Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Cahaya Sagitarius


__ADS_3

Pangeran Sagi merasakan sesuatu yang sedikit hangat menyentuh wajahnya. Pangeran membuka mata. Ini masih malam, pikirnya.


Pangeran terkesiap saat melihat bola cahaya seukuran genggaman tangan melayang-layang di ruangannya. Bola cahaya itu bergerak naik dan turun, lalu mendekatinya. Bola cahaya itu menyentuh wajahnya dan Pangeran merasakan hangat saat bola itu menyentuhnya.


Pangeran melihat sekeliling. “Pasti ada penyihir di ruangan ini. Tunjukkan dirimu, Penyihir! Jangan bersembunyi!” gertak Pangeran.


Tak ada apapun yang muncul lagi, juga tak ada siapa pun di ruang kamarnya. Pangeran lantas menatap bola cahaya itu.


Bola bercahaya putih itu perlahan mendekat pada Pangeran. Pangeran memberanikan diri untuk menyentuhnya. Sepertinya bola cahaya itu tidak bermaksud jahat.


Pangeran menggapai bola cahaya itu. Saat tangannya berhasil menggenggam bola itu, seketika cahaya besar keluar dari bola itu. Cahaya itu memenuhi isi ruang dan seketika lenyap.


Pangeran Sagi kini berdiri di sebuah ruang dengan cahaya putih. Matanya harus beradaptasi dengan kilauan cahaya. Ia mengedarkan pandangannya. Di mana ini?


Tempat ini begitu luas tak bertepi. Tak ada benda apapun di sini. Hanya ada ruang hampa dengan cahaya yang memenuhi setiap isi ruang. Pangeran sadar kini ia tidak berada di kamarnya. Tak ada ranjang tempatnya tidur.


Pangeran masih mengenakan celana tidur, namun tidak menggunakan baju. Ia merasa lebih nyaman tidur tanpa atasan dan membiarkan selimut yang menghangatkannya. Tubuhnya yang dibentuk oleh latihan-latihan rutin sangat jelas terlihat hasilnya saat ia tak mengenakan sehelai pun atasan.


“Sagitarius,” sebuah suara menggema di udara. Pangeran mengedarkan matanya. Tak ada siapapun.


Pangeran tetap tenang dan waspada. Ia berpikir seorang penyihir telah membawanya ke tempat ini.


Tak berapa lama sebuah cahaya berkumpul dalam satu titik dan memadatkan diri. Cahaya itu membentuk seorang pria dewasa dengan pakaian berjubah. Tidak tampak tampilan dan aura penyihir pada pria itu.


“Sagitarius, putra mahkota yang memiliki hati yang kuat. Hatimu yang kuat dan tulis membuat orang-orang yang berada di sekelilingmu menyukai dan mengagumimu. Dalam dirimu berpendar cahaya yang menakjubkan,” pria itu berbicara seolah dia sudah hidup dengan Pangeran Sagi sejak kecil.


“Siapa kamu?” tanya Pangeran. “Mau apa kamu membawaku ke sini?” ia tetap bersikap tenang namun tegas.


“Namaku Luid Cornius. Pasti kamu tidak asing dengan nama itu, kan? Kamulah yang telah mengaktifkan mantra terlarang dan melepaskan jiwaku,” kata pria itu.


“Aku tidak mengerti. Apa maksudmu dengan mantra terlarang dan mengaktifkannya,” jawab Pangeran. Ia ingat nama Luid Cornius adalah nama yang tertulis pada buku tua yang dibacanya sebelum meledakkan cahaya.


“Akan kujelaskan semua. Namun ada satu syarat. Kamu harus memercayai semua yang kukatakan. Jangan bertanya sebelum kuselesaikan penjelasanku. Bersedia?” ujarnya.


Pangeran menimbang. “Bagaimana jika aku tidak memercayaimu?” tanya Pangeran.

__ADS_1


“Jika kamu tak percaya. Maka semua rencana yang sudah kubuat untukmu tidak akan berjalan.”


