Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Kejar-kejaran


__ADS_3

Raven terus berlari menuju gerobak dagangnya. Keringat sebesar upil bayi terus membanjiri diri setelah ia berhenti lari. Ia membereskan semua uang uang hasil jiri payahnya hari ini ke dalam tas, lalu bergegas pergi sebelum disusul oleh Jesslyn.


"Bedebah!" gumam pria itu di sela-sela langkah kakinya menuju parkiran.


Raven benar-benar tak menyangka bahwa gadis itu masih ingat dengan wajahnya. Padahal Raven sudah menggunakan tehnik hiptotis tertinggi.


"Woi! Kang pisang, berenti kamu!" Suara Jesslyn menggema sampai ke telinga, mau tidak mau ia harus menghentikan langkah karena beberapa orang sudah melihat ke arahnya.


"Apalagi, Kakak? Pisang gorengnya udah abis," ucap Raven sengaja mencari alibi.


Jesslyn melotot. "Siapa yang mau pisang goreng kamu! Aku cuma mau kamu ngaku!" tandas Jesslyn. Semakin Raven berkelit, Jesslyn semakin yakin bahwa pria itulah yang membobol keperawanannya hingga kehamilan Jesslyn dianggap misterius oleh Rumi, dan fitnah jabelay oleh mantan pacarnya sendiri.


Karena beberapa pasang mata makin banyak melihat mereka, Raven pun akhirnya menarik Jesslyn agar ikut dengannya saja.


Ia membawa Jesslyn ke mobilnya.

__ADS_1


"Jangan sembarangan bicara! Aku ketemu kamu aja baru kali ini, mana mungkin aku hamilin kamu," bisik Raven lalu menutup pintu mobilnya.


Bukannya lanjut bicara, Jesslyn malah terbelalak. Sejenak pikirannya tidak fokus hanya karena mobil lamborgini yang baru saja ia masuki.


Ini engga salah ye, kan? Sejak kapan kang gorengan punya mobil lamborgini, batin Jesslyn. Ia segera menggelengkan kepalanya, berusaha membangunkan tingkat kewarasan dan mengosongkan matanya dari lambang dolar yang berkilat-kilat.


"Tapi aku masih inget banget sama muka kamu! Orang ganteng yang ... eh, maksudnya cowok jelek gak tau diri yang nidurin aku secara sembarangan di pantai itu kamu?"


Mendengar kata jelek, Raven refleks tidak terima. "Siapa yang cowok jelek? Waktu itu kamu bilang sendiri kalo aku pangeran tam—" Plak! Raven menampar mulutnya seketika.


Raven membeku. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Niat hati ingin membunuh Jesslyn, sekarang malah ia yang terbunuh oleh kata-katanya sendiri.


"Kali ini kamu nggak bisa berkelit ya! Kamu pelakunya ... kamu orang jahat itu," maki Jesslyn makin jadi. Ia hendak menampar Raven, tapi buru-buru pria itu menahan tangannya.


"Memangnya kenapa kalau aku pelakunya?"

__ADS_1


"Kenapa?" Mata jengah Jesslyn menatap tak percaya. Bagaimana bisa ada orang tidak tahu malu seperti ini, pikir Jesslyn dalam hati.


"Dasar cowok gak tahu diri! Aku pikir mantanku adalah cowok paling bejat sedunia, ternyata ada yang lebih bobrok dari andri!" pungkas Jesslyn sambil melotot. "Hei tukang gorengan, gara-gara kamu aku kehilangan masa depan aku. Aku udah gak perawan, aku hamil! Kamu mikir gak sih?"


"Siapa suruh waktu itu kamu tidur di tepi pantai sembarangan," balas Raven sekenanya. Hal itu membuat Jesslyn marah, ingin memukul, tapi kedua tangan Raven terus memegangi pergelangan tangannya.


"Sekarang kamu mau apa? Mau aku tanggung jawab?" tanya Raven lagi. Ia terpaksa mengatakan ini karena tidak ada pilihan lain. Segala rencana yang ia susun dengan Naspati gagal total, jadi Raven terpaksa harus membuat rencananya sendiri.


"Kok malah diam?" Raven kembali bertanya untuk kesekian kali.


Jesslyn sendiri masih diam. Ia juga belum kepikiran dengan apa yang harus ia lakukan saat bertemu ayah dari bayi di dalam perutnya.


***


Hallo, aku kangen banget sama kalian gengs..... Peluk jauh dari Ana yang abis sakit dan jatuh bangun untuk sembuh. 😭

__ADS_1


__ADS_2