
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Raven. pria itu benar benar terkejut dengan apa yang baru ia dapatkan baru saja.
"Kenapa kamu malah nampar aku?"
"Itu adalah ganjaran untuk cowok kurang ajar kayak kamu!" tandas Jesslyn dengan mata berapi-api. Raven mendengkus, ia tak terima dan langsung membalas tamparan Jesslyn saat itu juga.
Plak!
"Ka ... kamu?"
Kini giliran Jesslyn yang lebih tidak percaya dengan apa yang dia alami barusan. Berani-beraninya Raven menampar seorang perempuan. Apalagi perempuan itu adalah Jesslyn, wanita yang tengah mengandung anaknya, mengandung darah dagingnya.
"Tamparan tadi itu juga ganjaran buat kamu! Kalo kamu gak buang botol bekas kamu ke laut sampe kena kepalaku, mana mungkin aku ngelakuin hal kaya gitu! kamu tahu engga, kepalaku sampai berdarah gara gara botol yang kamu buang pecah di kepala aku," tandas Raven tak mau kalah ironi dalam menjelaskan kronologi.
Jesslyn tak kehabisan kata, sambil memegangi pipinya yang agak merah, ia menatap Raven ganas. "Aku tau aku salah, tapi engga dengan cara seperti itu juga kamu bales aku cowok sialan!Mana ada orang buang sampah sembarangan yang diperkosa!"
__ADS_1
"Ya ada, itu kamu!" balas Raven ketus.
"Ikhk!" Jesslyn mencubit lengan Raven saking kesalnya. "Dasar kang gorengan gak punya otak!" maki Jesslyn.
Andai kasusnya sekarang dilaporkan ke polisi, mungkin mereka akan tertawa lantaran Jesslyn diperkosa dengan alasan telah membuang sampah sembarangan.
"Lagi pula, kamu juga kurang kerjaaan. Ngapain coba kamu mandi malam-malam di tepi pantai? Lagi ngelakuin ritual pemuja paus, lo?" Jesslyn bertanya sambil menaikkan sebelas alisnya.
Untungnya ia tidak lupa saat dirinya membuang botol bekas minum itu ke arah laut, jadi Jesslyn bisa beranggapan kalau Raven memang sedang mandi di tepi pantai.
"Aku mau ngapain juga bukan urusan kamu ya! Yang jelas kamu itu perusak alam. Kelakukan kamu gak bisa dimaafkan," jelas Raven.
Saking emosinya, Jesslyn menonjok kaca depan mobil hingga Raven sedikit mengerjap kaget. "Bilang aja kalo kamu emang cowok kegatelan, main asal sosor aja bisanya! Gak usah bawa-bawah soal buang sampah sembarangan deh, gak nyambung bego!"
Raven mendengkus. "Terserah kamu mau ngomong apa, tapi itu emang alasan kenapa aku perkosa kamu malam itu!"
Dua puluh persen karena buang sampah. Delapan puluh persennya lagi karena Raven penasaran seperti apa rasanya tubuh manusia.
__ADS_1
"Hmmm." Jesslyn melipat tangannya di depan dada. Meski belum tahu hendak berbuat apa, setidaknya sekarang kehamilannya tidak ganjal karena ada bukti tindak pelaku. Jesslyn juga sudah mengantongi sebuah rekaman di mana Raven telah mengakui segalanya, jadi ini bisa dijadikan senjata jika ia membutuhkan suatu hari nanti.
"Terus kalau udah begini, sekarang kamu mau apa?" Raven bertanya setelah beberapa saat saling diam.
"Bawa aku ke keluarga kamu! Aku mau ngomong langsung ke orang tua kamu kalo anaknya udah ngehamilin anak orang sembarangan!" ucap Jesslyn bengis. Hal itu membuat Raven bingung karena ia tidak mungkin membawa Jesslyn ke laut dalam keadaan begini.
Ia harus menyusun rencana, agar Jesslyn bisa sampai di tengah laut tanpa curiga. Lalu dengan begitu Raven bisa menceburkan Jesslyn dengan leluasa hingga gadis itu mati.
"Aku enggak punya orang tua, aku punyanya Kakak!" kata Raven pelan.
"Kalo begitu bawa aku ketemu sama Kakak kamu."
"Terus kalo udah ketemu Kakak aku mau apa?"Raven bertanya karena penasaran. Sejujurnya ia juga ingin tahu apa yang ada di pikiran Jesslyn saat ini.
"Ya aku mau ngomong. Mau minta uang yang banyak biar aku bisa ngurusin anak ini."
"Kamu mau aku nikahin kamu?" tanya Raven.
__ADS_1
"Nikah?" Jesslyn memicingkan matanya. "Siapa juga yang sudi nikah sama cowok modal tampang kayak kamu?"