
Dengan pedang suci berada di tanganku maka penjelajahan dungeon ini telah selesai, kami melalui jalan sama untuk kembali.
Maksudku sama adalah sama-sama mengambil rute di mana kepala tengkorak itu berada, aku memegang pedangku dengan dua tangan dan itu secara otomatis mengaktifkan sihir suci.
Tubuhku diselimuti cahaya menyilaukan, dan ketika aku menjatuhkannya itu menciptakan garis tipis dari sebuah tebasan memotong monster tersebut setipis kertas lalu menghancurkannya dengan mudah.
Pedang ini menghasilkan kekuatan suci setinggi Arc Priest atau sebagainya. Setelah kekalahan monster tersebut para gadis mulai berlarian untuk menumpuk harta mereka.
Dengan kekayaan yang kami dapat, sudah cukup menjadikan diri kami sebagai bangsawan yang hidup bergelimang harta.
Aku tidak terlalu memikirkannya dan hanya kembali berjalan di tempat seharusnya.
Kami berkunjung di salah satu kota untuk menikmati banyak varian dari makanan yang dipamerkan di tempat ini.
Kila naik ke atas meja dengan paha sapi utuh di tangannya.
"Hari ini semua orang makan gratis nyan, kami yang bayar."
"Kau serius?"
"Tentu saja nyan."
Begitulah bagaimana caranya nama kami terkenal di wilayah selatan, sebelum hal buruk menimpa kami, kami segera melanjutkan perjalanan kembali.
***
__ADS_1
Itu adalah gerbang dari tembok perbatasan yang dijaga ketat di kedua sisinya, sebelumya aku menerima surat agar diperbolehkan kemari dan sekarang aku menunjukannya kembali.
Aku menjelaskan pada orang-orang di dalam sana tentang keberadaan Fenrir, setelah kekalahannya seharusnya gerbang bisa dibuka kembali namun perlu beberapa hari untuk melakukan penyelidikan agar mereka bisa percaya dengan apa yang aku katakan.
Pada akhirnya kami bermalam di tempat ini untuk beberapa hari ke depan.
Awalnya aku pikir peningkatan monster akibat Orifiel namun sejujurnya masih banyak faktor penambah juga, bisa dipastikan bahwa Orifiel tidak berusaha menyerang wilayah selatan.
Fokus serangannya adalah wilayah Utara, tapi apa yang sebenarnya dia incar? Hal itu masih misterius mengingat dia juga sedang dikendalikan.
Aku memasang wajah bermasalah saat menyadari Yue, Marie, Kila dan Noel berada di bak mandi yang sama, telanjang.
"Kalian kenapa ada di sini?"
"Tentu saja mandi, kami tidak ingin menunggumu jadi kami putuskan mandi bersama."
"Okta kamu sudah dewasa kan, kau mau melakukannya kan."
Aku ingin memukulnya kalau bisa.
Tapi biarlah, mungkin di dunia ini normal-normal saja anggota party mandi bersama walaupun Yue terlihat memaksakan diri karena wajahnya semerah tomat.
Aku melirik ke arah pedang yang aku simpan dipojokkan dinding.
"Aku baru memikirkannya, kenapa Fel lebih memilih menyimpan pedangnya di dalam dungeon dibandingkan membawanya?"
__ADS_1
"Sudah jelas karena ingin mencari penerus kan," balas Yue.
"Jika dipikirkan dia bisa menyeleksinya sendiri," tambah Marie mengambil inti dari apa yang aku bicarakan.
Tiba-tiba saja pedang suci bersinar menyilaukan, kami buru-buru menutup mata dan setelah cahaya itu lenyap seseorang telah berada di dalam bak kami.
Ia adalah seorang gadis dengan rambut perak serta memiliki telinga runcing, sekilas kami yakin bahwa dia seorang elf.
"Segar sekali, akhirnya aku bisa keluar dari dungeon."
"Ka-kau?"
"Perkenalkan... namaku En, aku adalah pedang suci."
"Pedang suci seorang gadis?"
Yue memiliki pendapatnya sendiri.
"Lebih tepatnya dia roh, aku bisa merasakannya."
"Pedang suci ternyata seperti ini, sangat mesum."
"Mesum apanya coba?" teriakku pada Noel.
Jika begini malah membuatku bingung.
__ADS_1
"Pertanyaan sebelum kenapa aku berada di dungeon karena aku yang memintanya, Fel tidak terlalu baik menilai orang jadi aku pikir aku akan memilih tuan baruku sendiri.. mulai sekarang aku berada dalam perawatan kalian semua."
Ternyata ada rahasia seperti ini juga.