Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Ngebut


__ADS_3

"Aku juga nggak sudi nikahin manusia kayak kamu!" ucap Raven ikut-ikutan jengkel. Hidungnya kembang kempis. Matanya memicing sinis.


Hal itu membuat Jesslyn mendelik sambil melayangkan cubitan kedua di lengan lelaki itu. "Kalo gak sudi seharusnya kamu jaga tuh batangan kamu biar gak sembarangan masuk! Dasar pria gak tau dir—"


Brummmmm!


Raven tiba-tiba melajukan mobilnya cukup kencang. Jesslyn yang belum siap seketika tergagap.


"Hei, sialan! Kalo mau mau mati jangan ajak-ajak aku," teriak Jesslyn sembari mencengkram apa saja yang bisa ia jangkau.


Sialnya, tangan Jesslyn yang satunya lagi malah berpegangan pada batang pengangguran milik Raven. Pria itu sedikit meringis, akan tapi tetap melajukan mobilnya sekencang mungkin.


Tak peduli dengan teriakan Jesslyn, mobil lelaki itu terus melaju ke arah yang Jesslyn sendiri tak tahu di mana.


Hingga sekitar dua puluh menit kemudian akhirnya Raven menghentikan mobilnya di depan rumah mewah berpagar hitam menjulang.


"Di mana ini?" Jesslyn perlahan membuka matanya. Saking ngebutnya Raven mengendarai mobil, ia sampai tak berani membuka mata sama sekali.


"Ini rumahku!" ucap pria itu.

__ADS_1


"Kamu nggak lagi ngarang 'kan?" tanya Jesslyn. Jelas ia belum bisa percaya ada tukang gorengan yang memiliki kendaraan mewah beserta rumah mewah. Bahkan rumah itu setara dengan rumah para pejabat yang suka korupsi dana bansos.


"Ya emang ini rumah aku," ucap Raven dengan polosnya.


Kini Jesslyn tertegun. Dari wajah Raven, kendaraan, dan rumah tinggalnya, sepertinya Raven bukan sembarang manusia biasa.


Pikiran Jesslyn mulai menebak, bahwa Raven termasuk komplotan geng mafia atau bandar narkoba. Jesslyn pun menyesal telah datang ke rumah ini.


"Buka dulu pintu mobilnya! Aku pengin muntah," ucap Jesslyn. Tangan gadis itu mulai gemetar. Ia sedang berusaha semaksimal mungkin menetralkan segala rasa takut yang ada.


Raven yang memang tidak memiliki rasa curiga sama sekali langsung membukakan pintu untuk Jesslyn.


"Dasar gak jelas! Ngapain dia minta dibawa ke rumahku kalau ujung-ujungnya kabur. Dia pikir aku sudi mengejarnya? Cuih!" Raven pun mendengkus santai. Ia membuka gerbang itu, lalu melajukan mobilnya menuju halaman rumah.


Sesampainya di rumah utama, ia melihat Naspati yang tengah duduk santai di tepi kolam. Raven langsung berjalan menghampiri, kemudian duduk di samping duyung yang tengah santuy tersebut.


"Wanita itu sudah tahu kalau aku yang menghamilinya."


"Apa kau bilang?" Kontan dua mata Naspati membelalak tak percaya. Bisa-bisanya Raven cerita dengan mimik santai seperti itu.

__ADS_1


"Waktu itu dia tidak sepenuhnya terhipnotis, jadi saat kami tak sengaja bertemu, dia langsung mengenali aku sebagai ayah dari anak yang dia kandung," ucap Raven.


Naspati langsung mengepalkan tangan. "Bodoh! Kalau sudah begini urusannya akan semakin panjang. Kenapa kau bisa sesantai itu sementara masalahmu semakin besar, Raven?"


"Lalu aku harus bagaimana? Ini juga bukan kehendakku. Mana aku tahu kalau wanita itu mengenaliku. Lagi pula kau yang menyuruhku dagang pisang goreng di kampusnya, jadi itu salahmu!" Raven pun menarik tak berisi uang hasil dagangnya, lalu melempar benda itu ke wajah Naspati.


"Makan tuh uang!" kesal anak itu.


"Hei sialan!" Naspati yang tidak terima langsung mengejar.


"Sudah kubilang, langsung bunuh saja wanita itu, kenapa harus pakai banyak acara ribet."


"Membunuh manusia tak semudah membalikan telapak tangan Raven. Apalagi negeri mereka menggunakan hukum. Kita harus hati hati dan jangan gegabah," ucap pria itu.


"Aku tidak peduli dengan omong kosongmu! Besok, aku akan membunuh Jesslyn dengan tanganku! Aku akan mencekik leher anak itu dengan tanganku sendiri atau menusuk perutnya dengan pisau."


Raven jangan gegabah.


"Persetan! Aku sudah muak berada di daratan!" geram pria itu.

__ADS_1


***


__ADS_2