Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Coba Dulu


__ADS_3

"Andri itu cowok gak bener Jess! Untung aja kamu gak sampe diapa-apain sama anak itu! Coba kalo kamu udah diapa-apain, bisa-bisa kamu kena penyakit menular, kan lo sendiri yang repot!"


"Rumi! Apa-apaan kamu ngomong kayak gitu? Bilang aja kalo kamu sirik sama hubungan aku dan Jesslyn makannya ngompor-ngomporin dia terus! Makannya jadi cewek jangan kelamaan ngejomblo! Ngurusin hidup orang terus bisanya kamu, Rum!" Andri mendengkus murka. Tatapan lelaki itu menikuk tajam ke arah Rumi. Bagi Andri, Rumi adalah penghalang utama dirinya untuk mendapatkan Jesslyn kembali.


"Emang itu kenyataannya! Fakta membuktikan kalo lo cowok gak bener!"


"Kalo aku cowok gak bener, gak bakalan orang tua Jesslyn nyuruh aku datang ke rumahnya besok malam," tandas Andri. Pria itu lalu tersenyum. "Tahu 'kan, apa yang bakalan kita bahas kalo aku udah bawa orang tuaku ke rumah Jesslyn?"


Dengan bangganya Andri berpamer ria. Bahkan anak itu sampai menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi.


Saking fokusnya melihat perdebatan Andri dan Rumi, Jesslyn sampai lupa bahwa masih ada masalah besar yang harus ia hadapi saat ini. Yaitu melarang Andri untuk datang ke rumahnya.


"Ndri, please jangan lakuin itu!" ucap Jesslyn penuh nada memohon. Sambil menatap serius, lelaki itu menjawab,

__ADS_1


"Aku nggak peduli Jess! Cara apa pun akan aku lakukan supaya hubungan kita bisa balik lagi. Aku yakin banget, kalo kita nikah nanti pasti aku bakalan jadi suami yang setia, siap, dan siaga!"


"Bulshittttt!" Rumi berteriak cukup keras. "Omongan cowok buaya kayak kamu gak bakalan bisa dipercaya, Ndri. Setiap tikungan ada baru aku percaya!" maki Rumi. Makin jadi rasa benci gadis itu terhadap Andri.


"Ya udah! Terserah kamu mau ngomong apa! Yang penting hati aku engga kayak yang kamu omongin barusan." Andri membenarkan risleting jaketnya. "Kalo gitu aku pamit dulu Jess. Kita ketemu lagi besok malam di rumah kamu!"


"Andri!" Jesslyn kontan melotot geram. Lelaki itu hanya nyelonong pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.


"Duh, gimana ini?" Jesslyn langsung terpuruk di lantai sepeninggalan Andri pergi.


"Tenang dulu Jesslyn. Karena tadi kamu bilang udah tahu siapa ayah dari bayi yang ada di perut kamu, gimana kalo kamu bawa aja cowok itu ke rumah kamu? Dengan begitu posisi kamu akan aman Jess! Kamu gak bakalan dinikahin sama cowok kegatelan batang macam si Andri!" ucap Rumi. Tadi Jesslyn sempat bercerita kalau Raven sudah mengakui perbuatannya. Jadi sekarang status anak Jesslyn bukan anak misterius lagi.


Jesslyn sendiri masih terdiam. Jelas ia bimbang dengan saran yang diberikan oleh Rumi barusan.

__ADS_1


Tidak mungkin 'kan Jesslyn mengemis tanggung jawab sementara tadi ia sudah mengatakan tak sudi dinikahi Raven. Mau di taruh di mana muka Jesslyn kalau datang ke rumah lelaki itu.


"Gak bisa, Rum! Aku gak bisa bawa dia ke rumah! Baik Andri ataupun cowok itu sama aja bejatnya di mata aku!"


"Coba dulu Jess! Gimanapun juga dia adalah ayah dari bayi yang kamu kandung," ucap Rumi. Meskipun mereka sama sama orang gila, tapi bagi gadis itu Raven lebih pantas di bawa ke rumah Jesslyn ketimbang Andri.


"Ogah! Bawa dia ke rumah Ibarat aku keluar dari kandang macan terus masuk ke lubang buaya, Rumi." Jesslyn masih tetap saja menolak. Membuat Rumi sedikit mengetatkan rahang dengan wajah terlihat agak memaksa.


"Aku bilang juga coba dulu aja Jesslyn! Mana tahu waktu itu dia ngelakuinnya engga sengaja. Lagian kalo di pikir-pikir emang salah kamu juga. Ngapain perempuan mabok sampai tidur di pantai?"


"Jadi kamu nyalahin aku?" suara Jesslyn langsung meninggi. "Kamu gak sadar semua ini terjadi gara-gara siapa? Kalo kamu gak ngadu ke orang tuaku, Andri gak mungkin dateng ke rumahku besok malam Rumi! Paham?"


" ..." Rumi membeku.

__ADS_1


__ADS_2