
USG ke tiga hampir gagal karena dokter menolak untuk melakukan itu. Para pihak medis juga menganggap tiga mahasiswa itu sedang mempermainkan dan meremehkan kemampuan mereka yang jelas lebih tahu dibandingkan orang awam seperti Andri, Rumi, dan Jesslyn.
"Saya harap mata kalian bisa melihat lebar-lebar kalau ini adalah janin! Ada dua janin sehat, panjangnya tiga belas senti, dan detak jantungnya sangat bagus. Kalian punya telinga untuk mendengar, bukan? Punya mata untuk melihat?" Si dokter itu menatap muka ketiganya secara bergantian. Dalam hati ia ingin memasukan mereka ke daftar hitam karena telah mempermainkan kemampuan tenaga medis.
"Tapi masalahnya Jesslyn tidak merasa telah melakukan hubungan badan dengan siapa pun, Dok! Diap tetap kekeh kalau dirinya tidak hamil," kata Andri lalu berdecak. Ia harap dokter mau memberi edukasi agar Jesslyn paham.
Dokter berusaha tersenyum walau sebenarnya ia sudah gondok sekali dengan sikap ngotot para mahasiswa ini. "Jaman sekarang banyak manusia yang suka bersandiwara dengan tujuan viral. Mungkin saja teman kalian mau memviralkan diri dengan mengaku hamil tanpa dibuahi!"
"Eh, Dokter kok begitu? Profesional dong, Dok!" Rumi memaki tidak tahu diri.
"Saya sudah berusaha seprofesional mungkin menjelaskan, bahkan sampai ke tiga kali. Menurut Nona Rumi apakah saya masih kurang baik hati?" Dokter itu menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi. Bahkan sekarang beliau sudah hafal dengan nama mereka bertiga saking geramnya.
"Ya sudah, kalau begitu saya mau minta tes keperawanan saja, Dok! Saya yakin pasti saya masih perawan karena saya belum pernah hubungan anu-anu,"potong Jesslyn kekeh.
Si dokter gelen-geleng kepala. Ia menyanggupi, tapi mereka harus menunggu sampai jam enam sore, sengaja dokter melakukan itu agar dirinya bisa ganti shift dan tidak perlu repot-repot menghadapi ketiga mahasiswa ngotot itu.
__ADS_1
Tepat jam enam sore, Jesslyn mulai melakukan tes keperawanan. Cukup lama gadis itu berada di sebuah ruangan sampai beberapa waktu kemudian suster membuka pintu sambil mendorong kursi roda milik Jesslyn.
"Bagaimana hasilnya, Jess?" tanya Rumi.
Jesslyn terlihat lemas. Ia memberikan kertas itu kepada Rumi tanpa melihat ke arahnya sama sekali. Pandangan Jesslyn kosong. Matanya berkaca-kaca dan ia siap menumpahkan cairan bening yang sejak tadi mengenang di pipinya.
"Ya ampun!" Rumi menutup mulutnya pura-pura terkejut. Padahal dia sendiri sudah mulai muak dengan drama Jesslyn hari ini.
"Apa hasilnya, Rum?" Andri merebut kertas itu. Kertasnya sobek menjadi dua. Jadi pria itu tambah kerja dua kali karena harus menyambungkan dua kertas itu agar bisa terbaca.
"Bisa diem gak? Kamu gak liat kalau Jesslyn lagi nangis?" kesal Rumi yang masih menenggelamkan kepala Jesslyn di perutnya.
"Eh, Rumi! Enggak cuma Jesslyn, sekarang aku juga nangis karena uang jajanku ludes cuma buat bayar biaya rumah sakit ini!" tandas Andri.
"Kan bapakmu pejabat! Tinggal korupsi lagi apa susahnya, Ndri!" Rumi mencibir, lalu mendorong kursi roda Jesslyn menuju ruang rawat inap.
__ADS_1
Setelah dihibur oleh Rumi hingga tangisnya reda, kini Andri masuk ke kamar rawat untuk menagih janjinya kepada Jesslyn. Pria itu mendekat, lalu duduk di bibir ranjang sambil menggenggam tangan gadis itu.
"Maafin aku Jess! Tadi aku terlalu emosi, jadi nggak sadar saat ngebentak kamu di koridor! Terus terang aku nggak terima ada orang lain yang mengambil keperawanan kamu selain aku, aku ngerasa ditusuk! Sekali lagi aku bener-bener minta maaf Jess."
"Maaf gak cukup! Coba kamu pikirin ada berapa banyak orang yang ngeliat ke arah Jesslyn!?" tukas Rumi langsung menyela, sewot.
"Ya maaf, Rum! Aku lagi emosi," jawab Andri mengalah.
Karena ia masih ingin mengintrogasi Jesslyn lebih lanjut, jadi ia harus bersikap lemah lembut.
Aku yakin kamu pasti sengaja melakukan ini untuk menutupi kebejatanmu di belakangku, Jess! Kita liat aja, mau sampai kapan kamu betah bersandiwara seperti itu, batin Andri dalam hati.
***
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. 🥰
__ADS_1