
"Please, Rum! Candaan kamu gak lucu! Kamu tau 'kan, siapa aku?" Jesslyn menatap Rumi malas.
"Iya tahu, Jess! Tapi kamu emang ham—"
"Cukup!" gadis itu memotong pembicaraan Rumi secepat kilat. "Kalau tahu aku ngapain masih nuduh aku hamil segala? Aku nggak hamil ya, Rum! Dasar setres kamu, mau-maunya aja dikibulin sama Andri!" sungut gadis itu kemudian.
"Enak aja, aku gak bohong!"celetuk Andri saat itu juga.
"Tenang dulu Ndri! Biar aku yang ngomong sama Jesslyn!" tahan Rumi sambil menatap garang pria itu. Andri pun menurut dan terlihat mengatupkan bibirnya sejenak.
Keadaan Jesslyn sekarang terlihat mengenaskan sekali. Rumi makin tidak tega melihat ekspresi bingung Jesslyn dan fakta yang terjadi kepada anak itu.
Karena ya, bagaimana mungkin, ada orang yang tidak terima saat dirinya dinyatakan hamil? Entah Jesslyn diperkosa atau melakukannya dengan sukarela, seharusnya ia paham kenapa dokter sampai menyatakan dirinya hamil.
Terlebih Andri, pria menyebalkan itu langsung menyerangnya. Jelas Jesslyn yang masih agak pusing makin dibuat bingung dengan situasi saat ini.
"Sebelumnya maafin aku, Jess. Terus terang aku emang gak tahu bagaimana proses bayi itu bisa ada di perut kamu, tapi aku tidak bohong soal itu, Jess! Kamu memang dinyatakan hamil."
__ADS_1
"Tapi aku masih perawan, Rum! Jangankan melakukan hal seperti itu! Ciuman aja aku gak pernah," bantah Jesslyn. "Itu pasti rekaya Andri. Iya 'kan, Ndri? Ngaku kamu!" asistensi Jesslyn beralih pada pria itu.
Priai itu hendak membela diri, tapi Rumi lagi lagi menahan Andri bicara. "Diam Ndri! Semakin kamu ngeyel masalah ini gak akan kelar-lekar!"
"Hmmm, yaudah aku diem." Andri mengalah pasrah. Sekarang Rumi mulai bicara dan menjelaskan kronologi yang sebenarnya.
"Awalnya kita juga tidak percaya kalau kamu hamil, Jess, tapi kemudian dokter mengajak kita berdua untuk melakukan pemeriksaan ulang. Kami berdua melihat sendiri bahwa ada janin di perutmu. Kami juga mendengar detak jantung mereka."
"Ngaco kamu, Rum!" Jesslyn tertawa getir sambil memutar bola matanya malas. Saat menyadari sesuatu, seketika gadis itu menghentikan tawanya lalu menatap Rumi kembali.
"Tunggu dulu! Tadi kamu bilang apa, 'mereka' maksudnya apaan, tuh?"
Duarrrr!
Makin meledaklah kepala Jesslyn saat ini. Melakukan saja tidak pernah, sekarang ia malah dituduh hamil dan mengandung bayi kembar.
Jadi, setan sialan mana yang berani menghamili Jesslyn tanpa permisi?
__ADS_1
"Heuh!"
Gadis itu menghela napas berat. Beberapa saat ia terdiam. Menatap wajah Rumi yang cemas, lalu melihat aura kemarahan di wajah menyebalkan Andri. Ia melakukan itu beberapa kali sampai dirinya benar-benar percaya bahwa kejadian yang dialami sekarang adalah nyata.
Lalu, Jesslyn mengambil hasil USG yang tadi sempat dilempar Andri. Beberapa saat dia termenung sambil menatapi foto yang sejujurnya ia tidak mengerti sama sekali.
"Coba kamu inget-inget lagi, Jess! Akhir-akhir ini kamu berinteraksi sama siapa aja? Maksudnya kamu kemana aja dan ketemu siapa aja?" jelas Rumi kembali bertanya. Ia menggunakan nada sepelan mungkin agar Jesslyn tidak merasa diintrogasi.
"Aku nggak kemana-mana Rum! Aktifitas aku wajar. Pagi kuliah, terus siangnya pulang ke kosan," jawab Jesslyn.
"Terus menstruasi kamu selama bulan ini gimana? Lancar?"
Deg!
Jantung Jesslyn berdentam seperti genderang saat Rumi bertanya pada poin itu. Ia baru ingat bahwa dirinya sudah tidak haid selama dua bulan lebih.
***
__ADS_1
Mau tanya, udah pada siap ketemu PangerancRevan belum, nih. Wkkwwk.