
Selagi Raven mempersiapkan misi untuk membunuh Jesslyn, Rumi sahabat Jesslyn malah memutuskan untuk menjadi cepu abadi.
Dengan percaya dirinya Rumi memberi tahu kedua orang tua Jesslyn bahwa anak itu sedang hamil. Jelas mereka langsung marah dan murka.
Mendapat kabar seperti itu, kedua orang tua Jesslyn gagas pergi ke kota. Mereka mendatangi kamar kos-kosan anak itu, tapi sayang Jesslynnya tak ada di tempat. Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu di dalam sampai Jesslyn tiba. Kebetulan Rumi memegang kunci cadangan kamar Jesslyn, jadi tidak susah untuk kedua orang tua Jesslyn masuk.
"Ya sudah! Rumi pamit pulang dulu ya, Om, Tante! Tadi katanya Jesslyn sedang dalam perjalanan pulang. Jadi sebentar lagi anak itu pasti sampai ke sini," ujar Rumi berpamitan. Gadis itu segera pergi setelah menyalami kedua orang tua Jesslyn. Demi nyawany yang cuma satu biji, ia tidak mau bertemu Jesslyn dulu sampai semua masalah itu bisa diatasi dengan jelas.
"Duh, besok pagi Jesslyn pasti ngamukin gue abis-abisan karena masalah ini!" Rumi bergumam cemas sepanjang menuruni anak tangga. Kosan Jesslyn terdiri dari dua lantai, dan anak itu tinggal di lantai paling atas.
"Bodo amatlah! Toh ini buat kebaikan lo sendiri Jess! Sorry ya, kali ini gue emang bener-bener gak bisa berpihak sama lo!" Rumi terus bermonol seolah Jesslyn ada di depan matanya kini.
__ADS_1
Rumi melakukan itu bukan karena sengaja ingin membuat Jesslyn susah atau kena masalah. Ia justru khawatir dengan kondisi Jesslyn yang sering sakit-sakitan sejak hamil. Jadi terpaksa Rumi memberitahu kedua orang tua Jesslyn agar anak itu sedikit terurus kondisinya.
Toh cepat atau lambat perut Jesslyn akan membesar, jadi tidak ada yang perlu ditutupi, tidak masalah juga Rumi memberitahu dari sekarang. Perlahan semua orang nantinya akan tahu kalau Jesslyn tengah mengandung bayi.
"Ayah, Ibu?" Jesslyn terbelalak tak percaya saat melihat kedua orang tuanya sudah ada di dalam kamar. Pikirannya langsung bernegatif ria pada Rumi.
Pasti anak itu yang mengundang kedua orang tua Jesslyn. Karena hanya Rumilah yang tahu alamat orang tua Jesslyn beserta nomor teleponnya. Rumia tahu persis karena ia sering diajak pulang ke rumah Jesslyn.
Kali ini, Ayah Jesslyn yang terkenal paling galak sejagat raya maju dua langkah. "Apa benar yang dikatakan Rumi kalo kamu lagi hamil, Jess?"
Deg!
__ADS_1
Jantug Jesslyn nyaris saja copot begitu mendengar perkataan sang ayah barusan. Tak menyangka bahwa Rumi tega menjadi cepu bahkan tega membocorkan rahasia itu pada Ayah dan Ibu.
"Ayah ngomong apaan si, siapa yang hamil? Jangan ngarang deh!" Jesslyn pun berusaha membuat alibi dalam waktu singkat. Namun, ibu sudah dulu menemukan surat hasil USG yang menunjukkan Jesslyn hamil muda dengan status kembar.
"Ini buktinya Jess! Kamu udah gak bisa ngelak lagi kalo ada bukti medis ini," kata Ibu dengan suara lantang.
Jesslyn membeku layaknya es batu. Beberapa saat bibirnya kelu, dan lidahnya mendadak kaku.
"Sekarang kamu masih mau ngelak apa lagi, Jess? Bukti sudah ada di depan mata!" tandas Ibu lagi.
"Siapa yang ngehamilin kamu?" Pertanyaan ayah berikutnya menyusul. Membuat Jesslyn serasa diberondong dengan topik interogasi yang kurang menyenangkan.
__ADS_1