
Planet Sankz mendapat serangan besar. Penduduk panik berlarian ke sana-kemari menyelamatkan diri. Ledakan dan kehancuran di mana-mana. Teriakan dan jeritan memenuhi udara. Perempuan-perempuan menangisi anaknya yang mati.
Kejadian itu bermula saat para pendudu terbangun karena dikejutkan dengan cahaya terang dari langit yang sebelumnya gelap gulita. Cahaya itu berwarna kebiruan. Semula berasal dari purnama terang yang perlahan cahayanya menjadi biru, lalu menyebar ke langit di sekitarnya. Tak seperti biasanya.
Cahaya biru itu membelah langit dan membuat lubang besar. Membuat penduduk yang terbangun heran melihatnya. “Ini kiamat!” kata seseorang.
Puluhan ribu makhluk aneh keluar dari lubang itu. Mereka memiliki badan kekar, wajah menyeramkan serupa wajah kelelawar, memiliki sayap hitam serupa burung yang lebar dengan bulu-bulu berupa duri besi dan berpakaian jirah perang yang kuat.
Di antara makhluk-makhluk aneh itu ada seorang laki-laki berdiri melayang dengan penampilan manusia. Ia menatap daratan di wajahnya dengan tatapan menyeramkan dan angkuh, seakan kekuasaan sepenuhnya ada di tangannya. Ialah pemimpin pasukan tersebut, yang belum diketahui dari mana dan untuk tujuan apa. Di belakangnya ada seorang perempuan muda berbaju merah yang mendampingi.
Penduduk menggigil dibuatnya. Tentara-tentara keluar dari markas, mengambil senjata, berbaris, dan bersiaga.
“Ini bukan kiamat. Ini serangan alien!” ujar orang yang lain.
Pemimpin pasukan di langit menyapu daratan. Melihat penduduk Planet Sankz terbangun dan bersiaga. Ia sudah memperkirakan ini semua. “Kalian tidak akan bisa lari dari seranganku!” katanya.
Dengan sekali perintah, pasukan bersayap duri besi itu segera melesat ke berbagai arah. Turun menuju daratan-daratan Sankz untuk menyelesaikan misinya.
Sekira 100 sampai 200 meter di atas daratan, mereka mengepakkan sayapnya dengan kencang, melemparan bulu-bulu sayapnya yang tajam dan keras. Di daratan bulu-bulu tersebut menghunus dan membunuh manusia.
Tentara-tentara balik menyerang dengan menembaki mereka, namun senjata mereka tak mempan.
Pasukan bersayap itu balik menyerang tentara dan membuat mereka mati seketika.
Senjata yang lebih kuat ditembakkan ke langit, namun tetap tak mempan. Pasukan bersayap kembali menyerang mereka, kali ini dengan ledakan api yang mereka keluarkan dari tangannya.
Titik-titik pertahanan tentara hancur meledak dan terbakar.
Kondisi yang sama terjadi di berbagai negara. Serangan mendadak ini menyerang berbagai negara. Negara Penyerang, Negara Pelindung, Negara Penyembuh dan Negara Pengendali. Seluruh bagian negara turun tangan menyelamatkan rakyat dan negaranya.
Beberapa negara porak-poranda dan kalah. Mereka sudah tak bisa melakukan penyerangan. Salah satunya Negara Eden sebagai Negara Penyerang. Mereka sudah kehabisan kekuatan pasukan.
Pemimpin pasukan bersayap itu mendekati negara yang sudah tak memiliki perlawanan. Ia mengangkat tangannya dan mulai membaca mantra.
__ADS_1
Daratan Eden berguncang hebat, seolah ada gempa yang mengguncang. Setiap benda, makhluk dan unsur yang ada di daratan tersebut berubah menjadi butiran cahaya berwarna biru, lalu melayang dan diserap oleh pemimpin pasukan. Ia merasakan aliran kekuatan masuk ke tubuhnya.
Malam itu menjadi malam nestapa bagi penduduk Sankz. Jutaan manusia mati. Setiap negara dan seisinya yang sudah kalah diubah menjadi unsur kekuatan oleh pemimpin pasukan dari langit.
Perlawanan mereka memaskui babak akhir saat Kerajaan Negara Pengendali diledakan beserta raja, keluarga dan seluruh rakyatnya. Negara Chernomia sebagai Negara Pengendali kemudian diubah menjadi kekuatan.
Sementara itu, terletak jauh dari negara-negara lain, ada sebuah negara dengan pulau-pulau kecil yang tersebar dan berjumlah ribuan. Itu adalah Negara Ferrata, Negara Pelindung dengan jumlah rakyat sedikit dan dianggap sebagai negara lemah. Tak banyak orang yang mau tinggal di sana karena hanya ada satu pulau utama dan selebihnya gugusan pulau-pulau.
Saat kejadian serangan di Planet Sankz, di wilayah Negara Ferrata masih sore hari.
Mengetahu negara-negara besar dan kuat sudah hancur, para Penasihat Kerajaan segera berkumpul. Mereka yakin negara ini akan menjadi titik terakhir serangan. Apalagi malam akan segera datang.
Perdebatan dan ketakutan mulai terjadi di meja rapat. Keputusan harus segera dikeluarkan. Raja yang duduk di kursinya harus mengambil keputusan besar.
