
Rumi membeku.
Ia baru sadar bahwa kekacauan yang terjadi hari ini akibat ulahnya sendiri. jelas-jelas ia adalah biang keladi tapi tidak sadar dari tadi.
Jika ia tidak mengadu soal kehamilan Jesslyn pada orang tua gadis itu, Jesslyn jelas tak akan menemui masalah pada hari ini.
"Aduh, Jess! Sorry banget aku ngelakuin ini tanpa izin kamu! Tapi terus terang aja, aku ngelakuin ini karena aku gak mau liat kamu menderita gara-gara bayi itu."
"Terus sekarang kamu pikir aku bahagia? Di mata kamu aku gak menderita?" kesal Jesslyn. Perkataan Jesslyn sukses membuat Rumi makin tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi, beras sudah terlanjur menjadi nasi, kalau tidak segera dinikmati akan segera basi.
"Jadi gini loh, Jess! Aku ngadu ke orang tua kamu itu biar biar ke depannya kamu dan bayi itu keurus. Terus terang aja aku gak tega liat kamu sakit-sakitan belakangan ini. Bahkan dalam waktu seminggu kamu cuma masuk kuliah satu kali," ujar Rumi. Merasa tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi.
Gadis itu berkata, "Menurut aku, orang tua kamu tau sekarang atau nanti sama aja, Jess! Cepat atau lambat mereka akan tahu soal kehamilan itu, jadi lebih baik aku percepat sekalian agar kondisi kamu lebih terkontrol."
"Tapi seenggaknya kamu konfirmasi dulu lah, Rum! Kalo kayak gini caranya aku kan jadi bingung." Jesslyn menghelakan napas.
__ADS_1
Jujur untuk saat-saat ini ia belum siap menceritakan kehamilannya pada siapa pun. Bagi Jesslyn Rumi terlalu lancang. Kalau tidak ingat dia adalah teman dekatnya, mungkin Jesslyn akan meninju gadis itu sampai behel di giginya copot.
"Maaf Jess! Untuk yang satu itu aku ngaku salah. Tapi percayalah ... aku ngadu kayak gini semata-mata karena aku peduli."
Digenggamnya tangan Jesslyn hati-hati. Dengan tulus gadis itu mengucapkan maaf untuk kesekian kali.
"Sekali lagi maafin aku, Jess! Aku tahu kamu marah sama aku! Tapi aku harap kamu bisa mengerti dan paham dengan apa yang aku maksud tadi," ucap gadis itu.
Jesslyn tak bisa berbuat apa-apa lagi jika Rumi sudah memelas seperti itu. Mereka pun berbaikan kembali. Untungnya Jesslyn masih bisa berpikir logis. Ia tidak memusuhi Rumi hanya karena gadis itu menjadi tukang ngadu.
*
*
*
__ADS_1
Jesslyn melayangkan kalimat protes setelah Rumi kembali membujuknya untuk menemui Raven.
"Menurutku kamu tetap harus bilang jujur apa adanya, Jess! Dengan begitu kamu juga bisa sekalian menilai sikapnya, pantas atau tidak anak itu jadi ayah dari anak kembar kamu nanti."
"Tapi aku malu, Rum! Mau ditaruh di mana muka aku kalo kesana sampe dua kali?" Lagi-lagi kalimat penolakkan itu keluar dari mulut Jesslyn. Ia benar-benar ogah jika harus mendatangi Rumah Raven lagi.
Bagaimana jika dugaannya benar?
Raven bukan orang sembarangan. Ia adalah ketua mafia yang kebetulan sedang menyamar jadi tukang gorengan. Ah, membayangkan itu saja sukses membuat gadis itu merinding ketakutan, apalagi jika harus menemui pria itu di dalam sarangnya.
Menurut Jesslyn hal itu terlalu beresiko untuknya.
"Gak deh, Rum! Gue gak bisa kayak gitu!" Kepala gadis itu menggeleng.
"Ya udah kalo gak bisa. Berarti siap-siap aja kamu dinikahin Andri. Biasanya kalo si cewe udah hamil duluan, pasti kedua orang tua langsung nentuin tanggal pernikahan," ujar Rumi.
__ADS_1
"Ya nggak bisa gitulah, Rum! Kalo aku nggak mau nikah sama dia gimana? Masa iya harus dipaksa?"
"Kalo ada bayi pasti dipaksalah, Jess!"