Pangeran kembali berpikir. Di satu sisi ia penasaran dengan rencana yang sudah dibuat pria itu. “Baiklah, aku akan mempercayaimu,” katanya.


Pria itu memulai cerita dan penjelasannya. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah Raja yang memerintah saat serangan Pasukan Langit datang. Itu artinya Sagi adalah cucu yang entah berapa generasi setelahnya.


Raja Luid mengetahui nama Sagitarius saat cahaya mendorong dan meresapi tubuhnya. Ia diberi nama semirip mungkin dengan seorang Pangeran generasi sebelumnya yang menghilang, namun dibuat sebeda mungkin. Wajah Pangeran Saga pada lukisan yang disimpan di puri akan dikira sebagai lukisan Pangeran Sagi jika orang tak mengetahui tahun pembuatannya. Pangeran Sagi memiliki nama lengkap Sagitarius. Sagitarius merupakan bintang penutup tahun. Makna itu berarti cahaya bintang di puncak kegemilangan.


Saat Raja Luid menceritakan peristiwa serangan Pasukan Langit, sekumpulan cahaya memberikan gambaran peristiwa itu dengan sangat nyata. Seolah rekaman yang disimpan dan diputar ulang.


“Serangan kedua akan kembali dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Itulah yang kulihat dari perjalanan waktuku,” tutup Raja Luid.


“Aku sudah tahu tentang serangan Pasukan Langit. Tapi aku sadar belum cukup siap untuk menghadapinya. Semua persiapan yang sedang kerajaan persiapkan rasanya tidak sebanding dengan kekuatan yang Raja perlihatkan.” Pangeran Sagi memutuskan memanggilanya Raja, bukan kakek.


Pangeran Sagi tidak berbasa-basi. “Aku mohon petunjuk darimu yang sudah melihat masa depan. Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.


“Itulah yang ingin kutawarkan selanjutnya padamu. Aku dapat memberimu kemampuan menjelajahi planetmu sendiri. Temukanlah peninggalan-peninggalan kerajaan dahulu yang terkubur dalam di lautan. Peninggalan-peninggalan itu akan sangat berguna bagimu untuk melawan Pasukan Langit,” kata Raja Luid.


Kemudian ruangan bercahaya itu berubah menjadi sebuah pemandangan laut yang sangat luas. Pangeran Sagi dan Raja Luid sudah melayang di atas lautan yang memantulkan cahaya matahari.


Pangeran Sagi melihat sekeliling. Begitu nyata sekaligus ajaib. Bagaimana bisa pria ini membawanya keluar dari dinding itu. Pria ini pasti memiliki kekuatan tinggi dan telah mengaktifkan banyak mantra.


“Aku bersedia. Demi rakyat dan kerajaan aku akan melakukannya!” kata Pangeran Sagi.


Raja Luid tersenyum. Ia merasa bangga pada keturunannya yang memiliki keberanian dan niat yang tulus ini.


“Akan tetapi bagaimana dengan kerajaan yang kutinggalkan?” tanya Pangeran. Ia teringat ibunya yang akan mencemaskannya jika ia tak ada.


“Tenang saja. Aku sudah mengaturnya. Aku akan kembali ke kerajaan dan mengaktifkan mantra perwujudanku. Aku akan menjadi dirimu dan menggantikan tugasmu sementara. Namun mantra itu sangat terbatas. Ia hanya bisa digunakan pada saat matahari terbit. Pada malam hari mantra itu tidak aktif,” kata Raja Luid.


Pangeran Sagi menggangguk dan memercayakan kerajaan pada Raja Luid. Ia yakin sebagai seorang Raja, Raja Luid tahu apa yang harus dilakukannya di kerajaan.


Raja Luid yang menyampaikan itu sadar bahwa jika ia mengaktifkan mantra perwujudan setelah tubuh fisiknya hilang, ia akan lenyap jika mantra perwujudan tak lagi aktif. Artinya, jiwanya yang kini hidup akan benar-benar hilang jika ia mengaktifkan mantra perwujudan setelah waktu aktifnya habis.


