur menjadi serpihan kaca.


"Mustahil?"

__ADS_1


Jika ada istilah jangan menyentuh kekuatan melebihi genggamanmu maka istilah itu akan lebih cocok dengan ini.


Naga itu meraung lalu mencabik tubuh Max menjadi potongan daging di udara sebelum akhirnya terbang.


"Gawat, jika kita biarkan makhluk ini akan merusak kota bahkan dunia," kata Marie.


Kadal yang sebelumnya kami lawan hendak menyerang kami namun sebuah bongkahan es lebih dulu mengurungnya kemudian hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu.


Seorang yang melakukannya adalah Yue dan yang lainnya juga mengikuti dari belakang.


"Kalian tidak apa-apa?"


"Tentu."


Kami membenarkan posisi kami.


"Tidak, jika kita tidak membiarkannya."


Tubuhku terselimuti cahaya menyilaukan.


"En?"


"Aku tahu, karena inilah sejak dulu aku menyimpan kekuatanku."

__ADS_1


Aku berniat menghabisi naga ini dengan satu tebasan. Aku meminta Yue menggunakan sihir petir membuat naga itu teralihkan pada kami kembali dan itu berhasil.


Dia melemparkan bola-bola api yang terbang ke arah kami.


"Kami serahkan sisanya padamu Okta," teriak Yue.


Sementara semua orang mundur menjaga jarak, aku sudah memegangi pedangku dengan dua tangan, mengangkatnya ke udara untuk menciptakan cahaya pedang yang menembus langit.


Sejak Fel menjadi pahlawan En sudah menyimpan kekuatannya sedikit demi sedikit, hanya dengan ini aku yakin kami memiliki kesempatan.


Naga legendaris mempercepat terbangnya, dia membuka rahangnya bersiap menembakan bola api yang jauh lebih besar.


Sebelum dia melakukannya pedangku telah dijatuhkan, hanya dalam waktu singkat itu bola api terbelah bersama dengan tubuhnya yang terpotong ke tanah.


Tak hanya itu, di mana bekas pedangku terayun menciptakan jurang tanpa dasar yang menyemburkan lava panas ke udara.


"Hebat sekali nyan, apa itu sebuah tebasan yang hanya bisa kita lihat satu kali seumur hidup nyan."


"Aku lebih memilih melihatnya satu kali saja."


Noel juga memiliki pemikiran sama, tepat saat tubuhku kehilangan cahayanya, aku jatuh ke tanah sembari menatap langit.


"Aku tidak bisa bergerak."

__ADS_1


"Tentu saja, selain aku harus mengeluarkan energiku... aku juga perlu energi dari luar untuk bisa mengeluarkannya, untuk sementara kau tidak akan bisa bergerak."


Paling tidak kami telah menghilangkan bencana mengerikan di dunia ini. Dengan bantuan Kila yang menggendongku kami akan kembali ke rumah kami.


__ADS_2