“Kita harus menggunakan Mantra Penutup Gerbang untuk melindungi seluruh rakyat,” kata raja.
“Tapi itu akan membuat kita tak bisa berhubungan dengan negara lain di masa depan,” kata seorang Penasihat. “Akan banyak Pewaris Mantra yang mati. Dan untuk membuka gerbang kembali, kita harus menunggu generasi Pewaris Mantra selanjutnya.”
“Tapi negara-negara besar sudah hancur. Kita tak akan memiliki hubungan apapun seandainya kita tetap membuka gerbang pelindung. Sama saja, kan.”
Para Pewaris Mantra segera dikumpulkan dan disebar ke seluruh titik terluar negara, berdiri di ujung pulau terakhir.
Mereka mulai membacakan mantra di tempatnya berdiri. Setelah mantra selesai dibaca, setiap Pewaris Mantra meletakkan tangannya di daratan.
Segaris cahaya keluar dari pasir dan tanah tempat mereka meletakkan tangan. Melengkung ke uadara dari seluruh penjuru. Garis cahaya itu bertemu di satu titik pusat negara.
Setelah semua selesai dengan mantranya, mereka mengangkat tangannya dan menutup mantra.
Dalam sekejap negara itu hilang dari pandangan. Lenyap seolah dihilangkan penyihir.
Saat pasukan langit mengeliling seluruh penjuru planet, mereka sudah tak menemukan apapun. Hanya hamparan laut tanpa daratan. Mereka berpikir semua negara sudah hancur.
Pasukan langit kembali pada pemimpin mereka dan melaporkan semuanya. Sang pemimpin sudah yakin tidak ada lagi yang tersisa. Ia tersenyum bangga.
__ADS_1
Kekuatan yang menjalar di tubuhnya mengalir begitu dahsyat. Memberinya kekuatan super yang tak terbayangkan.
Dengan perintahnya, seluruh pasukan kembali memasuki lubang langit. Mereka kembali ke tempat asalnya.
Sang pemimpin memasuki kamar kerajaannya. Di tempat tinggalnya semua gelap. Tak ada cahaya di sana. Sang pemimpin berdiri memandang hutan gelap di hadapannya. Ia ingin menguji kekuatan yang baru dimilikinya. Ia membuka tangan dan mengeluarkan cahaya biru di tangannya.
Dengan lemparan jari telunjuk cahaya itu melesat ke hutan. Meledak dan membuat hutan gelap tanpa cahaya itu terlihat seketika, lalu gelap kembali setelah cahaya itu hilang.
Sang pemimpin tertawa bahagia. “Aku jadi yang terkuat!” teriaknya.
Tak berapa lama ia merasa badannya bergetar. Ia bingung dan merasa aneh.
Ia mencoba mengeluarkan kekuatannya. Namun kali ini tak berjalan seperti yang pertama. Cahaya biru itu sulit ia kendalikan. Seperti ada yang belum sempurna.
“Sial! Ada daratan yang berhasil menyembunyikan diri!” ujarnya.
Sang pemimpin marah. Ia tak mungkin kembali ke planet itu sebab langit akan tersegel kembali setelah mereka kembali. Hanya bulan biru yang datang seribu tahun sekali yang dapat membukanya. Ia juga tak mungkin melakukan penyerangan di planet lain sebelum menyempurnakan kekuatan Bahaya Birunya. Itu hanya akan membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Kekuatan yang tak terkendali bisa menghancurkan drinya sendiri.
“Aku tak mau menunggu seribu tahun lagi!” ujarnya kesal.
Sementara itu, penduduk Ferrata yang terinkubasi dalam dinding bersegel pelindung tak tahu harus berbuat apa. Untuk kembali membuka segel dan melihat kondisi negara lain harus menunggu para Pewaris Mantra berjumlah lengkap 1112 orang. Akibat penyegelan yang darurat, para Pewaris Mantra yang masih muda dan baru menerima warisan tak kuat menahan kekuatannya yang terhisap. 243 orang mati kehabisan kekuatan.
Kini kerajaan harus menunggu generasi pewaris melahirkan 243 orang yang akan menjadi Pewaris Mantra baru dan siap membuka gerbang. Di sisi lain Pewaris Mantra yang selamat belum tentu bertahan hidup sampai pewaris baru lahir. Energi mereka sama hebatnya terserap. Sisa energi yang ada harus mereka gunakan untuk bertahan hidup.
Penduduk yang jumlahnya tak banyak kini tak bisa mendapatkan makanan dari negara lain. sebagai Negara Pelindung yang terpencil, mereka biasa mendapatkan makanan dari negara besar. Daratan mereka yang tak banyak, dan jumlah rakyat yang juga tak banyak membuat mereka tak dapat menghasilkan makanan seproduktif negara lain.
Banyak di antara mereka bekerja sebagai pengrajin kain untuk dijual ke negara besar dan kembali dengan bahan makanan. Kali ini mereka harus siap memenuhi kebutuhan makanan sendiri.
Tak ada hubungan negara, tak dapat pergi melaut di luar gerbang transparan, dan terisolasi tanpa kabar dari dunia luar, menjadi masalah kompleks selanjutnya yang harus mereka hadapi.
[Next Part 2]
__ADS_1