Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Sudah Deal


__ADS_3

Raven tak mampu berkata-kata lagi ketika Rumi memutar bukti kejahatan lelaki itu lewat sebuah rekaman percakapan.


 Tak menyangka, benda elektronik berbentuk persegi panjang itu bisa membuat ia semakin ketangkap basah dan tak bisa lari dari kenyataan itu. Lewat rekaman itu, siapa saja bisa tahu kalau Ravenlah yang telah menghamili Jesslyn.


Ternyata daratan lebih menyeramkan dari megalodon, batin Raven dalam hati. Tadinya ia selalu berpikir bahwa megalodon adalah monster yang paling menakutkan. Ternyata dugaannya salah, saat ini Jesslyn dan temannya itu adalah monster darat yang paling menakutkan di matanya.


"Bagaimana … apa Anda masih belum percaya pada kami, Tuan Naspati?" Rumi kembali bicara setelah beberapa saat memberi ruang untuk Naspati berpikir.


Naspati menghela. Beberapa kali ia melotot ke arah Raven sambil mendengus sebal.


"Aku percaya, dan aku akan segera menemui orang tua Jesslyn agar Raven bisa segera menikahinya."


"Hei! Tunggu … tunggu! Keputusan macam apa ini? Siapa yang mau menikah dengannya?" Raven menunjuk geram Jesslyn wajah Jesslyn.

__ADS_1


"Kamu sudah menghamili anak orang Raven, tentu saja kamu harus bertanggung jawab terhadap wanita ity" ucap Naspati sambil berkedip. Entah kemana pikiran anak satu itu. Ia sama sekali tak bisa diajak kompromi ataupun bersandiwara di depan bangsa manusia.


"Bukan begitu maksudku, Kak. Sudah kubilang tadi Jesslyn sendiri yang berkata tidak sudi menikah denganku, kenapa sekarang malah aku jadi disuruh tanggung jawab? Bukankah itu namanya menjilat ludah sendiri?" ujar lelaki itu. Kata-kata Jesslyn masih melekat kuat di otak Raven. Jelas ia tak akan melupakan kalimat pedas itu begitu saja.


"Benar kamu berkata begitu pada Raven Jesslyn?" 


Jesslyn langsung tertunduk.


 "Iya …." Gadis itu menjawab dengan suara lemah.


"Awalnya Jesslyn memang tidak berniat meminta tanggung jawab. Tapi sekarang keadaannya gawat. Orang tua Jesslyn sudah mengetahui bahwa Jesslyn sedang hamil. Dan dia akan dinikahkan dengan pria lain jika tak segera membawa calon suami."


"Bagus dong, kalau begitu aku tak perlu tanggung jawab!" celetuk Raven. Semuanya menoleh pada pria itu.

__ADS_1


"Apa aku salah bicara?" kata Raven sembari menunjuk diri sendiri. Ekspresinya yang polos sangan mendukung. Mencerminkan betapa bodohnya duyung satu itu ketika tidak berada di wilayahnya.


"Maafkan kelakuan adikku. Dia hanya bercanda. Kami pasti akan segera menemui orang tua Jesslyn. Tinggalkan saja alamat rumah orang tua Jesslyn dan nomor kalian agar kami bisa menghubungi suatu waktu," kata Naspati. Terlihat sungguh-sungguh saat lelaki itu bicara.


"Apa Anda serius? Bagaimana saya bisa yakin kalau kalian berdua sedang tidak membohongiku?" tanya Rumi penuh penekahan. 


Lagi-lagi Naspati menghela pelan. "Kalian berdua bisa langsung membawa Raven se sebagai jaminan. Kami minta waktu sehari, besok kami akan datang ke rumah orang tua Jesslyn."


Apa-apaan duyung jomlo ini? Kenapa dia jadi semena-mena dalam mengatur hidupku?


Raven kembali bermonolog dalam hati. Ia tak bicara, tapi dua tangannya yang mengepal lebih dari sukses menggambarkan amarahnya saat ini.


Ia jengkel dengan keputusan Naspati barusan. Bagaimana bisa, seorang duyung menikah dengan bangsa manusia?

__ADS_1


Itulah yang ada di pikiran Raven saat ini.


"Baiklah! Aku harap Anda tidak main-main dengan janji yang sudah kadung terucap. Terima kasih telah mempersilakan kami untuk menjelaskan." Rumi mengajak Jesslyn berdiri. "Kalau begitu kami permisi dulu."


__ADS_2