
Sementara itu, berbeda dimensi dengan Planet Sankz, tempat negara kerajaan New Ferrata berada, ada sebuah kehidupan yang tidak terdapat cahaya. Tempat di mana bintang-bintang tidak ada. Tak ada cahaya siang, yang ada hanya kegelapan. Tempat bernama Dimensi Kegelapan.
Ya, tempat yang dinamai Dimensi Kegelapan ini memang hanya ada gelap secara menyeluruh. Tidak ada cahaya sama sekali di “alam” ini. Hanya penghuninyalah yang berwarna lain.
Air yang jernih tak terlihat kejernihannya karena tak ada pantulan cahaya. Sedangkan pencahayaan api, hanya Ven yang memiliki kekuatan membuat api yang dapat bersinar di ruang dimensi ini. Selain kekuatan cahaya Api Suci Ven, tak ada lagi cahaya yang dapat bersinap. Semua terserap oleh kegelapan.
Di sini, setiap penghuni bisa mendapatkan makanan apa saja yang dikehendakinya. Jika ingin makan, mereka akan memikirkan jenis makanan tertentu, dan dalam sekejap makanan itu akan berada di tangannya. Tentunya, makanan itu tidak terlihat berwarna karena tak ada bias pantulan cahaya yang dapat menggambarkan warnanya.
Namun tidak semua keinginan dapat terkabul. Semua ada batasannya. Hanya keinginan-keinginan sederhanalah yang dapat dikabulkan, seperti makanan, minuman atau pakaian. Sedangkan untuk keinginan bersifat besar seperti keinginan memiliki kekuatan, kemampuan sihir dan sejenisnya, harus dengan pengorbanan dan latihan-latihan.
Pengorbanan seperti saat menginginkan memiliki tubuh yang dapat melayang, seseorang harus bersemedi di Hutan Terlarang dalam kurun waktu yang lama, atau dengan berlatih kepada orang lain yang telah memiliki kemampuan tersebut.
Hutan Terlarang merupakan hutan penuh misteri. Beberapa pengikut Ghanda yang sudah mendapatkan kekuatannya di sana memiliki tantangan dan pengorbanan yang berbeda-beda untuk mendapatkan kekuatannya.
Seperti Ven saat mendapatkan kekuatan Api Suci-nya, harus berdiam selama kurun waktu setahun. Setelah semedi yang panjang, Roh Penjaga Hutan datang tanpa menunjukkan rupa. Hanya suaranya yang terdengar oleh Ven.
Roh Penjaga Hutan akan mengabulkan permintaan Ven dengan syarat Ven harus menyelesaikan satu misi dari Sang Roh. Misi itu berupa tantangan di mana Ven harus bisa memadamkan Api Suci yang dinyalakan Sang Roh di dalam satu pusaran. Jika Ven berhasil memadamkan api itu, Ven dianggap layak memilikinya.
Perlu tiga tahun bagi Ven untuk memadamkan api itu. Air, udara, dan banyak unsur tak dapat memadamkan api itu.
Setelah bersusah payah dan mencoba memahami kalimat Roh Penjaga Hutan, Ven memutuskan menggunakan tubuhnya untuk memadamkan Api Suci. Ia memasukkan tubuhnya ke dalam api itu.
Setelah menahan panas dan derita yang teramat sangat pedih, Ven dapat menyerap Api Suci ke dalam tubuhnya. Kalimat dari Sang Roh “Jika Ven dapat memadamkan api, Ven dianggap layak memilikinya”. Inti dari tantangan itu adalah “layak memiliki Api Suci”.
Dengan pengorbanan itu, Ven dianggap layak memilikinya.
Ven pulang ke istana Ghanda dengan perasaan bangga karena memiliki kemampuan mengeluarkan api yang tak dapat dipadamkan.
Lain lagi dengan Rinn, ia mendapatkan kekuatan mengubah wujud dengan mengalahkan ribuan bala tentara yang dikeluarkan Roh Penjaga Hutan. Itu pun harus menunggu selama 2 tahun semedi.
Mengetahui Rinn mendapatkan kekuatannya, Ven kembali ke Hutan Terlarang. Ia kembali dua tahun kemudian dengan kekuatan barunya, yakni dapat memasuki segala benda padat. Tubuhnya dapat berubah unsur sesuai benda yang diinginkan, lalu Ven dapat masuk ke dalam benda atau bangunan tersebut.
__ADS_1
Dari ketiga pengikut Ghanda, hanya Saga yang tak berminat pergi ke Hutan Terlarang untuk mendapatkan kekuatan. Bagi Saga, semedi dengan waktu yang tantu sangat membosankan.
Ghanda, pemimpin pasukan yang dikenal penduduk Sankz sebagai Pasukan Langit ini, menamakan tempat ini sebagai Dimensi Kegelapan. Ia membuat istananya sendiri di sini. membangun pasukan, dan mencari pengikut terbaik yang dapat membantu segala misinya untuk menjadi Penguasa Semesta.
Ghanda sudah hidup selama hampir setengah masa sejak dimensi ini tercipta. Tak ada yang mengetahui persis usia Ghanda. Ia bahkan dianggap akan hidup abadi.
Namun, tanpa ada yang mengetahui, Ghanda sadar bahwa ia tak dapat hidup abadi. Ia dapat mati suatu saat. Selama ini Ghanda dapat bertahan hidup lama dengan berbagai pengorbanan.
