
"Kalo ada bayi pasti dipaksalah, Jess!" Rumi menyeringai. "Kecuali kalo kamu bawa lelaki itu dan bilang kalo dia bapak dari anak kamu, baru hidup kamu selamet dari kedustaan Andri."
"Isk!" Jesslyn berdecak. Kakinya agak mengentak-entak. "Emang gak ada solusi lain selain itu apa, Rum?" Terus terang aja aku merasa berat kalo bahas dua manusia itu."
"Ya mau bagaimana lagi Jesslyn?" Rumi mengangkat tangan sambil mengedikkan bahu. Ia tak tahu lagi harus memberikan arahan yang bagaimana supaya Jesslyn bisa mengerti.
"Kamu harus milih salah satu diantara mereka. Si tukang gorengan alias bapak dari bayi itu, atau si Andri pemilik batangan mesum itu," tandas Rumi.
Jesslyn terdiam sejenak. Ia tampa berpikir dan menimbang-nimbang pilihan. Haruskah ia memilih Andri yang dikenalnya luar dalam tapi zonk, atau memilih Raven pria yang belum pasti baik atau tidaknya.
"Hmmmm. Semisal aku datengin rumah tukang gorengan itu, terus dia gak mau tanggung jawab gimana?" tanya Rumi.
"Kamu bukannya ada bukti rekaman? Kamu sebarin aja rekaman itu!"
Plak!
__ADS_1
Satu tepukkan melayang di bahu Rumi.
"Yang bener aja kamu, Rumi! Nyebarin rekaman itu sama aja bunuh diri," tandas Jesslyn. Ia memang sempat merekam suara pengakuan Raven di ponselnya, tapi dirinya pun ikut terlibat, jadi Jesslyn tak bisa sembarangan menyebar luaskan rekaman tersebut.
"Ya udah, gak perlu kamu sebar! Seenggaknya rekaman itu bisa kamu pake buat ngancem si tukang gorengan. Bilang aja kamu bakalan laporin dia ke kantor polisi kalo dia gak mau tanggung jawab."
"Hmmm. Gitu ya?" Jesslyn menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya ia malu jika harus kembali ke rumah Raven sambil meminta pertanggungjawaban pria itu.
Namun, mau bagaimana lagi, ia terpaksa melakukan itu agar Andri tidak jadi menikahinnya.
"Ya udah ayo temenin. Mumpung aku masih inget jalan ke rumah dia," ujar Jesslyn. Mereka pun segera memesan taksi online menuju rumah Raven.
***
Uang seratus tujuh puluh lima ribu keluar dari kantung Rumi. Ternyata alamat Raven cukup jauh.
__ADS_1
"Mahal banget si, Jess! Itu uang jajan seblak aku satu Minggu tau!" kesal Rumi.
"Ya emang segitu kalo ngojek dari kosan aku ke rumah kang gorengan. Tadi aja aku bayar seratus delapan puluh ribu! Lebih mahalan goceng," kata Jesslyn.
"Hmmm. Okelah, demi kamu aku rela begini." Rumi mulai mengindahkan sekeliling. "Kok rumahnya bagus-bagus semua? Yang mana rumah kang gorengan itu?"
Jesslyn menunjuk sebuah rumah mewah yang ada di depannya.
"Hah, kamu serius? Masa iya rumah tukang gorengan sebagus ini?" Rumi menatap rumah yang ada di depannya tidak percaya. Belum hilang rasa heran gadis itu, Jesslyn kembali berkata,
"Ya,begitulah! Bahkan tadi dia bawa pisang ke kampus kita pake mobil lamborgini."
"Eh, serius?" Dua bola mata Rumi dibuat membelalak. Nyaris mau copot mendengar hal itu.
"Ya, seriuslah, Rum! Maka dari itu aku agak ngeri datengin rumah dia. Takutnya dia bukan orang sembarangan. Gimana kalo ternyata dia ketua mafia yang nyamar jadi tukang pisang goreng? Bisa-bisa kita habis Rum!"
__ADS_1