
Saga menghindari serangan ular dengan gesit dan ia mampu menebas ular-ular itu dengan mudah. Pedangnya juga berhasil menusuk dan merobek macan yang menyerangnya. Binatang yang telah mati menjadi cahaya lalu lenyap.
Pada saat melawan gajah-gajah, Saga kewalahan. Gajah itu teramat kuat. Sampai akhirnya ia menebas satu belalai gajah dengan pedangnya hingga putus. Gajah itu pun lenyap menjadi cahaya. Gajah-gajah lainnya berhasil dikalahkan oleh Saga dalam pertempuran yang menegangkan.
Menghadapi makhluk-makhluk yang tak memiliki wajah, Saga mulai kewalahan. Makhluk-makhluk itu tak dapat ditebas dengan pedangnya. Pedang yang dihunus dan ditebaskan menembus dan melewati makhluk itu tanpa melukainya.
“Sial. Kalau begini aku tidak akan mungkin menang!” ujar Saga.
Saga mendapatkan serangan-serangan dari makhluk tak berwajah itu. Tubuhnya terjatuh. Ia merasakan sakit dan ngilu di tubuhnya. “Ini tidak adil. Aku harus berhadapan dengan makhluk yang tak bisa kusentuh.”
Saga mundur beberapa langkah. Ia mencari cara untuk mengalahkannya. Ia mencari kelemahan makhluk-makhluk tak berwajah itu. Melihat makhluk tak berwajah itu, Saga mencoba memikirkan bagaimana makhluk itu bisa mengetahui keberadaannya dan memberinya serangan balik.
Beberapa makhluk kembali menyerang. Saga tak dapat menghindar. Makhluk itu tahu persis keberadaan Saga. Dari semua serangan itu, Saga mendapatkan banyak serangan di wajah dan kepalanya. Entah mengapa makhluk itu selalu menyerang kepalanya.
“Ah, mungkinkah ia mengincar kepalaku?” pikir Saga. “Kenapa ia mengincar kepalaku?”
Saga menghindar dan mencoba menganalisis pola serangan-serangan makhluk itu. Saga menduga makhluk itu dapat mendeteksi isi kepalanya. “Pikiran!” Saga tercengang.
Mendapatkan dugaan seperti itu. Saga akhirnya berdiam diri. Ia mencoba menghilangkan pikirannya. Namun sedetikpun pikirannya tak bisa dipaksa berhenti. Selalu ada yang melintas keluar masuk di pikirannya.
Kembali Saga mendapati serangan. Lalu dia mencoba menghilangkan pikiran tentang makhluk itu di kepalanya. Saga memejamkan mata. Ia memfokuskan isi kepalanya.
“Jangan pikirkan makhuk ini,” batinnya.
Beberapa menit Saga bertahan. Tak ada serangan. Saga pun membuka mata. Makhluk-makhluk itu kini tak bisa mengetahui keberadaan Saga. Mereka melayang tak jelas arahnya.
“Aku tak perlu melawan makhluk ini. Aku hanya cukup tidak memikirkannya. Maka makhluk ini pun tak dapat menyerangku,” kata Saga.
Saga pun mengabaikan keberadaan makhluk-makhluk tak berwajah itu. Selama makhluk itu tak dapat membaca keberadaannya, ia akan bebas bergerak untuk selanjutnya mengalahkan monster batu yang terlihat kuat, tinggi dan pasti merepotkan.
Saga memandang monster-monster batu itu. Kekuatan sebesar apa agar ia bisa mengalahkan monster itu? Ketinggian monster-monster itu melebihi tingginya pepohonan yang ada di Hutan Terlarang.
__ADS_1
“Tapi aku tak akan kalah. Aku akan mengalahkan monster-monster sialan ini!” ujar Saga tegas.
Saga pun mengingat kembali peta hutan yang telah dijelajahinya. Mengngat setiap sudut tempat yang sudah ia masuki selama sebulan pertama di hutan ini saat ia mencari Roh Penjaga Hutan. Dan Saga pun mendapatkan sebuah ide.
Saga meneriaki monster-monster batu itu agar mereka melihatnya. Ia pun melempari makluk itu dengan kayu. Setelah monster-monster batu melihat Saga, Saga berlari dengan cepat di antara pepohonan.
Saga bermanuver melewati pohon demi pohon. Menuruni lembah, sungai, dan manaiki bukit. Di atas bukit, ia dapat melihat makhluk itu dengan jelas. Kepala mereka bulat namun tidak beraturan. Wajah mereka memiliki mata dan mulut dengan bentuk seperti pahatan yang belum selesai. Mereka tak memiliki hidung.
Di atas bukit bebatuan, Saga menertawakan monster-monster itu. Ia menantang mereka. “Jika memang kalian makhluk yang kuat, maka hancurkanlah aku dalam satu kali pukulan!” begitulah Saga menantang mereka.
Monster-monster besar dengan fisik dari batu itu serempak mengangkat tangan kanannya. Bersiap memberi pelajaran pada Saga. Melihat umpannya berhasil, Saga mempersiapkan diri. Ia melirik sebatang kayu di dekat kakinya.
Monster-monster batu itu pun memberi pukulan keras pada Saga yang berdiri di atas bukit secara bersamaan. Dengan pergerakan yang cepat, sebelum bogeman monster itu menghujamnya, Saga mendorong kayu di sampingnya dengan kaki agar terjatuh. Saat kayu itu meluncur di permukaan tanah dari puncak menuju bawah, Saga melompat dan berdiri di atas kayu. Ia meluncur bersama kayu itu seakan sedang melakukan seluncur ski. Beruntung Saga dapat bergerak cepat. Terlambat sedikit saja ia bisa hancur terkena pukulan monster batu.
