
Keputusan Baginda Raja benar-benar tidak bisa diganggu gugat. Pagi-pagi sekali sebelum matahari muncul menyinari daratan, Raven sudah dibangunkan untuk segera berangkat.
Sekarang pria itu sedang berada di ruang privasi di mana hanya ada Ayahanda, Ibunda, dan tentunya Pangeran Raven yang enggan dipaksa pergi ke daratan untuk mencari keberadaan Jesslyn.
"Ibunda, apa Ibu sama sekali tidak bisa membujuk Ayah untuk membatalkan rencana ini?" kata Raven sembari menatap sendu Ibu kandungnya.
Dia adalah satu-satunya pangeran di kerajaan bawah laut, dan seharusnya Ayah tidak sekejam itu kepada Revan yang notabene adalah seorang anak tunggal.
"Maafkan Ibu, Raven. Kesalahanmu kali ini benar-benar fatal. Jadi mau tidak mau kau harus naik ke daratan untuk menyelesaikan masalahmu sendiri," balas Ibunda sedikit sendu. Ia mengecup puncak kepala Raven yang tengah bersimpuh di pangkuannya. Sementara Ayahanda terlihat diam, sambil menatap angkuh ke arah dinding batu yang terbuat dari emas murni.
Melihat Raven yang sejak kecil hidup di laut, hati Ibu benar-benar berat. Duyung muda muda itu memang tidak seperti Naspati sang pengawal yang sudah terbiasa naik turun daratan laut sejak kecil. Raven belum pernah sekalipun naik ke daratan karena memang Ibunda sendiri yang melarangnya.
"Coba bujuk Ayah sekali lagi, Bu! Barangkali Ayah mau membatalkan niatnya jika Ibu yang meminta," mohon Raven sambil melirik dagu Baginda Raja.
"Yah! Coba beri pengertian untuk Raven," lirih Ibunda tak kuasa.
"Keputusanku sudah bulat! Jadi jangan paksa aku jika tidak ingin melihat kekacauan di kerajaan ini!" kata Ayah penuh penekanan pada setiap nada bicaranya.
__ADS_1
"Kau dengar itu, Raven? Keputusan Ayahmu sudah sangat bulat! Itu salahmu sendiri, kenapa kau sampai berani melakukan hal menjijikan seperti itu pada bangsa manusia!" Ibunda malah mengungkit kesalahan Raven.
"Tapi Raven benar-benar tidak ingin naik ke daratan! Tolong aku Bu," pinta Raven memohon sekali lagi.
"Selesaikan dulu masalahmu, Raven! Ibu yakin kau mampu mengatasi semua masalah ini. Di sini Ibu akan selalu mendoakanmu agar kau cepat kembali."
"Tapi, Bu!"
"Patuhlah Raven! Perintah Ayah juga termasuk perintah Ibu!" tegas sang Ibunda.
Hal itu membuat darah di tubuh Raven meningkat drastis. "Kenapa Ibu jadi seperti Ayah yang selalu menyalahkanku atas kejadian ini? Andai perempuan dari bangsa manusia tidak membuang sampah botol sembarangan sampai melukai kepalaku, aku juga tidak mungkin melakukan hal seperti itu kepadanya!" tandas Raven. "Dikasus ini perempuan itu juga salah, jadi dia pantas menanggung akibatnya!"
Raven mengedik santai. "Aku mana tahu kalau melakukan itu bisa membuat bangsa manusia hamil, Yah. Kupikir manusia tidak sama dengan duyung, jadi aku memang sengaja memberi pelajaran dengan hal seperti itu agar dia kapok!" Tentunya sekalian mengambil keuntungan juga, lanjut Raven dalam hati.
"Hmmm. Kenyataannya spermatozoid milik duyung sangat berkualitas jika ditanamkan pada manusia."
"Sekali lagi aku tidak tahu menahu, Yah! Ayah tidak pernah mengajariku soal kehidupan manusia." Raven membela diri.
__ADS_1
"Mau tahu atau tidak kau tetap salah karena berenang ke tepi pantai tanpa zeizin Ayah! Jadi kau harus menuruti perintah Ayah karena setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Kau harus memastikan sendiri bahwa bayi hasil DNA manusia dan duyung itu tidak pernah tumbuh. Jalan satu-satunya hanyalah membunuh sang indung mati. Apa kau mengerti, Raven?"
"Hmmm."
"Raven!"
"Aku mengerti," ucap Raven setengah malas.
"Ingat pesan, Ayah! Begitu kau menemukan wanita itu, kau harus segera membunuhnya secepat mungkin."
"Iya Ayah," jawab Raven patuh, tapi jauh di dasar hatinya, Raven justru ingin melihat dua bayi yang selalu memanggilnya lewat sinyal telepati itu tumbuh dengan sehat.
Terus terang saja Raven tidak masalah jika harus membunuh Jesslyn karena pria itu tidak mengenal wanita itu sama sekali, tapi, ia merasa berat jika harus membunuh darah dagingnya sendiri. Apalagi sekarang Raven sudah bisa merasakan kehadiran dua keturunannya di dunia.
Sungguh! Andai kejadian malam itu berbuntut panjang sampai seperti ini, mungkin Raven tidak akan pernah naik ke permukaan pantai walau ia sangat kepo dengan rupa daratan sekalipun.
Berawal dari rasa kepo, sekarang ulah Raven sukses membuat garis keturunan baru.
__ADS_1
***