
Bergeser sebentar ke dasar lautan terdalam. Tepatnya di sebuah kerajaan di mana para duyung sedang berkumpul—menjalani aktifitas dan kesehariannya. Selayaknya manusia normal, semua duyung yang berada di dalam istana dapat berjalan kaki dan mengenakan pakaian ala kerajaan. Istana tersebut terletak di dalam sebuah gua besar, dan para duyung baru akan otomatis menjadi manusia setengah ikan ketika keluar dari gua tersebut.
Seperti saat ini, Raven sedang mengibas-ngibaskan sirip biru emasnya sambil melamun. Pria itu tengah bersantai di taman laut ketika baginda raja datang dan menegurnya secara tiba-tiba.
"Raven!" seru Baginda Raja.
Atensi Raven beralih, dari yang semula memikirkan gadis asing itu, lalu gagas menatap sang Ayah dengan wajah sedikit panik dan tentunya juga gugup. Ia tahu betul kenapa sang Ayah mendatanginya saat ini.
"Bagaimana perkembangan embrio yang kau tanam di tubuh wanita itu? Apakah mereka sudah memberi sinyal kehidupan?" Baginda raja mendekat perlahan.
"Belum, Ayah!"
"Ayah serius, Raven! Ini sudah dua bulan lebih sejak kejadian itu, seharusnya usia kehamilan gadis yang kau perkosa itu sudah masuk tiga bulan, dan bayimu pasti sudah memberikan sinyal kehidupan dari jauh-jauh hari!"
Mendengar itu Raven mendengkus. "Aku tidak tahu, Yah! Tidak ada sinyal apa pun yang diberikan bayi itu kepadaku!" kata Raven bohong.
__ADS_1
Terus terang saja Raven sudah mendapatkan sinyal tanda-tanda kehidupan bayinya di perut Jesslyn, tapi Raven sengaja bohong karena ia belum siap membunuh Jesslyn dan bayi yang ada di perut gadis itu.
Baginda Raja bilang tidak ada toleransi, Jesslyn tetap harus dibunuh demi agar bayi itu tidak terlahir. Karena belum siap, maka dari itu Raven selalu menunda waktu saat sang Ayah menyuruhnya naik ke daratan.
"Tolong jangan berbohong Raven! Ini bukan masalah sepele. Kau tahu itu, bukan?" Baginda Raja memberi peringatan keras.
"Sungguh aku tidak berbohong, Ayah! Kalau Ayah tidak percaya silakan lacak saja keberadaan bayinya," ketus pria itu.
"Mana bisa begitu? Bagaimanapun juga kau adalah Ayahnya! Hanya kau satu-satunya duyung yang mampu mendengar sinyal keberadaan bayi yang masih di dalam perut ibunya. Ayah tidak mungkin mampu melakukan itu!"
"Tetapi hal ini tetap tidak bisa dibiarkan begitu saja, Raven! Kau tetap harus naik ke dataran untuk memastikan keberadaan bayi itu," perintah sang Ayah.
"Bagaimana caranya aku memastikan kalau aku tidak mendapat sinyal, Ayahanda? Daratan itu luas, dan terus terang saja aku tidak tahu keberadaan wanita itu ada di mana!"
Raven tertunduk dalam. Untuk yang satu ini ia memang tidak berbohong. Raven tidak mengenal Jesslyn sebelumnya dan ia juga tidak tahu gadis itu ada di mana. Namun, meski begitu, menemui Jesslyn bukan hal sulit karena Raven bisa dengan mudahnya mengikuti sinyal yang diberikan dua bayi yang ada di perut Jesslyn. Sayangnya Raven belum siap untuk melakukan hal keji itu.
__ADS_1
Baginda Raja menghela setelah beberapa saat diam sembari berpikir. "Ayah sudah memutuskan, besok kau tetap harus naik ke daratan!"
"Tapi, Yah!"
"Lakukan saja perintah Ayah! Kemungkinan besar bayi itu akan memberikan sinyal kepadamu jika kau sudah ada di daratan."
"Bagaimana jika dia tidak memberikan sinyal?" tanya Raven sengaja ingin membuat ayahnya bimbang.
"Pasti dia akan memberikan!" kata Baginda raja. "Dan kau tenang saja, kau tidak akan pergi ke daratan sendiri. Ayah akan mengutus Naspati untuk menemanimu selama ada di daratan."
Aishkk!
Dalam diam Raven mengepalkan dua tangannya.
***
__ADS_1
Moon maaf. Ada pergantian nama dari Revan menjadi Raven. Soalnya aku menyesuaikan nama duyung. Kalau Revan duyungable, malahan terlalu manusiable.... kwkkw.