
Raven terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling gua tersebut. Selain kelelawar, ternyata di tempat itu banyak sekali hewan-hewan aneh berkeliaran yang tak pernah Raven lihat sebelumnya. Ada babi hutan, musang, tupai, dan beberapa burung seperti gagak dan burung hantu.
"Sial! Kenapa Naspati lama sekali?" Raven mulai berjongkok di antara dua batu besar. Hawa dingin terasa menusuk kulit karena secara perlahan tubuh Raven menyesuaikan diri dengan habitat manusia normal pada umumnya.
Jika di dalam laut ia bisa menembus perairan yang sangat dingin hinga mencapai titik terendah, di daratan malah sebaliknya. sekarang ia langsung masuk angin hanya gara gara tak mengenakan baju.
Cukup lama Naspati pergi hingga lebih dari satu jam. Setelah Raven terkantuk-kantuk dan nyaris tidur, pria itu tiba-tiba datang sambil melemparkan pakaian ganti ke wajah Raven.
"Cepat pakai bajumu sebelum sakit!" teriak Naspati tiba-tiba. Raven sempat linglung beberapa saat. Pandangannya terasa kabur dan ia tak dapat melihat apa-apa.
"Di mana anakku?"
"Di mana anakku?"
"Anak apanya?" ketus Naspati hampir saja terpeleset karena kaget mendengar teriakan Raven. Kening pria itu berkerut, tatapannya sedikit menyelidik, dan benar saja, saat ia mendekat ke arah Raven, ternyapa badan anak itu sedikit anget.
"Hatcihh!"
"Hatcihhh!"
__ADS_1
Bapil pun mulai melanda.
"Dasar duyung tak berguna! Baru ditinggal satu jam dalam keadaan teelanjang saja langsung sakit. Apa si yang kau bisa Raven?"
Meski kesal, akhirnya mau tak mau Naspati memakaikan baju Raven lalu menggendongnya sampai ke rumah.
***
Pagi hari menyapa begitu cepat. Keadaan Raven sudah cukup membaik, dan kini ia sedang mencari sinyal keberadaan bayinya.
Raven melakukan telepati data yang ia lihat kepada Naspati, dan pria itu langsung mencari keberadaan Jesslyn sesuai data yang diterima dari Raven. Data itu mencangkup wajah Jesslyn. Titik keberadaan gadis itu, dan dalam sekejap waktu Naspati dapat mengetahui bahwa Jesslyn masih menempuh pendidikan.
"Benda apa itu?" tanya Raven sembari menyentuh benda tersebut.
"Ini namanya ponsel, semacam alat komunikasi yang menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya dalam jarak jauh! Kau bisa mendengar suara, juga bisa melihat gambar orang yang kau inginkan di sini," kata Naspati.
"Wow hebat sekali! Apa ponsel itu sama seperti kerang ajaib yang ada di laut?" tanya Raven dengan polosnya. Hal itu membuat Naspati gemas dan ingin mengikat moncong duyung itu dengan karet Jepang.
"Beda Pangeran bodoh! Ini semacam alat komunikasi biasa. Kalau kerang ajaib hanya dapat dipakai oleh duyung. Itu pun menggunakan ilmu sihir," terang pria.
__ADS_1
Raven sontak memasang wajah cemberut. "Aku 'kan tidak tahu! Ini kali pertamanya aku naik ke daratan! Jadi banyak hal yang tidak aku tahu di tempat asing ini."
"Ya sudah! Sebentar lagi kau juga akan tahu semuanya. Manusia membutuhkan waktu minimal 12 tahun untuk belajar, tapi duyung cukup 12 jam saja sudah bisa segalanya. Nanti kepintaranmu akan setara dengan manusia dewasa."
"Baiklah! Ngomong-ngomong aku juga ingin punya benda itu!"
"Ponsel?" tanya Naspati sambil mendekatkan benda pipih itu ke wajah Raven. Terlihat kamera tiga biji, tapi Raven tak peduli apa lagi iri. Ia masih belum paham dengan benda yang ada di tangan Naspati.
"Iya, aku ingin memiliki benda seperti itu juga," kata Raven polos.
"Santai, aku masih punya satu!" Pria itu lantas berdiri. Ia mengambil ponsel miliknya yang sudah tidak terpakai lalu memberikannya kepada Raven.
"Kok beda?" tanya pria itu sambil mengerutkan keningnya. Milik Naspati jelas ponsel keluaran terbaru, sementara yang diberikan kepada Raven hanyalah nokia jadul dengan antena panjang di atasnya.
"Yang punyamu adalah yang terbagus. Tepat di kepalanya ada pemancar sinyal, jadi kau bisa berkomunikasi dengan lancar nantinya."
"Ah, benarkah?" Dengan bodohnya Raven tersenyum bahagia. Bahkan ia berdecak kagum saat menekan layar dan terdengar suara ringtone khas jaman jadul tersebut.
Ia mendekatkan layar itu pada telinga untuk mendengarkan betapa merdunya alunan musih hape nokia. Ponsel jadul dengan layar berwarna kuning itu kemudian menyala dengan sempurna.
__ADS_1
***