Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 43 : Menuju Lantai Terdalam


__ADS_3

Ketika naga sudah dikalahkan kami mulai menambang, tujuan kami hanyalah menguras semua yang ada di lantai ini tanpa tersisa sedikitpun.


Setiap permukaan berlian lebih rapuh dari yang aku pikirkan yang membuatnya semakin mudah untuk digali.


"Aku kaya nyan, nyan wahaha."


Kila tertawa seperti orang jahat.


Kami harus menyelesaikan semuanya secepatnya agar bisa segera kembali bergerak maju, kira-kira tiga hari lamanya kami berada di lantai ini.


Dari awal kami sudah menghemat waktu karena melewati jalan rahasia ke lantai 50, berapa lama pun waktu yang kami habiskan selanjutnya sudah tidak masalah.


"Okta?"


"Aku juga bisa merasakannya."


Dari celah-celah batu, ular-ular kecil bermunculan dengan jumlah yang sangat banyak. Itu cukup membuat orang menjadi jijik. Alih-alih melawannya kami memutuskan untuk menerobos maju.


Mereka juga bisa melompat ke arah kami.


Noel menggunakan perisainya untuk melindungi kami. Tak lama Marie jatuh.


"Tinggalkan aku, kalian pergilah... paling tidak kalian harus selamat."


Kila memberinya pukulan kecil di kepalanya.


"Berhentilah berdramatisir nyan, kita semua akan bergerak bersama nyan."


"Yah itu benar."


Kami semua dikepung oleh banyak ular, aku dan Yue mengulurkan tangan dan itu menciptakan bola api raksasa.

__ADS_1


Bahkan jika kamu tidak menembakannya, ular-ular tersebut segera kembali ke tempat mereka.


"Ular takut api ini sebuah pengetahuan umum," kata Yue bangga.


"Sia-sia saja aktingku barusan."


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu coba lakukan. Apapun itu yang jelas sesuatu yang aneh.


Di lantai 60 kami menemukan beberapa tanaman bercahaya, mereka seperti lumut dengan warna keunguan. Di dungeon ini banyak bebatuan bercahaya sebagai penerangan namun jika itu tanaman kurasa hanya di sini saja yang ada.


Ada genangan air yang bisa kami minum.


"Segar sekali nyan."


"Hm."


Kami semua menjatuhkan diri ke bawah karena kelelahan. Keheningan melanda kami saat sebuah suara menyadarkan kami semua.


Kami segera bangkit dan lalu mengitari sekeliling untuk memastikan suara tersebut. Tidak ada apapun.


Yue menyadari sesuatu dan menunjuk ke arah kolam.


"Ada sesuatu dari dalam sana."


Kami mengikuti arah yang ditunjuknya dan sesuatu melompat dari sana, itu adalah seekor ikan berwarna merah terang yang dapat berbicara.


"Halo, halo, apa kalian terkejut aku minta maaf."


Kila mendekat dengan air liur di mulutnya serta mata mengkilap.


"Ikan nyan, makan, makan."

__ADS_1


"Hiiii.. kenapa orang ini?"


"Hentikan Kila, tahan dirimu."


"Dia kelihatannya enak."


Bagi ikan kurasa kucing merupakan musuh alaminya.


Marie bertanya.


"Apa kau ini? Dan sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?"


"Seharusnya itu kata-kataku, aku adalah monster kurasa, dan di sini sudah jadi rumahku sejak awal."


Itu kemungkinannya memang benar. Aku melanjutkan.


"Kami perlu menuju lantai berikutnya, apa ada jalan yang bisa kami lalui?"


Ini adalah masalah kami sesungguhnya, di sini memang tidak terlalu banyak monster namun kami tidak menemukan jalan lagi.


Ikan tersebut diam memikirkannya selagi mengangkat setengah tubuhnya di atas permukaan air.


"Kurasa kalian bisa lewat air ini untuk lewat."


Singkatnya kami harus berenang.


"Tapi kalian manusia, kalian kemungkinan akan mati begitu saja karena kehabisan udara."


"Itu benar."


"Aku ingat ada seorang elf yang bisa melakukannya dengan mudah, di dalam sana ada sebuah ganggang yang bisa membuat seseorang bisa bernafas di dalam air, sebelum dia kehabisan nafas ia memakannya."

__ADS_1


Jelas sekali bahwa dia pastilah Fel.


__ADS_2