Ghanda harus mengambil kekutan dari berbagai dimensi dan semesta. Terakhir kali ia mendapatkan kekuatannya 993 tahun lalu, saat ia dan pasukannya menyerang Planet Sankz.
Saat itu ia berpikir sudah mendapatkan kekuatan dengan sempurna. Sayang, ada satu kerajaan yang berhasil menyembunyikan diri.
Dengan kesempurnaan kekuatannya, seharusnya Ghanda dapat pergi ke berbagai dimensi untuk mengambil lebih banyak kekuatan. Akhirnya, dengan ketidak sempurnaan kekuatannya, Ghanda harus menunggu 1000 tahun untuk kembali ke Planet Sankz dan menyempurnakan kekuatannya.
Saga, pengikut termuda dan terbaru Ghanda, yang diberkati kecerdikan dan sikap yang terhormat, selalu mencoba mencari tahu elemen terakhir penyempurna Dimensi Kegelapan. Ia mengetahui bahwa dimensi ini belum sepenuhnya sempurna. Itu dapat dilihat dari terbatasnya keinginan yang dapat terwujud di dimensi ini. Selain itu untuk mendapatkan kekuatan harus melalui pengorbanan.
Jika dimensi ini memiliki kekuatan yang besar, maka seharusnya dimensi ini dapat mewujudkan semua keinginan tanpa batas dan pengorbanan.
Tetapi, ia selalu gagal. Hanya satu yang ia sempat dengar dari Ghanda, elemen penyempurna tersebut disembunyikan oleh Roh Penjaga Hutan.
Mereka yang hidup di tempat ini bernapas dengan udara tetrahidrogenus, senyawa yang diciptakan dengan suprasihir oleh Ghanda saat pertama kali datang. Ia meminta pada Roh Penjaga Hutan agar ia memiliki sihir untuk membuat dimensi ini dapat dihuni makhluk hidup.
Setelah pengorbanan dilaksanakan dan keinginannya dikabulkan Roh Penjaga Hutan, Ghanda dapat membangun koloni di dimensi ini.
Selain itu, setiap mata penghuni Dimensi Kegelapan memiliki daya penerima yang sangat kompleks. Di tempat gelap sekalipun, mata mereka masih bisa melihat dan membedakan setiap benda, meski tak dapat melihat warna aslinya. Meski mereka melangkah dalam keadaan gelap, mereka tetap bisa melihat dinding dan benda-benda di sekitarnya.
Saga berjalan menaiki tangga. Wajahnya yang setengah rusak akibat luka bakar saat ia kecil terlihat jelas. Ia terjatuh dari pohon yang tinggi saat bermain di belakang kastil saat itu.
Di bawah pohon terdapat sisa perapian yang masih menyisakan banyak bara api. Wajah sebelah kirinya jatuh tepat di atas bara dan mengakibatkan kulitnya melepuh. Kini, sisa peristiwa itu membuat sebagian wajahnya tidak sempurna.
Saga memasuki ruang utama Kerajaan Dimensi Kegelapan. Di sana, Ghanda tengah duduk di altar kebesarannya. Saga membungkukan badan, sebuah penghormatan kepada Sang Raja.
__ADS_1
“Masa itu telah dekat,” kata Saga, setelah ia menegakkan badannya.
“Aku mendapat kabar dari Rinn yang baru saja menyelesaikan pertapaannya. Ruh Rinn yang pergi ke dimensi lain menggunakan distorsi ruang dan waktu telah melihat ciri-ciri bulan biru di New Ferrata akan segera tiba.”
Ghanda bangkit. Jubah tebal yang melingkupi tubuhnya memperlihatkan kebesaran dan kemegahannya.
“Selain itu, apa lagi yang kaudapatkan?” tanya Ghanda.
“Cukup, Tuan Ghanda,” jawab Saga.
“Baiklah. Kalau begitu, kamu persiapkan segalanya sebelum bulan biru itu muncul.”
“Baik, Tuan.” Saga mengangguk.
“Selain itu, ada satu lagi yang ingin aku ketahui. Apa yang sebenarnya akan direncanakan dengan adanya bulan biru di Planet Sankz itu, Tuan? Maaf sebelumnya jika aku lancang.”
“Untuk saat ini, aku masih belum bisa menyampaikannya padamu.”
“Baik, Tuan.”
“Kalau begitu, segera pergi dan perintahkan pasukan Abrasus untuk bersiap menghadapi masa penantian kita.”
“Siap, Tuan!” Saga segera berlalu meninggalkan ruang utama kerajaan.
Saat baru saja ke luar ruangan, Saga membuang wajah seriusnya. Melepaskan napas beratnya. Hatinya masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang Ghanda rencanakan? Tapi, tak mungkin ia bersikeras menanyakan itu pada pemimpinnya.
Saga melanjutkan langkahnya. Menuju belakang istana untuk menyiapkan pasukan Abrasus agar bersiaga sesuai perintah Ghanda. Waktu penantian selama tujuh tahun bukan waktu yang lama bagi mereka, jika harus dibandingkan dengan penantian lebih dari 990 tahun selama ini.
Seusai itu, Saga berencana untuk beristirahat di kamarnya.
[Next Part 10]
__ADS_1