
Kembali lagi ke kos-kosan Jesslyn.
Suasana di tempat itu makin mencekik. Udara di sekeliling Jesslyn terasa menghilang akibat rentetan pertanyaan kedua orang tua Jesslyn.
Karena Jesslyn tak mau memberitahu siapa pria yang menghamilinya, kedua orang tua Jesslyn pun sepakat menghubungi Andri dan menyuruh anak itu datang ke kosan Jesslyn saat itu juga.
"Aku yakin pelakunya pasti si Andri," bisik Ibu kepada sang Suami.
"Iya, Ayah juga mikirnya seperti itu, Bu!" Pikiran mereka berdua kompak.
So, Andri sudah berpacar dengan Jesslyn cukup lama. Meski kabarnya mereka sudah putus, lelaki itu tetap menjadi target utama lantaran usia kehamilan Jesslyn sama persis dengan waktu ia putus dengan Andri.
A moment later ....
"Ayah, Ibu?" Bola mata Jesslyn dibuat terbelalak saat kepala Andri perlahan muncul dari balik pintu. "Ngapain nyuruh Andri ke sini?" geram anak itu.
Jesslyn jelas kesal. Tak terima dengan perbuatan gegabah kedua orang tuanya. Mereka bahkan langsung menyuruh Andri datang tanpa berkoordinasi dulu dengan Jesslyn.
"Ada apa ini?" Andri yang memang belum dijelaskan duduk perkaranya apa, hanya dapat bertanya dengan muka kebingungan.
Ada apa ini, pikirnya dalam hati. Ia menatap Jesslyn. Lalu menatap kedua orang tua Jesslyn. "Ibu, Ayah, ada apa?" tanya lelaki itu.
"Jesslyn hamil, apa itu perbuatanmu?" tanya Ibu langsung menyergah.
Jesslyn yang kesal langsung menyalak. "Ibu, bukan Andri pelakunya! Bukankah aku sudah bilang sampai lima kali? Apa ibu nggak punya telinga!"
__ADS_1
"Jaga bicara kamu, Jesslyn!" Ayah menyentak murka.
"Siapa suruh kalian tidak mau mendengarkan penjelasanku sama sekali! Harus aku bilang berapa kali kalau pelakunya bukan Andri?"
"Tapi dia bekas pacar kamu! Siapa lagi yang menghamili kamu kalau bukan lelaki berengsyek ini!" Antensi ibu kini beralih pada Andri. Lelaki itu masih diam. Berusaha mengadaptasikan dirinya dengan topik perdebatan panas antar Jesslyn dan keluarganya.
"Sudah tenang dulu! Lebih baik kita tanya saja pada orangnya langsung mumpung ada di sini." Ayah Jesslyn mengambil jalan tengah. Kini lelaki tua itu menatap Andri. Mimik wajahnya sengaja dibuat serius. Sengaja agar Andri takut dan akhirnya berani berkata jujur.
"Rumi bilang putriku Jesslyn sedang hamil tiga bulan. Jadi kami panik dan butuh kejelasan siapa bapak dari anak itu. Terus terang saja kami menyuruhmu datang ke sini bukan karena ingin menuduh, tapi kami hanya ingin memastikan apa kamu adalah lelaki yang menghamili putriku Jesslyn?" tanya Ayah.
Andri menyempatkan diri menatap Jesslyn sebelum menjawab. Kemudian ia menatap Ayah dan Ibu Jesslyn kembali.
"Iya, aku yang menghamilinya," ucap Andri tanpa bernapas sama sekali.
"Andriii!" Jesslyn refleks berteriak. Ia tak menyangka bahwa Andri akan mengatakan hal gila seperti itu.
Satu tamparan melayang di pipi Andri. Lelaki itu tahu apa yang akan terjadi setelah ia berkata iya, jadi ia tidak heran lagi saat pipinya ditampar oleh ayah Jesslyn.
"Beraninya kau menghamili putriku! Mana janjimu yang katanya akan menjaga Jesslyn selama jauh dari kami, Andri? Mana?" Tatapan ayah makin tajam. Dipenuhi kebencian dan aura sangat mencekam.
"Andri! Kamu jangan ngarang! Kamu bukan bapak dari bayi yang aku kandung!" sela Jesslyn.
Hal itu membuat kedua orang tuanya bingung. Andri berkata iya, sementara Jesslyn berkata tidak.
"Jangan membela yang salah Jesslyn!" timpal ibu. Wanita paruh baya itu berpikir bahwa Jesslyn sengaja tidak mengaku agar Andri terlindung dari masalah.
__ADS_1
"Bayimu butuh Ayah, dan kau juga harus menikah!" kata ibu lagi.
Inilah yang Andri tunggu-tunggu. Demi bisa mendapatkan Jesslyn kembali, pria itu rela mengarang cerita dan mengakui hal yang tidak pernah ia lakukan sama sekali.
"Ayah dan Ibu tenang saja! Aku akan tanggung jawab. Aku akan bilang pada ayah dan ibuku agar mereka secepatnya melamar Jesslyn," ucap lelaki itu.
"Andri!" Untuk kedua kalinya Jesslyn teriak. Entah apa yang ada di pikiran Andri saat ini, yang jelas Jesslyn tidak suka dengan perbuatan anak itu.
"Berhubung Andri sudah mengakui, sekarang lebih baik kita pulang, Bu! Ayah tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Mungkin sebentar lagi Ayah akan membunuh orang jika tinggal lebih lama lagi," ucap Ayah sambil melirik Andri. Pria itu merinding geli. Andri mengalihkan pandangannya ke mana pun asal tidak melihat Ayah Jesslyn.
"Ya sudah! Besok malam kami tunggu kehadiranmu dan orang tuamu," timpal Ibu.
"Bu!" Jesslyn menarik sejumput baju ibunya. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca lantaran tak kuasa menghadapi masalah ini.
"Pelakunya bukan Andri, Bu! Tolong percayalah padaku kali ini saja," ucap gadis itu. Kali ini ia benar-benar memohon.
"Kau sudah mengecewakan kami Jesslyn. Bagaimana kami bisa percaya padamu?" kata Ibu.
"Sudahlah Jesslyn. Sebaiknya kau renungkan semua perbuatanmu. Toh Andri sudah mengakui dan bersedia tanggung jawab!" Ayah menimpali dengan bahasa sarkas.
Hal itu membuat Jesslyn makin terpuruk. Rasanya ingin mengamuk, tapi matanya sedikit ngantuk.
Jesslyn hanya mampu menangis saat kedua orang tuanya perlahan menjauh dari kamar satu petak itu. Kini di dalam kamar itu hanya tersisa dirinya dan juga Andri.
***
__ADS_1
"
***