
"Tidak! Aku tidak bisa membantumu untuk yang satu ini Raven. Kau jangan gila!"
"Tolonglah ... aku yakin kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini," ujar Raven. "Mendengar bayi itu harus dibunuh saja hatiku sangat sakit. Apalagi jika aku sampai membunuhnya. Aku tak setega itu, Naspati."
"Entah aku harus bicara denganmu dengan cara apalagi, Raven," decak Naspati benar-benar marah. "Kau ini bodoh atau apa? Jika bayi itu lahir, posisi kerajaan laut dipaatikan akan terancam. Kita tidak tahu apa hasil penggabungan DNA manusia dengan ikan. Bisa jadi akan ada keturunan baru yang membuat bangsa duyung terancam."
"Apa salahnya mencoba merawat mereka." kesal Raven.
"Tidak mau! Jika kau tidak sanggup membunuh bayi itu, maka sekarang aku akan kembali ke kerajaan untuk memberitahu Baginda Raja."
"Jangan lakukan itu sialan! Kau mau membuat ayahku marah?"
"Kalau begitu lakukan semuanya sesuai rencana. Kau harus tetap membunuh manusia itu demi kelangsungan hidup bangsa kita," ujar Naspati mempertegas. Jika Raven tidak mau, maka duyung itu benar-benar akan kembali.
" Memangnya benar-benar tidak ada cara lain? Bagaimana jika kita lahirkan saja anak itu, lalu kita rawat di suatu tempat tanpa sepengetahuan mereka?"
__ADS_1
"Bodoh! Apa kau lupa kalau Baginda Raja meminta kita untuk membawa jasad gadis itu ke pantai? Lagi pula kita juga tidak tahu bayi seperti apa yang akan dilahirkan wanita itu jika tetap membiarkannya melahirkan. Terlebih bangsa manusia sama sekali tidak bisa dipercaya."
"Tidak bisa dipercaya bagaimana?" Raven menatap bingung.
"Manusia itu terlahir sebagai mahluk penuh dusta. Selain tidak bisa dipercaya, mereka juga tidak bisa menjaga rahasia. Takutnya saat kau mengaku dirimu adalah Pangeran duyung pada gadis itu, dia malah menangkapmu dan menjadikanmu sebagai tawanan. Apa kau mau seperti itu?"
"Memang separah itukah bangsa manusia? Bukannya wanita dari bangsa manusia itu lemah?"
"Mereka memang terlihat lemah, tapi sebenarnya mereka licik dan selalu bekerja sama. Manusia terbiasa hidup berkelompok dan tidak menyukai perbedaan."
"Intinya kau tidak akan diterima jika bangsa manusia itu tahu kau adalah pangeran duyung! Maka dari itu Baginda Raja menyuruhmu untuk langsung membunuh gadis itu. Karena ya itu tadi, manusia hidup berkelompok, tidak menyukai perbedaan, dan bahkan kepada sesama jenis manusia saja mereka masih saling membedakan. Apalagi kepada ikan? Sudah dipastikan hidupmu akan terancam jika berdampingan dengan manusia."
"Hih, mengerikan sekali manusia itu!" Raven tiba-tiba urung. Sepertinya membunuh gadis itu jauh lebih baik daripada mempertahankan bayi yang belum jadi. Toh mereka belum sampai menampakkan wujudnya, jadi Raven tidak perlu merasa bersalah kepada calon bayinya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan membunuh wanita itu tanpa menunjukkan jati diriku."
__ADS_1
"Bagus! Ingat sekali lagi pesanku. Manusia adalah mahluk yang paling tidak bisa dipercaya, jadi jangan pernah menunjukkan siapa dirimu di depan mereka."
"Hmmm. Aku paham!" Raven mengangguk mantap. "Sesampainya di darat nanti aku akan langsung membunuhnya. Eh, tunggu dulu! Tapi bagaimana caranya aku membunuh gadis itu? Tidak mungkin 'kan, aku membunuhnya di daratan? Ayahku berpesan agar aku membunuhnya di laut demi menghindari risiko," kata Raven butuh solusi.
Sontak keduanya saling pandang dengan wajah kebingungan. Jika berada di dekat pantai mungkin mereka akan menggunakan tehnik hipnotis agar gadis itu menceburkan diri ke laut. Namun, kekuatan mereka di daratan sangat lemah. Bangsa duyung hanya mampu menggunakan tehnik hipnotis sekitar lima menit saja. Jelas tak cukup jika dipakai untuk melakukan misi pembunuhan.
"Em, bagaimana ya?" Di titik ini Naspati juga bingung sendiri. "Yang jelas kita harus bisa membuat gadis itu mendekati pantai agar bisa menariknya ke dasar laut."
"Lalu?"
"Mau tidak mau kau harus mendekati gadis itu agar kita bisa membunuh di dasar laut dan membawa jasadnya ke kerajaan."
***
Jangan lupa tinggalkan komen yang banyak.
__ADS_1