Saga melewati batu-batu dan pohon-pohon di depannya menggunakan ski kayu. Ia terus meluncur. Bebatuan dari puncak bukit mulai berjatuhan dan runtuh akibat hantaman dahsyat monster-monster batu yang memiliki tangan super besar.
Saga menghentikan ski kayunya setelah cukup jauh dari bukit. Lalu ia membalikkan badan. Melihat ke arah bukit.
Monster-monster itu berjatuhan dan saling menghimpit satu sama lain. Saga mendapatkan kemenanga!
Tak berapa lama Roh Penjaga Hutan datang. “Kamu tidak hanya mampu bertarung. Kamu memiliki kecerdasan dan kecepatan. Aku mengakui kemenanganmu,” kata Roh Penjaga Hutan yang hanya terdengar di telinga Saga.
Saga tersenyum. “Ini semua kulakukan demi menjadi temanmu, Roh Penjaga Hutan,” balas Saga. Meski Roh Penjaga Hutan berkata dalam telinga Saga, namun Saga tetap berbicara dengan suara biasa. Seperti orang yang sedang berbicara dalam jarak yang berbeda.
“Senang bisa menjadi temanmu. Aku harus memanggilmu apa?” tanya Roh Penjaga Hutan.
“Aku ingin memiliki nama baru, yakni Volcano. Namun nama itu hanya pantas kumiliki jika aku memiliki satu kemampuan, yakni mengeluarka cairan api yang terdapat di dalam gunung. Api yang memiliki cairan lebih kental dan dapat mengeras saat dingin,” ungkap Saga.
“Dengan senang hati aku akan memberimu kemampuan itu. Nama itu sangat pantas untukmu, Kawanku,” balas Roh Penjaga Hutan.
“Dan, aku juga ingin sepertimu. Memiliki kemampuan untuk terbang,” ujar Saga.
__ADS_1
“Baiklah, Kawan, aku akan memberimu dua kemampuan seperti yang kamu mau.” Roh Penjaga Hutan lantas mengangkat tangan kirinya.
Perlahan Saga terangkat ke udara. Atmosfer dan angin di sekitar Saga memanas. Saga menahan rasa panas itu. Talapak tangan dan jari jemari Saga mengalami banyak retakan. Di dalam retakkan itu, mengalir bara api cair, itulah lava dari dalam gunung.
Mata Saga memerah. Dari dalam tubuhnya memancar cahaya orange kemerahan. Saga makin menahan panas yang mengalir di dalam tubuhnya.
Setelah proses itu selesai, Roh Penjaga Hutan menurunkan Saga. Tubuh Saga sudah kembali dingin. Retakan di tangannya sudah kembali seperti semula. Dan matanya yang memerah sudah kembali normal. Hanya ada satu perubahan jelas yang kini tampak, yakni sebagian rambutnya berwarna orange.
“Sekarang, coba rasakan aliran kekuatan yang mengalir di tubuhmu. Dan kamu bisa mencoba kemampuan barumu,” kata Roh Penjaga Hutan.
Saga merasakan tubuhnya lebih ringan dan nyaman. Ia dapat merasakan kekuatan yang mengalir di tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Saga mencoba untuk melayang.
Tubuh Saga perlahan terangkat ke udara. Saga berdiri di atas pepohonan. Ia melihat-lihat telapak tangannya. Lalu ia menguji kemampuan vulkaniknya. Ia memanaskan kedua tangannya. Kemudian ia mencoba melemparkan sesuatu dari tangannya.
Alhasil, cairan api terlempar dari kedua tangannya dan membakar pohon. Hutan gelap gulita itu menjadi terang oleh cahaya api vulkaniknya.
Saga kembali ke daratan. “Kini kamu bisa memanggilku Volcano, Kawan. Terima kasih untuk kemampuan ini.”
“Dengan senang hati, Volcano. Aku berjanji akan setia menjadi temanmu,” kata Roh Penjaga Hutan. “Aku ditakdirkan untuk tidak melanggar aturanku. Setiap orang yang berhasil menyelesaikan ujianku, permintaannya harus kukabulkan. Dan kini kamu mendapatkanku sebagai teman atas keberhasilanmu,” lanjutnya.
“Sebuah kebahagiaan bisa menjadi temanmu, Roh Penjaga Hutan. Sekarang mari kita kembali ke istana,” ajak Saga yang kini memiliki alter ego sebagai Volcano.
“Aku tidak mungkin ikut denganmu, Volcano. Wujudku akan dikenali oleh orang-orang yang pernah melihatku di sini,” kata Roh Penjaga Hutan.
“Kalau begitu, kamu bisa membuat dirimu tak terlihat. Atau kamu bisa menjadi bentuk lain supaya aku tetap mengetahui keberadaanmu,” usul Saga.
“Baiklah, aku akan mengubah diriku menjadi binatang yang dapat mengikutimu ke mana pun pergi.” Roh Penjaga Hutan pun berputar dan berubah menjadi seekor elang dengan mata tajam.
Saga tersenyum. Ia menyukai selera binatang Roh Penjaga Hutan. Mereka pun pergi meninggalkan hutan menuju istana Ghanda.
[Next Part 22]
__ADS_1