Pangeran Duyung

Pangeran Duyung
Debat Berujung ....


__ADS_3

"Kakak tadi bilang apa, hamil?" tanya Raven sembari membulatkan matanya lebar-lebar.


"Iya, hamil! Nggak usah panggil aku Kakak! Panggil aja Rumi," kata gadis itu.


"Kalau boleh tahu nama temannya siapa?" tanya Raven lagi.


Sontak Rumi mencibir geli. "Hih, kepo! lagian kalo dikasih tau mau apa? Kan temanku udah nikah. Kamu mau jadi pebinor?" kilah Rumi. Ia sengaja menutupi identitas Jesslyn. Karena kalau pihak kampus tahu Jesslyn hamil di luar nikah, bisa-bisa gadis itu terkena masalah.


"Saya hanya bertanya, Kakak Rumi yang kurang cantik! Saya ingin tahu siapa teman Kak Rumi yang sedang hamil itu."


"Hih, beraninya kamu kepo setelah body shamingin aku! Dasar cowok sok ganteng!"


"Ya, memang di mata saya Kakaknya kurang cantik." Raven bicara apa adanya. Jika dibandingkan dengan duyung, kecantikan manusia jelas tidak ada apa-apanya.


"Memangnya saya salah kalau jujur!" ucap Raven nyolot.


"Biasa aja ngomongnya, Mas! Kalo gak pake kata 'saya' gak bisa apa? Baku banget kaya penemu KBBI?" ketus Rumi. Terlalu napsu berdebat, ia sedikit lupa dengan tujuan awalnya mendatangi Raven.


"Maksudnya?" Raven mengerutkan alisnya bingung. Kini pembahasan mereka sampai muter-muter tidak jelas.


"Gak ada maksud! Jadi Masnya mau bikinin pisang goreng buat teman aku apa engga nih!"


"Tidak mbak!"

__ADS_1


"Tidak?" Dua bola mata Rumi membulat tidak percaya. "Jadi kamu nggak mau bikin? Kamu tega sama ibu hamil?" Gadis itu mulai berkacak pinggang. Pandangannya yang bengis tertuju lurus tepat ke arah Raven.


"Ya mau bagaimana lagi Kakak Rumi yang cantik! Pisangnya sudah habis tak tersisa. Eh tunggu ...."


Raven tiba-tiba teringat sesuatu. Ia kemudian berjongkok ke bagian bawah gerobak, lantas mengambil sebuah mangkok berisi dua pisang goreng.


"Lah itu masih ada!"


"Tapi ini bekas jatuh di tanah! Makanya tidak saya jual," kata Raven. Rumi yang baru saja hendak merasa senang sontak mengerucutkan bibirnya lagi. Ia kecewa.


"Ya elah! Pisang jatuh mau dikasih ke orang. Nanti kalo teman saya keracunan terus bayinya kenapa-napa gimana?"


"Ini masih bersih Kakak! Kalau mau ya ambil saja. Tidak usah bayar."


"Eh, maksudnya gratis?" Gadis itu terkesiap.


"Ya udah bungkusin, deh! Daripada nggak ada terus temenku jadi gila!"


"Hmmm." Raven hanya menjawab dengan dehaman lantas membungkus dua pisang goreng yang sudah jatuh ke tanah tadi. Sebenarnya bukan jatuh ke tanah sih, tapi ke lantai keramik. Sayangnya lantai itu cukup kotor karena dipakai lalu lalang oleh pengunjung kantin.


"Nih pisangnya. Mungkin ini pisang goreng terakhir yang bisa saya berikan untuk kamu."


"Loh, memangnya kenapa?" tanya Rumi jelas keheranan.

__ADS_1


"Mulai besok saya tidak jualan pisang goreng lagi."


"Lah, kok gitu? Kan jualan Masnya rame. Belum sore aja udah tutup, 'kan?"


"Justru karena rame saya mau tutup saja. Niat saya jualan bukan untuk cari keramaian."


"Lah terus kamu mau cari apa? Cari kesepian biar bisa jualan sambil nyolong motor?" Rumi tergelak penuh tawa.


"Bukan begitu. Saya jualan hanya untuk iseng iseng saja. Jadi kalau rame lebih baik tidak usah jualan!" kata Raven.


"Ya ellah! Pasti Masnya orang kaya. Makannya niat jualan cuma buat iseng."


"Tidak kaya! Intinya saya tidak butuh pekerjaan ini," ucap si Raven.


"Rumiii!" Tiba-tiba Jesslyn datang sambil berteriak. Sontak baik Rumi maupun Raven menoleh ke belakang, lebih tepatnya ke arah Jesslyn yang sedang terperangah menatapnya.


"Ka ... kamu?" Gadis itu menatap Raven tanpa berkedip.


"Kamu kenal dia, Jess?" Rumi menyela demi mencairkan suasana. Tiba-tiba saja Raven dan Jesslyn saling pandang tanpa bicara. Dan ia tak tahu harus berbuat apa.


***


200 komen aku up lagi

__ADS_1


.... 🥺🥺


***


__ADS_2