Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Andri Ngajak Nikah


__ADS_3

Kembali lagi ke daratan, keadaan Jesslyn masih sama seperti sebelumnya. Ia masih bingung dengan kondisi hamil dadakan yang dialaminya saat ini. Bahkan ia masih belum menemukan titik terang mengenai informasi ayah dari bayi yang dikandungnya sekarang.


Otak Jesslyn benar-benar buntu karena ia merasa tidak berinteraksi dengan pria atau pun sekadar bertegur sapa dengan teman kuliahnya.


Selepas keluar dari rumah sakit, Jesslyn memutuskan untuk berangkat kuliah dan menganggap seolah tidak ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya. Semua itu dilakukan semata-mata karena Jesslyn begitu stress memikirkan keadaannya ketika ia berdiam di rumah. Meskipun masih sama-sama setress, setidaknya dengan Jesslyn berangkat kuliah bisa sedikit mengalihkan pikiran.


"Jess!" Suara yang tak asing lagi terdengar dari arah belakang. Jesslyn sendiri sedang berjalan di koridor kampus saat Andri memanggilnya—ia hendak pulang karena kelasnya sudah selesai.


"Aku mau bicara denganmu sebentar!" tahan Andri sampai langkah Jesslyn terhenti.


"Ada apa lagi, Ndri?"


"Ini penting Jess!" tegas pria itu lalu menarik Jesslyn ke tempat yang lebih sepi.

__ADS_1


"Ada apa, si?" tanya gadis itu makin sinis.


"Ayo kita nikah!"


"Hah?" Kontan Jesslyn membeliak. Matanya terbuka lebar bahkan seperti ingin melompat dari tempatnya.


"Jangan gila, Ndri! Kamu nggak lagi demam 'kan? Omongan kamu ngaco tahu!" cibir Jesslyn lalu tertawa.


Diperlakukan seperti itu membuat Andri menjadi geram. "Aku serius Jess! Karena kamu tidak tahu siapa ayah bayi yang ada di perutmu itu, jadi mendingan kamu nikah sama aku aja! Aku siap tanggung jawab meski bayi kembar itu bukan anak kandung aku," kata Andri sungguh-sungguh.


"Aku serius Jess! Aku mau bertanggung jawab. Jadi tolong terima kebaikan aku dengan kebaikan juga."


Jesslyn tersenyum getir. "Makasi banyak atas kebaikanmu, Ndri! Tapi maaf, aku nggak butuh tanggung jawab apa pun dari kamu." Jesslyn menyentak tangan Andri yang sejak tadi memegangi lengannya. Ia hendak pergi, tapi Andri menahan langkah gadis itu lagi dan lagi.

__ADS_1


"Mau kamu apa si, Jess? Niat aku ngomong gini itu baik! Aku mau ngelindungin kamu dari aib yang sedang menimpa kamu." Andri menatap gadis itu jengkel.


"Aku paham, Ndri! Tapi aku emang gak bisa meskipun kamu bilang bisa sekalipun. Bagiku terlalu egois kalau aku minta pertanggungjawaban pada orang yang tidak menghamiliku," ucap Jesslyn.


"Tapi aku yang minta, aku nggak masalah soal itu, Jess. Terus terang aja aku gak bisa kalau harus liat kamu hamil tanpa pendamping. Cepat atau lambat perut kamu pasti akan membesar. Setidaknya jika kita berdua nikah, bayi yang ada di perutmu tidak akan kehilangan sosok ayah saat terlahir nanti."


"Maaf, Ndri! Aku tahu niat kamu sangat baik dan mulia, tapi aku tetep nggak bisa ngelakuin itu."


Untuk kesekian kalinya Andri menatap geram. "Lalu bagaimana dengan bayi yang ada di perut kamu, Jess? Memang kamu tidak malu hamil tanpa suami?" kata Andri mengingatkan sekali lagi.


"Untuk apa aku harus malu? Toh semua ini masih menjadi hal misterius karena aku merasa tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun. Jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan posisi sekarang."


"Ok! Baiklah kalau kamu emang bisa santai. Tapi kamu jangan lupa kalau kamu masih punya orang tua! Mereka pasti akan kecewa saat mengetahui anaknya hamil di luar nikah," ucap Andri. Perkataan pria itu sukses membuat Jesslyn terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


Jujur ia belum kepikiran ingin memberitahu orang tuanya mengenai kehamilan misteriusnya. Dan sekalipun Jesslyn bilang, ia rasa mereka tidak akan percaya dengan apa yang Jesslyn ceritakan.


__ADS_2