
"Ko bisa gitu?" Kini giliran Jesslyn yang dibuat melongo tidak percaya. Pandangannya menjurus murka pada pria yang ada di belakang Rumi.
Jantung gadis itu berdetak kecang saat Raven tiba-tiba kabur tapi ia tak bisa menahan kepergian pria itu lantaran masih dipegangi oleh Rumi.
"Woi, jangan kabur kamu!" teriak Jesslyn hingga memekakan telinga. Gara-gara Rumi, kini Raven sudah kabur dan ngacir entah ke mana.
"Sabar dulu, Jesslyn! Jangan menghadapi sesuatu dengan emosi."
"Tapi dia kabur, Rumi! Kalo dia gak salah gak mungkin dia ketakutan sampe kabur begitu!" Jesslyn terus meronta-ronta.
"Makannya dengerin penjelasan aku dulu! Emosi gak akan bisa nyelesein masalah, dongo!" tahan Rumi merasa gemas sendiri. Hal itu membuat Jesslyn menaikan sebelah alisnya sambil menatap sinis kepada gadis itu.
"Penjelasan apalagi, Rumi? Semuanya udah jelas banget. Sekarang aku udah inget cowok yang merkosa aku itu dia! Jadi yang aku ceritain ke kamu itu bukan mimpi. Aku emang abis diperkosa sama laki-laki itu!"
__ADS_1
Rumi mendesahkan napasnya berat. Pasalnya sikap Jesslyn kali ini terlalu gegabah. Ia tidak memiliki bukti, tapi berani menuduh orang sembarangan.
"Begini Jess, tadi aku maksa pedagang gorengan itu untuk bikinin pisang goreng buat kamu. Aku bilang kalo itu pesenan dari wanita hamil, dan mungkin dia mikirnya kamu yang hamil karena dia tau kalo aku temen kamu. Apalagi tadi kamu sempet nuduh dia merkosa kamu, jadilah dia tau kalo lagi hamil. Paham?!"
Jesslyn membulatkan matanya lebar-lebar sebelum dahinya mengernyit bingung. "Tapi aku yakin banget kalo dia cowok yang hadir di mimpi aku pada malam itu Rum. Mungkin waktu itu aku terlalu mabuk, jadi aku ngerasa kejadian itu kayak di mimpi.
"Hmmm. Andaikan cowok itu pelakunya sekali pun, kamu tetep ga bakal bisa menang karena kamu gak punya bukti apa-apa, Jess! Kamu tahu sendiri 'kan orang di negara Wakanda kayak gimana? Apa pun keadaannya mereka akan cenderung menyalahkan kita atas nasib buruk yang kita alami! Jadi kalo kamu diperkosa terus sampai kedengeran ke sana-kemari, di mata orang tetep kamu yang salah! Apalagi kalau kamu berani nuduh tanpa bukti, itu bisa menjadi bumerang tukang gorengan tadi buat ngejatuhin harga diri kamu. Yang ada dia menang, dan kamu menderita atas kejahatan yang dia lakukan." Rumi menelan ludahnya. Terlalu banyak bicara membuat tenggorokannya terasa serat.
"Selidiki pelan-pelan Jess, jangan asal menuduh dulu. Negara kita itu negara hukum. Kalau udah ketahuan cowok itu yang perkosa kamu, barulah kamu tembak apa bacok kepalanya sekalian!"
"Itu sama aja oncom! Yang ada aku melahirkan di penjara gara-gara kamu!" ketus gadis itu.
"Bercanda Jesslyn. Intinya kamu harus sabar. Sekarang kamu minta maaf, bilang kalau semua ini hanya salah paham!"
__ADS_1
"Caranya gimana?" tanya gadis itu bingung.
"Ya kamu samperin aja orangnya. Kalau bisa rogoh hatinya dia. Bilang aja kamu lagi tertekan karena hamil tanpa suami. Terus abis itu kamu liat gimana reaksinya. Kalau keliatan kaya orang bersalah, kemungkinan besar dia pelakunya."
Jesslyn mengangguk paham. "Jadi aku harus pura-pura deketin dia ya? Jadi teman misalnya?"
"Betul! Kita buat dia ngaku dengan sendirinya. Itu baru pretty savage, paham?"
"Okelah! Kalo gitu aku susul dulu kang gorengan itu. Siapa tau dia belum pulang."
"Good luck, Jess!" Rumi mengedipkan sebelah matanya.
Akhirnya masalah Jesslyn hari ini teratasi.
__ADS_1