
"Anda jangan mencoba menutupi kesalahan keluarga Anda, ya! Aku punya bukti akurat bahwa adik Anda lah yang menghamili temanku, Jesslyn," ucap Rumi. Ia tak berani terlalu menatap dalam naspati. Takut ketampanan lelaki itu membuatnya jatuh hati.
"Baiklah, mari kita bicarakan masalah ini baik-baik di dalam. Jika memang adikku bersalah, kupastikan dia akan bertanggung jawab," balas Naspati. Lelaki itu kemudian mempersilakan Jesslyn dan Rumi masuk ke dalam.
Mereka berdua dibuat terheran-heran ketika melihat interior ruangan yang tampak mewah dan megah.
Apakah rumah ini cocok untuk ditinggali tukang gorengan? Oh, jelas tidak!
Rasanya tak percaya jika Revan bekerja sebagai tukang gorengan tapi mempunyai rumah semewah ini. Jika Jesslyn boleh menebak, kemungkinan besar Raven dan Naspati ini bandar narkoba. Atau Mafia jalur gelap seperti yang ada di film-film.
"Ada apa ini?" Suara yang tak asing bagi Jesslyn mulai terdengar memasuki ruang tamu. Jesslyn dan Rumi menoleh, menatap Raven yang kini sedang berjalan ke arahnya.
"Loh, kamu lagi? Mau apa kamu ke sini? Bukannya tadi kamu sendiri yang kabur kayak orang gila?" cibir Raven. Ia duduk di samping naspati dan langsung berhadapan dengan Jesslyn.
Tunggu sehari atau dua hari bocah tengik. Kupastikan kau akan mati di tanganku, batin Raven sembari tersenyum licik.
__ADS_1
Sementara Jesslyn hanya diam saja. Apa yang Raven katakan benar semua, jadi ia tak mau memperkeruh keadaan dengan memberi alasan yang tak bermutu.
Ia sudah menyerahkan bagian ini kepada Rumi. Jadi biarlah wanita itu yang menjelaskan kepada Naspati dan juga Raven.
"Tenang dulu. Saya akan menjelaskan … tapi izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Rumi … dan wanita yang sedang hamil ini adalah Jesslyn. Dia sudah saya anggap seperti—"
"Hentikan!" sela Raven. "Bicara langsung ke intinya saja. Aku tidak ingin tahu sedekat apa hubungan kalian berdua!" ketus Raven kemudian melipat tangannya di depan dada.
Rumi mendengkus. Menatap Raven dengan tatapan tidak senang.
"Bukannya tadi kamu bilang gak sudi nikah sama aku? Kenapa sekarang datang-datang langsung minta tanggung jawab?"
Plak!
"Diam kamu Raven! Kami sedang bicara. Kau salah, jadi lebih baik ikuti saja keputusan kami apa adanya," kata Naspati.
__ADS_1
Raven langsung menatap tidak senang. Tatapan itu seperti sebuah protes. Beraninya kau menampar anak raja? Apa kau mau cari mati, Naspati?
Namun, Raven memilih diam. Ia tidak mungkin membalas perlakukan Naspati di depan umum begini.
"Perkenalkan, namaku adalah Naspati. Dan lelaki tidak berguna di samping saya ini adalah Remavan."
"Hei! Berani sekali kau berkata seperti itu padaku?" Raven melotot makin garang. Membuat Naspati menendang gemas anak itu.
Ia kemudian berbisisik, "Ikuti saja permainanku, kau ini sedang dalam posisi salah duyung bodoh!"
Lagi-lagi Raven hanya mampu menarik napasnya geram. Ingin rasanya ia memanggang Naspati kalau tidak ada Jesslyn dan juga Rumi.
"Silakan berikan bukti yang kalian punya. Jika bukti itu akurat, kami akan datang menemui orang tua Jesslyn."
"Tentu saja akurat! Siap-siap saja kamu kubuat kicep. Dasar kang gorengan tak punya perasaan," tandas Rumi. Ia mulai mengeluarkan bukti percakapan antar Jesslyn dan Raven di mobil tadi.
__ADS_1