
"Jess!"
"Jess?"
"Jesslyn?"
Rumi langsung cemas saat Jesslyn tiba-tiba terdiam cukup lama. Wajah gadis itu berubah makin pucat seperti orang yang baru saja melihat kehadiran hantu.
"Kamu gak papa, 'kan, Jess?" tegur gadis itu untuk keempat kali. "Pertanyaan aku bikin perasaan kamu gak enak, ya?" tanyanya lagi.
Jesslyn mengangguk. "Aku emang udah gak haid dua bulan lebih, Rum! Tapi—"
"Nah, 'kan!" Andri berseru sambil menepuk bantal di samping Jesslyn. "Akhirnya ngaku juga dia! Sekarang coba jawab siapa yang ngehamilin kamu? Gak usah pura-pura malu, sekarang kita berdua udah keliatan sama-sama bejatnya, Jess!"
"Ndri! Bisa diem dulu gak?" Rumi melotot galak.
"Oke ... oke! Waktu dan tempat dipersilakan untuk Nona Rumi dan permaisuri Jesslyn tercinta!"
"Hmmm. Sialan kamu!" Atensi Rumi beralih kepada Jesslyn lagi. "Terus gimana, Jess?"
"Meskipun gak haid, tapi aku santai aja karena nggak pernah ngerasa ngelakuin hubungan kayak begitu, Rum. Kamu percaya 'kan sama aku? Kayaknya aku cuma lagi stress aja, maka dari itu menstruasinya telat."
__ADS_1
Bukannya langsung menjawab, Rumi malah mendesah dulu. Bagaimanapun juga Rumi lebih percaya fakta dibandingkan ucapan Jesslyn saat ini.
Ini bukan masalah haid, tapi hasil USG dan dua detak jantung yang Rumi dengar secara langsung itu masih terngiang-ngiang di telinganya hingga detik ini.
"Gimana ya, Jess? Tapi bayi di perut kamu nggak mungkin dateng sendiri! Coba kamu inget-inget lagi, dengan siapa aja kamu ketemu selama dua bulanan ini?"
"Aku nggak ketemu siapa-siapa, paling cuma digangguin Andri!"
"Eh, ko aku?" Andri menunjuk dirinya sendiri. Ia baru saja akan membela diri, tapi Rumi terlanjur mengalihkan atensinya pada pria itu.
"Ndri! Ini bukan ulah kamu, 'kan?" tanya Rumi dengan nada berseru yang tentunya berupa tuduhan.
"Ya engga, lah, Rum! Aku ketemu sama Jesslyn cuma dikampus doang. Kalau gak percaya tanya aja sama Jesslyn."
"Bukan dia, Rum!" sela Jesslyn.
Rumi memandang gadis itu dengan kening berkerut."Terus siapa, Jess?"
"Ngga tahu Rum! Mau kamu desak aku sampai mati pun aku nggak tahu siapa pelakunya! Terus terang aku nggak ngerasa ngelakuin kayak gitu, jadi sampai detik ini pun aku ngerasanya masih perawan."
"Ya ampun! Kenapa jadi gini si, Jess? Mana ada orang hamil masih perawan!" bentak Rumi saking kesalnya dengan situasi aneh tapi nyata ini.
__ADS_1
"Aku nggak tau Rum ... aku nggak tahu!" Jesslyn menangis. Air matanya mulai berderai perlahan, dan itu membuat Rumi seketika hancur dan tambah merasa bersalah pada gadis itu.
"Sorry ... sorry! Aku nggak bermaksud bikin kamu jadi tertekan kayak gini." Rumi menangkap kepala Jesslyn lalu memeluknya. Beberapa kali ia mengusap kepala gadis itu agar Jesslyn bisa kembali tenang.
Jesslyn sendiri memang menyadari bahwa dirinya sudah tidak menstruasi selama dua bulan ini. Namun, ia menganggap semua itu terjadi karena dirinya tengah dilanda faktor stress.
Mungkin sebelumnya gadis itu terlalu terpuruk pasca putus dengan Andri, jadi selama tidak haid, Jesslyn tak pernah berpikiran negatif sama sekali. Poin yang lebih penting juga gadis itu tak pernah merasa melakukan hubungan badan dengan siapa pun.
"Ok, begini saja, biar semuanya jelas, bagaimana kalau kita minta dokter untuk melakukan USG ke tiga? Biar kamu bisa melihat sendiri bagaimana hasilnya?"
Jesslyn mendongak lagi. "Tapi uangnya?"
"Aku yang bayar! Tapi kalau tes ketiga ini benar, kamu harus jelasin masalah ini ke aku gimanapun caranya!" tegas Andri.
Jesslyn mengangguk karena ia masih yakin kalau dirinya tidak hamil. "Tapi aku mau sekalian tes keperawanan juga. Aku yakin aku masih perawan!"
"Ok! Aku nggak masalah, bapak ku pejabat, tiap hari dapat komisi kalau atasan lagi korupsi," ucap Andri menyetujui.
Keduanya bersalaman pertanda setuju.
Setelah itu mereka bertiga kembali ke ruang USG untuk melakukan pemeriksaan ketiga. Dokter nyaris marah karena merasa di sepelekan, belum lagi Rumi yang kelelahan dan nyaris pingsan karena harus antri pemeriksaan untuk ketiga kali.
__ADS_1
***
Dorrr 😁