
Angin malam berhembus cukup pelan. Tepat jam dua malam setelah keadaan pantai cukup sepi, Naspati dan Raven keluar dari tepian pantai. Mereka berenang ke sebuah gua terpencil lalu merubah wujudnya sebagai manusia di sana.
"Akhirnya sampai juga!" Raven mengembuskan napasnya lega. Namun Naspati tiba-tiba berceluk seolah meruntuhkan kebahagian manusia duyung yang baru pertama kalinya menyentuh daratan itu.
"Jangan senang dulu! Setelah ini kau masih harus mempelajari kehidupan manusia, terutama soal bahasa dan budanya!"
"Iya, hmmm. Itu masalah gampang! Bukankah aku sudah makan daun ajaib yang kau berikan untukku?" jawab Raven kesal, ia baru saja hendak menimati daratan, tapi Naspati sudah mengacaukan kebahagiaannya begitu saja.
"Iya, tapi kau—"
"Arghhh, sial!" teriak Naspati tiba-tiba.
Ia menggeram tatkala baju yang melekat di tubuhnya perlahan menghilang. Yang lebih sial lagi, sekarang ia dapat melihat jelas pedang kebangsaan Raven yang mengacung tepat di depannya.
"Ada apa?" tanya Raven masih belum sadar bahwa ilmu sihirnya perlahan mulai luntur.
"Cepat balik badanmu!"
"Kenapa?" Raven menatap heran si Naspati. Wajahnnya sontak tercengan begitu melihat Naspati berteelanjang tanpa busana sehelai pun di depannya.
__ADS_1
"Sial!" Raven seketika menggemeretakkan giginya. Ia sontak berbalik badan, begitu juga dengan Naspati yang melakukan hal sama.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Raven bingung sekaligus marah. Perasaannya kini campur aduk karena matanya yang polos ternoda oleh kejaantanan Naspati yang lebih besar dari miliknya.
"Jika sudah di darat sihir kita memang akan luntur perlahan, jadi baju yang kita kenakan juga akan otomatis menghilang."
"Hah, kenapa bisa begitu? Tapi waktu itu aku bisa berdiri di tepi pantai tanpa kehilangan bajuku sama sekali," bantah Raven masih belum memgerti juga.
"Itu karena pantai masih dekat dengan area laut. Sedangkan kita sudah berenang ke area sungai cukup jauh."
"Benarkah begitu?" Kini Raven menggaruk kepalanya bingung.
"Kok bisa?" Alis Raven menukik. Keningnya membentuk tiga kerutan lurus.
"Karena duyung hanya bisa menjadi manusia setengah ikan di air laut."
"Jadi jika aku berenang di air tawar, aku akan menjadi manusia seutuhnya?" tanya Raven terlihat bangga.
"Iya, tapi kau tetap tidak bisa hidup selamanya di perairan air tawar. Jika kau tidak segera naik ke daratan atau kembali ke perairan laut, lama kelamaan kau akan mati dengan sendiri!"
__ADS_1
"Heh, yang benar saja kau?" Pria itu melotot. Wajahnya jelas menunjukkan aura keterkejutan.
"Baginda raja berkata begitu! Duyung hanya mampu bertahan hidup di air laut dan di daratan saja! Karena sejatinya perairan tawar bukan habitat kita."
"Ah, begitu? Jadi kalau daratan masih bisa masuk sebagai golongan habitat kita?" tanya pria itu lagi.
"Bisa, tapi seperti yang aku bilang, manusia tidak menyukai perbedaan! Kau bisa dijadikan hewan peliharaan jika menyatu dengan manusia. Itu sebabnya tak ada duyung yang mau tinggal di darat meski mereka mampu hidup di dua tempat!"
"Hmmm, begitu!" Raven mengangguk paham.
Sekarang ia kembali pada masalah utama. Yaitu bagaimana caranya ia mendapat baju untuk menutupi tubuh telanjangnya.
"Kau tunggu di sini saja! Aku akan mengambil baju untukmu."
"Di mana?" tanya Raven sedikit cemas. Pasalnya ia belum tahu persis area daratan itu seperti apa.
"Di rumahku! Sebenarnya rumahku tak jauh dari gua ini. Jika aku ditugaskan naik ke daratan untuk memantau keadaan, aku selalu tinggal di sana."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku takut berada di tempat ini sendirian!"
__ADS_1
Pandangannya mengedar ke atas, tampak kelelawar berkeliaran banyak sekali di atasnya, dan ini adalah kali pertamanya Raven mengira ikan bisa terbang.