Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Apakah Jesslyn mati?


__ADS_3

"Sesuai kata Anda, sebagai jaminan kami akan membawa adik Anda ke rumah Jesslyn sekarang juga!


"Hei!" Sontak Jesslyn mencubit lengan Rumi. "Kenapa harus bawa dia ke rumah orang tuaku segala, Rumi?" bisik Jesslyn. Dua bola matanya yang melotot sangat menunjukkan ketidaksetujuan.


Bagaimana bisa, Jesslyn membawa orang tak dikenal masuk ke rumahnya?


Rumi yang gemas dengan sikap spontan Jesslyn lantar berbisik."Kalau tidak dengan begini caranya, kita bisa saja dibohongi Jesslyn. Bagaimana jika mereka kabur?" balas Rumi.


"Tapi—"


"Sudahlah, pokoknya kamu nurut saja, sama aku Jess. ikuti apa kataku, paham?"


"Hihhh, si sok paling bener kamu itu!"


"Memang aku benar!" tandas Rumi tak mau kalah.


Ketika mereka berdua saling berbisik, Raven justru terlihat diam saja. Lelaki itu tampak seperti sedang memikirkan sesuatu entah itu apa.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke rumahmu sekarang saja!" kata Raven.

__ADS_1


Naspati seketika menoleh. Ia menatap Raven dengan wajah penuh peringatan.


"Jangan melakukan sesuatu yang gegabah Raven!" Tatapan Naspati menggambarkan kata itu. Namun, Raven terkesan cuek dan tidak peduli.


"Cih, kau pikir kali ini kau bisa mencegah keinginanku?" Raven tersenyum miring. Tanpa sadar Naspati telah membuka ruang bagi Raven untuk membunuh Jesslyn.


Sekarang di kepala lelaki itu sudah tersusun berbagai macam rencana. Yang jelas sebentar lagi semua yang Raven inginkan  akan segera terjadi.


*


*


*


Selepas mobil yang dikendarai Raven pergi, Naspati mondar-mandir di pelataran rumah sambil gigit jari. Ia sibuk memikirkan nasib Jesslyn kalau laki-laki bodoh itu sampai membunuhnya.


"Bagaimana ini? Bagaimana jika anak satu itu nekat menceburkan Jesslyn ke laut?"


Naspati mengembuskan napas pasrah. Ia tidak peduli jika Jesslyn mati, tapi ia cemas jika Raven sampai terseret dengan kasus hukum para manusia. Meskipun katanya semua itu bisa diatasi dengan uang, tapi hal itu cukup merepotkan untuk seekor ikan.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak bisa tinggal diam dan hanya menunggu di sini. Aku harus segera menyusulnya sebelum Raven melakukan kesalahan fatal!" Naspati gagas menuju garasi untuk mengambil mobilnya yang satu lagi.


Tadinya ia tidak ingin ikut karena ingin mencari orang tua sewaan untuk melamar Jesslyn besok pagi, tapi sayang, Raven keburu diangkut dan ia tak bisa mempercayakan semuanya pada Raven begitu saja.


Mobil Naspati mulai keluar dari gerbang. Karena melacak keberadaan di darat agak susah, jadi kali ini ia tidak menggunakan sinyal telepati seperti di dalam laut. Naspati berusaha menyusul Raven menggunakan indra penciumannya, dengan mencium bau Raven yang khas.


Beberapa saat berlalu.


"Sial!"


Naspati menggebrak mobilnya kesal ketika melihat pedagang ikan berjejer di tepi jalan.


"Pasti di sana ada ikan cucut!" gerutu Naspati.


Karena bau tubuh Raven mirip sekali dengan bau ikan cucut, Naspati jadi agak kesulitan mencari jejak lelaki itu. Ia terdampar di pasar ikan di mana salah satu pedagang itu pasti menjual ikan cucut.


Oh ya, tentang bau itu, hanya sesama bangsa ikan yang bisa merasakannya. Sementara manusia biasa tidak akan bisa mencium bau tubuh Raven yang mirip ikan cucut.


***

__ADS_1


__ADS_2