
Dua hari kemudian.
Kemajuan belajar Raven tentang kehidupan manusia sangatlah cepat, dalam sebelas jam saja dia sudah mengerti pemikiran orang dewasa meski belum seratus persen paham. Namun, sejauh ini Raven sudah layak disebut pria dewasa. Terutama dalam pengetahuan bahasa, komunikasi, dan budaya.
Setelah memastikan Raven layak berbaur dengan para manusia lain, akhirnya Naspati mengajak pria itu pergi ke kampus Jesslyn. Tempat di mana Raven memberikan sinyal keberadaan bayinya kepada Naspati kemarin pagi.
Kini keduanya tengah berdiri di dekat pintu keluar kampus. Mereka bukan hanya sekadar berdiri, tapi sambil membawa lamborgini keluaran terbaru yang sangat mencolok di mata para mahasiswa yang melihatnya. Ditambah paras tampan yang mendukung, mereka berdua terlihat sangat keren.
"Ah, jadi ini yang namanya kampus?" Raven menatap sekeliling. Banyak sekali manusia manusia tampan dan cantik, tapi ia tak merasakan kehadiran Jesslyn ada di tempat ini.
"Iya, menurut data yang kau berikan kemarin, perempuan itu ada di sini. Jadi bagaimana, apa kau sudah merasakan kedekatanmu dengan bayi itu di sekitar sini?" tanya Naspati.
Raven menggeleng. "Tidak! Aku rasa wanita itu tidak sedang ada di sini," ujar Raven yakin.
"Hmmm. Mungkin dia sedang tidak ada di kampus. Tapi tenang saja, mulai besok kau resmi bergabung dengan kampus ini. Jadi kau akan memiliki banyak waktu untuk mendekati gadis itu," kata Naspati.
"Benarkah? Apa aku akan bekerja di kampus ini?"
__ADS_1
Raven menatap pria itu dengan wajah penasaran. Tampak mata hazelnya perlahan berbinar ketika membayangkan pertemuannya dengan sang bayi nanti.
"Ya, semacam bekerja! Karena semua manusia harus punya gelar atau pekerjaan, jadi kau juga harus memiliki itu untuk mempermudahkan segala urusanmu."
Raven lagi lagi mengangguk. "Baiklah! Aku akan melakukan apa pun yang kau perintahkan!"
"Ya, memang harus seperti itu. Di laut kau adalah seorang pangeran yang berkuasa, tapi di darat, hanya akulah si panglima darat yang dapat menentukan segalanya. Kau harus menurut padaku jika tidak ingin membahayakan keselamatanmu."
"Cih!" Raven berdecih sinis. "Begitu saja bangga," ejeknya kemudian.
"Memang begitulah kenyataannya. Baginda Raja menyerahkan urusan darat sepenuhnya kepadaku."
"Lamborginiku?" tanya Naspati jelas tidak senang. Pasalnya itu adalah mobil terbaik yang ia miliki.
"Iya," jawab Raven.
"Oh, tidak bisa! Sesuai instruksiku tadi! Kau akan pulang pergi menggunakan angkutan umum. Itu adalah fasilitas mewah karena kau hanya perlu duduk, lalu akan ada supir yang siap mengantarkanmu kemanapun kau pergi."
__ADS_1
Mendengar itu, Raven sedikit mengernyit. Kini ia tak sebodoh yang Naspati pikirkan. Dan tentunya, ia bisa membedakan lebih bagus mana mobil lamborgini dan metromini.
"Aku tidak mau! Pokoknya aku mau naik lambornimu setiap hari," kata Raven terus memaksa.
"Tidak bisa Pangeran! Mobilku yang satu ini sangat tidak cocok dengan pekerjaan dan gelar yang akan kau sandang besok," ucap Naspati.
Mobil itu adalah mobil satu-satunya milik Naspati. Jika mobil itu diberikan kepada Raven, maka pria itu harus Kembali menderita dengan berjalan kaki jika hendak pergi.
"Sekalinya tidak ya, tidak! Aku tetap akan pulang pergi menggunakan mobil lamborgini itu. Kau berani melawanku? Kau lupa siapa aku?"
Belum sempat Naspati menjawab, perhatian Raven tiba-tiba teralihkan begitu saja.
Deg ... deg ... deg
Tiba-tiba jantung pria itu berdetak sangat kencang. Ia dapat merasakan bahwa bayinya berada dalam jarak yang sangat dekat darinya.
"Di ... dia?" Pandangan Raven tertuju pada seorang gadis yang tengah berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Ya, gadis itu adalah Jesslyn. Wanita yang pernah dia perkosa sampai tujuh kali dalam keadaan tidak sadar. Kini Raven dapat melihat jelas wajah Jesslyn dari jarak yang semakin dekat karena gadis itu tengah berjalan ke arahnya.