
Jangan nakut-nakutin aku kamu, Jess!" Rumi menarik tangan Jesslyn. "Kalo gitu kita balik aja lah, keknya kamu udah paling cocok nikah sama si Andri."
"Eh ... eh ... eh!" Jesslyn melotor gemas begitu mendengar ucapan Rumi. "Gimana sih, tadi bukannya kamu yang ngotot banget pengin ke sini?" umpat Jesslyn sebal. Giliran sudah ada di tempat, Rumi malah kebanyakan pola seperti anak kecil.
"Ya kan kamu gak bilang kalo latar belakang kang gorengan itu semisterius ini. Aku juga takut kali Jess, kalo ternyata dia beneran geng mafia," kata gadis itu. Bahunya mengedik. wajahnya pun berubah agak panik.
"Takut kamu udah gak berguna. Lebih baik kita coba daripada mati penasaran."
"I ... iya, deh!" ucap Rumi lirih.
Dengan terpaksa, akhirnya Rumi mengikuti Jesslyn ke rumah mewah yang ada di seberang jalan. Cukup lama mereka menekan bell rumah, tapi tak ada yang membukakan gerbang sama sekali. Bahkan, gerak-gerik satpam saja tak terlihat di dalam sana.
"Gak ada orang, Jess! Jangan-jangan tadi dia emang sengaja mau nipu kamu lagi," tebak Rumi.
Mau diapakan saja, Rumi masih kesulitan percaya bahwa Raven kang gorengan itu adalah orang kaya. Ia malah berpikir Raven adalah lelaki jadi-jadian yang berniat menipu Jesslyn seperti video viral yang ramai ditonton belakangan ini.
__ADS_1
Jesslyn menatap gerbang tinggi menjulang tersebut. "Kita tunggu dulu beberapa waktu sampe yang punya rumah dateng, Rum. Kalo nggak ada jawaban, baru kita pulang," ujar Jesslyn.
Kini malah ia yang kekeh ingin bertemu dengan Raven. Tentu saja Jesslyn melakukan itu karena tak mau dinikahkan dengan pria menyebalkan dengan Andri.
Krak .... Gdredeg ... gredeg ... gredek.
Suara pagar rumah yang digeser sukses membuat Jesslyn dan Rumi kebingungan. Pasalhnya gerbong itu terbuka sendiri, dan tak ada satu pun orang yang membuka pagar besi itu.
Terus kita mau ngapain nih, Jess? Masuk apa pulang aja?"
"Masuklah, Rum! Aku yakin anak itu pasti ada di rumah," ujar Jesslyn.
Ia segera masuk terlebih dahulu. Diikuti oleh Rumi yang melangkah takut-takut di belakang gadis itu.
Sementara itu, Naspati yang mengetahui kedatangan Jesslyn langsung melapor pada Raven. Lelaki itu sedang ngemil sirip hiu saat Naspati datang.
__ADS_1
"Sepertinya wanita itu datang ke sini bersama temannya," kata Naspati.
"Yang benar saja kamu!" Diletakkannya sirip hiu mentah itu ke atas meja. Raven lantas menyomot cumi-cumi lalu menelannya tanpa dikunyah.
"Cepat persiapkan dirimu. Kita harus bisa berbicara normal layaknya manusia biasa,",ujar Naspati. "Jangan lupa singkirkan makakanmu dari meja ini. Manusia itu bisa pingsan kalau sampai tahu kau makan sirip hiu mentah."
"Iya," jawab Raven tanpa intonasi.
Selagai Raven membereskan meja makan, Naspati keluar untuk membukakan pintu. Ia melihat Jesslyn dan Rumi dari balik jendela sebelum akhirnya membukakan pintu.
"Maaf, kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun!" kata Naspati jutek.
"Siapa yang minta sumbangan? Kami ke sini mau minta pertanggungjawaban Kang gorengan itu. Dia sudah memperkoss temanku Jesslyn. Bahkan dia sampai hamil karena kejadian itu" tandas Rumi. Ia berusaha berani.
"Maaf, sepertinya Anda salah alamat!" tolak Naspati. Ia perlu mengulur waktu sampa Raven selesai membereskan meja makan.
__ADS_1
"Kami tidak salah alamat. Kami ke sini memang ingin menemui kang gorengan itu." Kini giliran Jesslyn yang menjawab.
"