Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Jesslyn Langsung Mengenali


__ADS_3

Hamil tiba-tiba tanpa tahu siapa pelakunya jelas membuat Jesslyn harus berpikir keras hampir setiap hari. Sering ia kesulitan tidur hanya karena memikirkan masalah gila ini.


Pelan-pela, ia pun mulai berusaha mengingat-ingat. Dengan siapa saja ia berinteraksi selama tiga bulan ini. Siapa saja pria yang ia temui. Siapa saja tersangka yang cocok menjadi pelaku utama. Bahkan, gadis itu tak tanggung-tanggung berpikir mantan pacarnya Andri adalah pelaku kejahatan utamanya.


Jesslyn sempat mengira bahwa pria itu sengaja memberinya obat mabuk hingga ingatanannya hilang. Lalu dengan kejinya pria itu memperkosa Jesslyn sampai hamil.


Namun, sebuah ingatan aneh muncul di kepalanya perlahan. Jesslyn teringat kejadian saat di pantai kala itu, saat ia memimpikan percintaan panas dengan seorang pria tampan yang tak dikenalnya.


Di titik ini ia nyaris gila karena kesulitan membedakan antara mimpi dan kenyataan. Di sisi lain Jesslyn merasa itu adalah mimpi erotis biasa, tapi di sisi lain, rasa nikmat yang ia rasakan pada malam itu benar-benar nyata.


Jika itu hanya sekadar mimpi, lalu kenapa efeknya sampai berhasil tekdung begini? Apa iya, dia hamil anak jin seperti cerita horor?


Jesslyn juga sempat berpikir bahwa ia hamil anak jin penunggu laut. Mungkin dia telah melakukan kesalahan fatal karena mengganggu penghuni di pesisir pantai tersebut, dan ia mendapatkan karma hamil misterius.


Ah, sial!

__ADS_1


Jesslyn benar-benar buntu!


Di tengah-tengah kebuntuan itu sendiri, setitik caha muncul tanpa sengaja. Jesslyn tiba-tiba ingin sekali pergi ke kantin dan melihat seperti apa stand pisang goreng madu viral tersebut. Ia pun melangkahkan kakinya perlahan menuju tempat itu.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Jesslyn saat ia dan Raven saling berhadapan. Dalam sekali lihat, ia hafal betul bahwa pria yang ada di depannya ini adalah pria yang ada di mimpinya malam itu. Pria fatamorgana yang selama ini Jesslyn pikirkan setiap hari, kini tepat berada di hadapannya.


"Ka ... kamu?" Jesslyn mendekat. Ia perhatikan wajah itu lekat-lekat.


"Jess, kamu mau ngapain?" Rumi yang berpikir Jesslyn sedang terpesona seperti adegan di film-film langsung menarik baju anak itu hingga kancing atasnya copot.


"Apaan si, Rum!" Jesslyn kembali mendekat. Ia perhatikan wajar Raven sekali lagi dengan cermat.


Apa dia masih ingat dengan wajahku, batin Raven dalam hati.


Keringat sebesar upil simpanse mulai keluar memenuhi sekujur tubuhnya. Raven benar-benar ingin lari, tapi ia sudah kepalang basah ada di tempat ini.

__ADS_1


"Aku mau bicara empat mata sama kamu!"


"Mau bicara apa?" tanya Raven berusaha positif.


"Jess, kamu nggak lagi pengin ngungkapin cinta pada pandangan pertama, 'kan?" Rumi menyela cepat.


"Apaan si, Rum? Aku ada urusan dengan orang ini, dan sebaiknya kamu diam dulu karena aku perlu mastiin sesuatu," ujar Jesslyn sambil menatap bengis. Diberi kode sentakkan seperti itu membuat Rumi mundur secara teratur. Lalu memilih jalan ninja terbaik yaitu kabur.


"Ok Jess, ini pisang pesenan kamu! Aku tunggu di depan gerbang aja ya," kata gadis itu gemetar gemetar takut. Rumi langsung pergi saat itu juga. Menyisakan Jesslyn dan Raven yang masih bersitatap dalam posisi sama-sama tegang.


"Ayo ikut aku!" kata Jesslyn sekali lagi, kali ini suara gadis itu penuh nada penekanan. Membuat Raven menelan salivanya karena belum siap menghadapi situasi tidak terduga ini.


"Mau apa?! Di jaman sekarang banyak penculik, aku tidak bisa percaya pada sembarangan orang begitu saja. Apalagi kita tidak saling kenal sebelumnya," tolak Raven saat itu juga.


Tes!

__ADS_1


Keringat pertama Raven jatuh ke lantai melewati bagian pelipis.


__ADS_2