Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Terminal Laut


__ADS_3

Setelah berpamitan pada Ayahanda dan Ibunda, Raven dibawa pergi oleh Naspati—pengawal yang selama ini selalu menjaga Raven kemanapun pangeran duyung itu pergi.


Tak hanya Raven, Naspati juga ikut disalahkan dalam kasus ini karena Raven bisa sampai lolos dari penjagaannya hingga naik ke pesisir pantai. Maka dari itu Naspati sengaja diutus oleh Baginda Raja untuk mengontrol kegiatan Raven selama berada di daratan.


"Makan ini!" Naspati memberikan sebuah daun yang sudah ia remas dengan tangan terlebih dahulu.


"Untuk apa?" Tentunya Raven menatap curiga. Ia hanya memandang jijik daun remasan itu di tangannya—tanpa berniat ingin memakan sama sekali.


"Itu adalah daun ajaib, jika kau tidak makan itu, kau tidak akan bisa berinteraksi dengan bangsa manusia."


"Ah, jadi daun ini untuk berinteraksi dengan manusia!" Setelah mengucapkan itu, Raven mengunyahnya tanpa ragu.


"Iya! Bahasa yang digunakan manusia berbeda dengan kita. Nanti aku akan mengajarimu, meskipun sudah makan daun itu kau tetap harus mempelajarinya."


"Cih! Percuma pula aku makan daun tidak enak ini!" Raven mendengkus.


Setelah itu mereka naik ke permukaan. Sinar matahari yang selama ini hampir tidak pernah Raven lihat mulai menyoroti tubuh Raven. Pria itu sedikit terkesima dengan hangatnya air di atas permukaan.

__ADS_1


Kerajaan bawah laut memang terletak di sebuah palung yang sangat dalam. Gelap dan tak pernah dijangkau oleh manusia sama sekali—meskipun begitu, duyung dan para ikan memiliki penglihatan khusus sehingga mereka dapat melihat jelas isi di dasar laut yang sangat indah dan menakjubkan.


"Setelah ini kita mau ke mana?" tanya Raven penasaran.


"Kita di sini saja. Ini adalah terminal ikan lumba-lumba. Sebentar lagi kawanan lumba-lumba akan datang, jadi kita tidak perlu susah-susah berenang untuk sampai ke daratan."


"Ah jadi di sini terminal kawanan lumba-lumba? Tahu begitu aku kemarin ke sini saja. Siripku hampir patah karena dipaksa berenang sejauh itu," kesal Revan yang tiba-tiba teringat pada kejadian malam itu.


"Huh. Makanya jangan melanggar aturan kerajaan laut! Kalau sudah begini kau sendiri yang repot juga," ketus Naspati.


"Cih! Sudah terjadi baru menyesal kau. Andai kau tidak melanggar aturan laut aku 'kan tidak perlu repot-repot begini." Naspati berdecih malas.


Pengawal yang satu itu memang sudah seperti teman untuk Raven. Jadi selama tidak di dalam kerajaan, mereka akan terlihat seperti teman di mana Naspati tidak perlu memanggil Raven dengan sebutan pangeran.


"Tapi sebenarnya kau sudah mendapat sinyal dari bayi yang ada di perut bangsa manusia itu, 'kan?" tebak Naspati.


"Hmmm. Aku tidak akan menutupi apa pun darimu," ucap Raven malas basa-basi.

__ADS_1


"Sudah kutebak! Lalu apa rencanamu berikutnya?" tanya Naspati tampak begitu serius. Pasalnya masalah ini memang bukan masalah sepele karena menyangkut DNA manusia dan duyung. Meskipun Raven adalah duyung dengan tubuh setengah manusia, DNA mereka tetap saja ikan! Ikan ajaib yang memiliki kemampuan khusus lebih tepatnya.


"Aku juga tidak tahu. Yang jelas aku tidak bisa membunuh bayi itu," kata Raven terlihat berat dan sedih.


"Ya sudah tidak masalah! Jika kau tidak bisa, kau cukup tunjukkan saja di mana perempuan itu berada, selanjutnya biarkan aku yang membunuhnya."


Sontak Raven melotot penuh ancaman. "Berani kau menyentuh calon anakku sedikit saja, aku tak akan segan membunuhmu."


"Hei!" Naspati tertegun. "Jangan bilang kau ingin?" Dia diam sejanak.


"Argh, sial!" Naspati menggeram. "Jangan bodoh Raven! Mau bagaimana pun baginda raja tidak akan memperbolehkan bayi itu lahir. Kau pasti mengerti tanpa harus diperingati."


"Kau tidak mengerti bagaimana perasaan seorang Ayah! Awalnya aku juga tidak peduli pada bayi di perut wanita itu. Mau dia hidup atau mati aku tidak peduli. Tapi setelah hatiku bisa merasakan kehadirannya, panggilannya setiap saat, aku jadi tak tega jika bayi tidak bersalah itu harus dimusnahkan akibat kesalahan orang tuanya."


"Tapi Raven!"


"Bantu aku mempertahankan bayi itu!" mohon Raven pada Naspati. Duyung tampan itu seketika menggeram.

__ADS_1


__ADS_2