“Kuharap kamu kembali tepat waktu,” kata Raja Luid.

__ADS_1


Raja Luid membacakan mantra. Kemudian cahaya berputar di tubuh Pangeran Sagi. Tak berapa lama Pangeran Sagi sudah berpakaian lengkap dengan pelindung dari serangan. Di tangannya sudah tergenggam kotak kaca berisi butiran pasir yang diberikan Sang Ratu.


Raja Luid lantas mengusap lengan kiri Pangeran Sagi dan muncullah sebuah mantra yang kemudian meresap ke dalam kulitnya.


“Jika kamu sudah menyelesaikan misi ini, usaplah lengan kirimu ini dengan mata tertutup. Lalu bacalah mantra ini. Maka kamu akan kembali ke kerajaan. Kita bertemu di kerajaan di waktu yang tepat, selambatnya seminggu sebelum bulan biru muncul. Karena jika kamu telat, kita tidak akan bertemu lagi,” kata Raja Luid. Ia akan mengaktifkan mantra perwujudan sampai waktu yang ia janjikan dengan Pangeran. Lewat dari itu mantranya tidak lagi aktif dan ia akan lenyap.


“Baik, aku mengerti. Aku akan datang sesuai batas waktu yang Raja berikan. Aku akan menyelesaikan misi ini,” ujar Pangeran.


“Serbuk pasir pada kotak kaca itu merupakan serbuk pasir koleksi seorang Raja dari Kerajaan Deltatu pada jaman dahulu yang dihadiahkan untuk Kerajaan Ferrata. Kamu bisa menggunakan pasir itu untuk membantumu,” kata Raja Luid.


“Bagaimana pasir ini akan membantuku?” tanya Pangeran Sagi.


“Pecahkan salah satu bagian pada kotak kaca itu. Lalu taburkan pasir itu pada tubuhmu,” kata Raja Luid.


Pangeran Sagi menurutinya. Ia memecahkan salah satu sisi kaca itu dengan sikunya. Kemudian ia menaburkan pasir hidup itu ke tubuhnya. Pasir itu segera merayapi tubuhnya dan meresap pada setiap pori-pori kulitnya.


Pangeran Sagi merasakan ada yang bergerak di setiap alliran darahnya. Lalu tak berapa lama tubuhnya terasa sangat ringan.


“Sekarang pikirkanlah tubuhmu melebur seperti pasir gurun,” kata raja Luid.


Pangeran Sagi mengikuti arahan itu. Ia memikirkan pasir yang melayang tertiup angin. Ia sangat fokus dan tenang. Hal aneh lain yang mengejutkannya pun muncul. Tubuhnya perlahan mengering dan berubah menjadi butiran pasir yang melayang di sekitarnya.


“Kamu dapat mengubah tubuhmu seperti pasir yang lembut, dan dapat mengembalikannya ke tubuh aslimu jika kamu menginginkannya,” jelas Raja Luid.


Penjelasan itu memberikan Pangeran kelegaan bahwa ia tetap baik-baik saja.


“Sekarang pergilah. Jelajahi lautan ini. Temukan yang kamu cari. Aku tahu ada yang ingin kamu cari di dasar lautan ini,” kata Raja Luid.


Pangeran Sagi tahu bahwa Raja Luid sudah membaca pikirannya lewat ledakan cahaya itu. Ia lantas memfokuskan tubuhnya menjadi pasir.


“Kalau begitu aku akan pergi. Aku titip kerajaan pada Raja,” ujar Pangeran. Seluruh tubuhnya perlahan menjadi pasir. Sampai akhirnya menjadi segumpalan pasir yang bergerak dan melayang di udara.


Pasir itu lantas terbang menjauh dari Raja Luid.


[Next part 19]

__ADS_1


__ADS_2