
Raven tidak pernah menyangka rencananya membunuh Jesslyn menjadi tambah kacau seperti ini. Ternyata membunuh Jesslyn tak semudah yang ia bayangkan.
Kini Jesslyn terlihat seperti orang linglung, dia terus memandangi sirip barunya sambil mencari-cari dimana kedua kakinya, dan baik Naspati ataupun Raven tak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Jadi ini bukan mimpi?" Jesslyn bertanya untuk kesekian kali. Matanya membola. Menatap Naspati secara intens karena hanya laki-laki itu yang bisa diajak bicara.
"Ya, karena kau mengandung benih seorang duyung, jadi kau berubah menjadi putri duyung. Tapi aku belum tahu sampai kapan kau menjadi putri duyung, bisa jadi selamanya, atau sampai anak di perutmu lahir."
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Jesslyn berusaha berteriak walau di dalam air suaranya tak terdengar. Hanya sebangsa ikanlah yang mampu memahami teriakan Jesslyn.
"Ini pasti mimpi, ini pasti mimpi!" teriak wanita itu lagi.
Raven hanya mampu memandang iba. Ia yakin Jesslyn pasti sangat syok saat ini.
"Aku harus kembali ke darat! Aku tidak mau di sini!" Jesslyn berusaha menggerakkan siripnya. Meskipun agak sulit, tapi ia berhasil menjauh dari Raven dan Naspati.
"Cepat kejar!" kesal Naspati karena Raven hanya bengong saja.
Dunia lautan sangat luas. Jesslyn jelas akan mati jika pergi mengelilingi lautan seorang diri.
"Kau mau ke mana!" Raven berusaha mencekal lengan Jesslyn. Namun, wanita itu terus saja meronta.
"Lepas ... Aku tidak mau berada di tempat ini!"
"Tapi kau tidak bisa seenaknya main pergi sendiri. Apa kau tahu dunia laut sangat berbahaya?"
__ADS_1
"Paling hanya ada hiu dan paus!" sungut Jesslyn enteng.
"Cetakk!"
Naspati memeukul tubuh Jesslyn dengan siripnya.
"Bangunlah dari tidurmu, laut tidak seenteng yang kau bayangkan. Ada banyak sekali mahluk yang berbahaya di tempat ini."
"Oh, ya? Apa kau sedang berusaha menakut-nakutiku?"
"Siapa yang menakutimu? Lihat itu!" Raven menunjuk sebuah belut yang besarnya kira-kira sebesar tugu Monas. Itu baru anaknya, karena bapak dan ibunya bisa besar dua kali lipat.
"A ... apa itu?"
Jesslyn mencicit. Nyali yang mulanya sebesar gunung berubah menciut.
"Anak belut?"
"Hmmm. Itu belum seberapa, di laut masih banyak hewan buas yang tidak diketahui manusia. Bagaimana jika kau dimakan tiram raksasa? Monster laut? Siput raksasa? Itu semua nyata dan ada!" tandas Raven.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kau ikutlah bersama kami! Kita bicarakan semua ini baik-baik dengan kedua orang tuaku."
Akhirnya Jesslyn menurut. Ia membiarkan Naspati dan Raven membawanya menuju kerajaan laut.
__ADS_1
Setelah ngojek dengan sekawanan lumba-lumba, mereka sampai di kerajaan duyung. Tempatnya para duyung baik berkumpul.
Raja yang mengetahui Raven membawa Jesslyn langsung mengadakan rapat dadakkan. Setelah diskusi dengan para petinggi laut, Raja kepiting, dan lain sebagainya, sang Raja memutuskan untuk menikahkan Jesslyn dengan Raven.
"Apa? Menikah?"
Jesslyn menggeleng tidak percaya. "Iya, kau menikah dan tinggal di sini untuk sementara waktu!"
"Gila! Lalu bagaimana dengan keluargaku jika aku tinggal di sini? Menerima calon suamiku adalah bangsa duyung saja aku masih berat, apalagi menikah dan tinggal di sini!"
"Ini hanya sementara Jesslyn. Melihat keadaanmu yang seperti itu. Bangsa kami tidak mungkin membiarkanmu tinggal di darat. Apalagi kau tercipta sebagai duyung paling lemah. Kau tidak punya kekuatan apa pun untuk bertahan!" ucap Naspati.
"Tapi!
Tiba-tiba Raven masuk ke ruangan dimana Jessyn berada.
"Aku mohon ... Menikahlah denganku! Aku berjanji tidak akan melakukan hal jahat atau melakukan sesuatu yang merugikanmu! Aku sungguh minta maaf atas semua salahku," ucap Raven.
Suaranya yang lantang terlihat tulis. Dia mendekat. Mahkota yang menghiasi kepala pria itu membuat Jesslyn sedikit terpesona.
"Menikahlah denganku Jesslyn," ucap lelaki itu sekali lagi.
Bagai disihir, Jesslyn seketika mengangguk.
"I ... Iya...," kata wanita itu terbata-bata.
__ADS_1
TAMAT