
Selama beberapa hari kami habiskan waktu untuk merapihkan seluruh kekacauan di kota ini dan juga mengubur orang-orang yang telah meninggal.
Jika ada satu orang yang tidak bekerja maka dia adalah Cosetta, bahkan saat melawan dosa mematikan juga tidak melakukan apapun.
Dia hanya datang ke sini, menggiring kami ke tempat yang berbahaya sementara dirinya duduk manis dengan teh di tangannya.
"Ah, tehnya menetes ke dadaku, Okta tolong bersihkan dengan lidahmu."
Dasar gadis iblis, jelas aku tidak akan melakukannya walaupun itu sangat menggoda aku akan berakhir jadi budaknya.
Aku hanya memberikan sapu tangan padanya dan kembali membersihkan bangunan.
Marie, Kila, Noel, Yue berada jauh sedang menyiapkan makanan bersama yang lainnya. Tak lama Kokoro mendekat ke arahku.
"Tuan Okta, apa bisa kita bicara berdua?"
"Tentu."
Aku penasaran hal apa yang ingin dikatakannya, kami berdua berjalan-jalan sepanjang aliran sungai yang menenangkan.
"Terima kasih sudah membantu kami, harusnya aku memberikan hadiah pada kalian tapi..."
ekpresinya sedikit kecewa.
"Tidak usah dipikirkan, kamu perlu uang untuk membangun negaramu juga bukan."
"Iya, meski begitu aku merasa tidak enak jadi aku putuskan memperbolehkanmu menyentuh ekormu."
"Tidak, tidak, itu tidak usah...itu artinya jika aku menyentuhnya maka aku harus jadi suamimu."
"Anggap saja ini pengecualian, aturan itu terkadang aneh namun hal ini hanya diterapkan di kalangan kerajaan saja, jadi kalau sedikit tidak masalah."
"Kalau begitu."
Aku hanya menyentuh satu ekor dan meletakkannya di wajahku namun Kokoro sudah terengah-engah.
Apa-apaan ini? Apa menyentuh ekor sampai segitunya. Aku juga lupa seberapa lembut ekornya karena situasi yang terjadi.
__ADS_1
Dia terus mengeluarkan suara rintihan.
"Tidak masalah, silahkan dilanjutkan."
Ogah.
Hal ini jelas tidak baik untuk kesehatan mentalku.
Rasanya seperti aku telah melakukan tindakan tercela karena menyentuh ekor. Jika pun aku memiliki peliharaan aku pastikan untuk tidak menyentuh ekornya sama sekali.
Aku serius.
Setelah satu Minggu kami memutuskan berpamitan untuk meninggalkan wilayah demi-human, tempat ini sudah kembali indah walau begitu kami memiliki tujuan yang baru sekarang.
Ada sebuah jalan yang bisa membuatku menjadi pahlawan, meski sulit akan kulakukan dengan segenap kekuatan.
Kokoro dan Carot melambaikan tangan untuk mengantar kepergian kami.
Sesampainya di mansion semua orang terlihat bahagia, kami juga sudah berpisah dengan Fel maupun Cosetta.
Memang benar tidak ada tempat sebaik rumah sendiri.
"Baiklah."
Yue dan Marie keduanya telah pergi, Kila memutuskan untuk tidur sedangkan Noel langsung pergi lagi.
Aku bertanya dia akan pergi kemana? Dan ia mengatakan ia akan melihat panti asuhan. Aku sedikit penasaran jadi aku memutuskan ikut juga.
Di depan bangunan yang terlihat luas itu anak-anak mulai berlarian memeluk Noel, aku membantunya dengan membawa barang-barang.
"Kak Noel datang."
"Hore."
"Apa kalian merindukanku? Maaf kakak ada tugas jadi tidak bisa bisa datang kemari."
"Tidak apa, kakak bertugas melindungi semua orang dari orang jahat, kami mengerti."
__ADS_1
"Anak pintar."
Sepertinya Noel belum menceritakan bahwa dirinya sudah keluar dari kesatria, walau aku mengetahuinya aku tidak berniat mengatakan apapun soal itu.
Yang jelas aku tahu dia hanya menjaga harapan anak-anak ini.
"Aku membawa banyak makanan, silahkan ambil."
"Baik."
"Jangan berebut sebentar lagi yang lainnya akan dikirim kemari juga."
"Hore."
Aku dan Noel tersenyum dari kejauhan, bagaimanapun semua anak saling menunjukkan hadiah mereka. Ibu asuh yang seorang suster, membungkuk ke arah kami berdua sebelum meminta anak-anak untuk kembali ke dalam.
Matahari sudah terbenam jadi mereka harus berada di dalam rumah saat ini.
"Terima kasih Okta, kamu bahkan repot-repot membelikan banyak hadiah untuk mereka."
"Tidak masalah, kebetulan aku punya banyak tabungan."
Tabungan yang aku maksud adalah uang dari penjualan rumah sebelumnya.
Sejujurnya aku lebih terkejut dengannya yang bisa bertingkah normal.
"Mereka semua adalah korban-korban perang yang berhasil aku selamatkan, mengingat apa yang terjadi, aku selalu berharap tidak ingin ada perang lagi sampai kapanpun."
Aku juga merasa begitu.
"Semua orang sudah menunggu, kita juga harus pulang, makan malam hari ini apa yah?" tanya Noel.
"Katanya Marie akan membuat daging panggang spesial atau apapun itu."
"Benarkah? Aku harus segera pergi."
Noel langsung berlari sementara aku mengikutinya dari belakang. Hari ini memang terasa damai.
__ADS_1
Kalau saja suasana seperti ini bisa bertahan selamanya.