
Plak!
Satu buah tamparan melayang di pipi Andri begitu kedua orang tua Jesslyn pergi.
Andri kontan menatap Jesslyn. Alisnya menikuk, dan matanya sedikit menyipit. "Ngapain kamu nampar aku, Jess?" Kali ini suara Andri terdengar lemah. ia tidak terlalu menyebalkan seperti biasa.
"Harusnya aku yang tanya ke kamu, Ndri! Kenapa kamu tega ngelakuin itu sama aku? Ngapain kamu ngaku-ngaku sebagai ayah dari anak yang aku kandung?" tanya gadis itu.
Andri menjawab santai. "Itu karena aku masih peduli sama kamu, Jess! Aku tau ayah dari bayi itu pasti gak mau tanggung jawab, maka dari itu aku siap menggantikan dia," tandas Andri.
"Gak perlu! Aku gak butuh tanggung jawab kamu!" Jesslyn membentak Andri. Suaranya memecah di udara. Membuat aura di sekeliling kamar itu tampak mencekik dan menyesakkan dada.
"Terus kalo aku gak tanggung jawab, siapa yang mau tanggung jawab. Emang ada yang mau nikahin kamu?" ejek Andri kembali menjengkelkan lagi.
Mendengar itu, wajah Jesslyn berubah murka dalam sepersekian detik.
"Ada atau enggak bukan urusan kamu! Yang jelas aku nggak suka cara kamu yang sok menjadi pahlawan kesiangan di depan keluarga aku!"
__ADS_1
"Aku bukan pahlawan kesiangan. Aku ngelakuin itu karena aku masih sayang sama kamu. Aku gak bisa liat orang yang aku sayangi menderita seperti itu. Terlepas dari apa yang kamu lakukan di belakang aku, aku anggap semua itu impas!"
Jesslyn diam. Ia tak mengucapkan apa pun karena ia masih berusaha mencerna ucapan Andri.
"Jess, terus terang aja aku merasa bersalah atas perselingkuhan yang aku lakukan waktu itu. Aku terus dibayang-bayangi rasa bersalah pasca kamu putusin aku. Tidurku engga nyenyak. Makanku enggak enak. Semua itu karena kamu, Jess! Karena mikirin salahku sama kamu!" tandas lelaki itu.
Ia mendekat ke arah Jesslyn. Menggenggam lembut tangan gadis itu lalu mengecupnya dengan sayang.
"Tolong terima aku lagi seperti aku menerima bayi kembar yang ada di perutmu," ucap Andri lirih.
Jesslyn hampir saja terlena dengan semua kata-kata Andri. Namun, kedatangan Rumi memecah segala yang ada di tempat itu.
"Andri bohong, Jess! Kemarin pagi aja aku liat dia keluar dari kos-kosan Melinda sambil naikin risleting celana. Ngapain coba dia ke sana pagi-pagi kalo kagak berbuat mesum.
Andri yang kesal langsung menatap garang Rumi.
"Apa kamu? Mau alesan numpang ngecas lagi?"
__ADS_1
Lelaki itu menelan ludah. Dalam hati Andri benar-benar marah karena Rencananya gagal begitu saja karena kedatangan Rumi si gadis sialan. Padahal, tadi Jesslyn sudah hampir luluh dengan kata-katanya.
"Bener yang dikatakan Rumi, Ndri? Kamu masih ada hubungan sama Melinda?"
"Pagi kemarin terakhir Jess. Kalo kamu nerima aku lagi, aku gak bakalan mau ketemu sama Melinda lag—"
Plakk!
Tamparan kedua melayang kembali. Rasa-rasanya pipi Andri sudah seperti sarana tampar-menampar.
"Aku pikir kamu udah berubah dan beneran tulus sama aku, Ndri! Ternyata kelakuan kamu masih sama."
"Ya emang sama, Jess!" Rumi sengaja mengompori agar suasana makin panas. Andri mendengkus, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena apa yang dikatakan Rumi memanglah benar.
Andri masih cinta Jesslyn. Bahkan masih berharap bisa mendapat Jesslyn dengan jalur apa pun. Tapi terus terang saja, Andri belum bisa meninggalkan Melinda karena burungnya butuh dikasih makan.
Andri baru mau meninggalkan Melinda kalau ia sudah pasti mendapatkan Jesslyn beserta tubuh gadis itu.
__ADS_1
***