
Aku maupun Kila menutupi telinga kami bertepatan saat sebuah suara memekakkan menyerang gendang telinga kami.
Dari arah suara tersebut sesosok serigala kecil muncul.
"Apa? Kukira serigala dewasa, ternyata hanya hewan kecil."
Sekilas perkataan Marie terlintas di benakku.
Dia Fenrir.
"Jangan tertipu, dialah bos sesungguhnya!" teriakku demikian.
"Apa?"
Hanya dalam waktu singkat serigala kecil tersebut menunjukkan perubahan yang sangat jelas, tubuhnya terus bertambah besar bersamaan dengan cakar dan mulutnya yang berjeruji.
Kami benar-benar harus melawan makhluk seperti ini.
Sementara aku berfikir Kila sudah melakukan persiapan dengan setengah berjongkok seolah dia dalam pertandingan lari, dia menekuk lututnya.
"Ini dia, gerakan spektakulerku kecepatan kilat."
Wus, angin langsung berhembus bersamaan tubuh Kila yang meluncur bagaikan cahaya, serigala itu tiba-tiba saja terlempar seolah terkena sebuah meriam angin. Dia berguling beberapa kali di tanah sebelum tertahan di belakang pepohonan yang tumbang.
Kila masih bergerak dengan kecepatan tinggi, kecuali debu yang dia buatnya sisanya tidak terlihat.
Fenrir mengitari matanya memastikan dari mana keberadaan musuhnya.
Jangan bilang dia.
__ADS_1
"Kila?" aku memanggilnya namun terlambat, kaki depan Fenrir memukul tubuhnya hingga dia terlempar dengan kecepatan tinggi, menghancurkan pepohonan sebelum meledak setelah menabrak dinding batu.
Fenri berteriak ke arahku penuh permusuhan.
"Apa yang harus aku lakukan? Makhluk ini sangat kuat dan mengerikan, tidak... bukan waktunya berfikir, aku harus mengalahkannya dengan segala cara.
Aku terus menyeimbangkan nafasku, memfokuskan diri dan secara tiba-tiba di kedua tanganku api muncul.
"Berhasil."
Fenri sudah berada di depanku siap melahapku dengan mulut berjerujinya, aku tidak menghindarinya melainkan hanya memperkuat kuda-kudaku selagi menarik satu tinju ke belakang.
Ini adalah pukulan penghancur batu yang telah ditingkatkan dengan api.
"Rasakan ini."
Aku meninju udara dan Boom, sebuah gelombang kejut menyeruak dari tanganku, tubuh serigala tersebut hancur menjadi serpihan kecil bersamaan dengan jalur kawah panas yang menghancurkan satu gunung di belakangnya.
"Apa-apaan dengan pukulanku? Ini bukan lagi jurus penghancur batu, melainkan bencana."
Kila yang berjalan berjinjit juga merasa heran.
"Hebat sekali, satu pukulan melenyapkan semuanya."
Jurus seperti ini tidak bisa digunakan di dalam kota, akan buruk jika harus mengganti kerugian yang aku buat karena menggunakannya.
Kami berdua berkumpul kembali saat matahari mengintip dari pegunungan. Di depan adalah sebuah kota yang akan ditinggali keluarga Tora dan juga penduduk lainnya.
"Terima kasih berkat kalian kami bisa selamat."
__ADS_1
"Kami senang bisa membantu."
"Aku sudah berbicara dengan pemilik tanah, mereka diizinkan tinggal di kota dengan syarat mematuhi peraturan kota," tamban Yue.
Kurasa ini jelas perpisahan.
"Kalau begitu jaga diri kalian, semoga berhasil."
Aku melambaikan tangan pada mereka sebagai balasan.
"Serigala itu sangat menakutkan nyan, kakiku masih sakit nyan."
"Nanti juga akan sembuh, minyak ini sangat manjur," balas Marie selagi menunjukan produknya.
Berkatnya pergelangan Kila yang terkilir telah diperbaiki.
Noel mendesah pelan.
"Aku ingin tinggal di kota sementara waktu, apa kita tidak bisa tinggal di sana juga?"
"Lebih cepat lebih baik, bukan begitu Okta."
Aku mengangguk sebagai balasan terhadap pernyataan Yue.
Tidak ada alasan khusus. Namun, jika kami memanjakan diri di kota akan sulit saat kami masuk ke dungeon.
Ini hanya untuk membuat kami terbiasa saja.
Dari atas bukit kami bisa melihat sebuah menara tinggi yang menjulang ke atas langit, letaknya sendiri berada di kota yang besar.
__ADS_1
Di sanalah Dungeon Abyss berada, kataku dalam hati.