Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Turnamen Memanah


__ADS_3

993 tahun setelah serangan itu.


Sekolah tengah libur panjang tahun ini. Semua penduduk sudah tidak sabar menanti hari ini. Ini adalah hari pembukaan Turnamen Memanah.


Asteria dan Viana duduk bersampingan di kursi tribun yang disediakan untuk penonton di lapangan yang disulap menjadi arena turnamen, yang berada di belakang kastil kerajaan.


Ribuan penduduk sudah memenuhi barisan tempat duduk. Sorak-sorai mereka memenuhi ruang udara.


“Pokoknya, kamu harus memenangkan Turnamen Memanah tahun ini, Aster,” ujar Viana.


“Tenang saja, aku sudah berlatih dengan sangat keras!” Asteria menggambarkan dirinya berlatih setahun ke belakang. Ia berlatih memanah lebih keras dari sebelumnya.


Tahun lalu Asteria kalah, dan ia tidak mau mengulangi kekalahannya di tahun ini. Dalam latihannya, Asteria membuat patung kayu sendiri untuk bidikan latihannya. Selain itu, ia memanah dari jarak yang jauh, ia juga membuat rintangannya sendiri untuk mematangkan latihannya.


Asteria membentangkan kayu selebar 8 jari tangannya, kemudian ia berjalan di atasnya. Patung-patung kayu buatannya berbaris dengan posisi acak dari kejauhan. Asteria harus memanah tepat mengenai kepala patung itu sambil berjalan di atas kayu panjang dari kejauhan. Selain membutuhkan kekuatan tarikan busur dan fokus, ia juga harus menjaga keseimbangan tubuhnya berjalan di atas kayu.


Setelah terjatuh beberapa kali dan panahannya meleset, Asteria terus mencoba sampai akhirnya berhasil mengenai semua bidikannya dengan sempurna. Bukan hanya itu saja, Asteria membuat metode latihan dengan banyak hal, seperti menggantungkan patung kayu dan mengayunkannya.


Asteria harus bisa memanah tepat di kepala patung saat si patung berayun. Ia juga membuat teknik memanah dan mempelajari bidikannya, antara jarak, kekuatan bahan bidikan, dan kekuatan tarikannya.


“Malah melamun!” Viana menepuk Asteria. Membuat Asteria kembali tersadar.


Asteria tersenyum. “Pokoknya, tahun ini aku pasti akan melewati semua tahap dan memenangkan pertandingan. Lagian, aku juga ingin membuat bangga kedua orangtuaku.” Ia berkata penuh semangat.


Viana ikut tersenyum mendengarnya. Ia bangga pada keyakinan dan semangat sahabatnya itu.


Perhatian mereka terpecah saat suara terompet nyaring dibunyikan. Semua penduduk yang semula bersorak ramai, diam seketika. Suasananya menjadi tenang. Semua menunggu sesuatu, lebih tepatnya pengumuman.


Dari arah utara, seorang prajurit kerajaan memberikan pengumuman.

__ADS_1


“Kepada seluruh penduduk New Ferrata, Turnamen Memanah tahun ini akan segera dibuka. Kepada seluruh peserta yang sudah terdaftar, segera berkumpul di tengah lapangan!”


Setelah tentara itu diam, semua peserta turun dari tribun menuju lapangan.


Asteria menoleh pada Viana sebelum turun. “Doakan aku, ya!”


“Itu sudah pasti. Semoga beruntung.” Viana tersenyum.


Kini semua peserta sudah berkumpul di lapangan. Asteria berada di barisan terakhir. Ia memutar kepalanya. Melihat seluruh penonton yang memenuhi tribun. Hatinya bergemuruh.


Asteria menguatkan hati, “Kali ini, aku akan membuat semua penonton menyebut-nyebut namaku. Lihat saja nanti, aku pasti akan menang. Aku tidak akan mengulangi kekalahanku lagi,” gumam Asteria.


Ia kemudian melirik beberapa lawannya yang berdiri di barisannya. Wajah-wajah mereka penuh keyakinan, tapi Asteria tidak gentar. Di hadapannya, berbaris remaja seusianya hanya terlihat kepala belakangnya saja.


Lapangan sudah dipenuhi laki-laki muda usia 14 sampai 18 tahun. Sekira seratus empat puluh dua orang mengikuti Turnamen Memanah tahun ini.


Sementara itu, dari kejauhan, Viana terus merapalkan doa. Meminta yang terbaik untuk sahabatnya. Turnamen Memanah memang hanya diperuntukan untuk anak laki-laki, itulah yang membuat Viana tak bisa ikut.


Seorang lelaki muda bertubuh tinggi dengan postur tegap, tampan dan berkulit putih, ke luar dari gerbang atas kastil istana. Semua penduduk mendongah demi melihat Sang Pangeran. Pangeran yang disebut Pangeran Muda melangkah menuju tempat duduknya.


Dari tempat yang paling tinggi itulah, ia dapat melihat seluruh lapangan dan penonton. Semua penduduk, terutama anak gadis, berteriak dan histeris melihat ketampanannya, termasuk Viana.


“Mohon diam semuanya,” prajurit kerajaan melanjutkan tugasnya setelah Pangeran duduk. “Turnamen akan segera dimulai. Untuk itu, kepada para peserta agar mempersiapkan peralatannya. Selanjutnya, aku serahkan pada Prajurit Eri yang akan membuka Turnamen Tahap 1 sekaligus membacakan peraturannya.” prajurit yang tak menyebutkan namanya itu menutup pengumumannya.


Di tempatnya beridiri, Asteria dan peserta lain mulai membenarkan posisi busur panah dan anak-anak panahnya di punggung. Memastikan semuanya sudah siap.


“Baik, terima kasih, Prajurit Nara,” ujar Praajurit Eri. Ia mengambil alih perhatian. “Tanpa menunggu waktu lagi, Turnamen Memanah tahun ini, dibuka!”


Tepuk tangan bergemuruh.

__ADS_1


Prajurit Eri mengangkat tangannya. Semua berhenti.


“Aku akan membacakan peraturan turnamen pada tahap 1 ini. Pertama, setiap peserta hanya boleh membawa 3 anak panah. Kedua, setiap peserta harus menemukan patung kayu yang sudah disimpan secara terpisah di hutan, kemudian memanahnya. Bagi yang dapat memanah patung, maka akan lolos ke tahap selanjutnya. Ketiga, tidak boleh ada adu fisik sesama peserta. Jika diketahui ada yang melakukan perkelahian fisik, maka akan didiskualifikasi. Keempat, waktu kalian untuk mendapatkan patung itu terbatas, hanya 1 jam. Setelah gerbang barat dan timur dibuka, setiap peserta harus meninggalkan lapangan dan ke luar melalui salah satu gerbang tersebut. Ingat, kalian harus memanah 1 patung kayu untuk bisa lolos ke tahap berikutnya, kemudian ambil kain pada leher patung sebagai bukti bahwa kalian sudah mendapatkan patung tersebut. Dan, jumlah patung yang disebar sangat terbatas. Bagi kalian yang tidak mendapatkannya, maka tidak dapat melanjutkan ke tahap berikutnya!”


Prajurit-prajurit kerajaan lain yang sudah bersiap di lapangan menghambur menuju peserta, memeriksa mereka satu persatu agar tak ada yang menggunakan alat di luar ketentuan. Selain itu, mereka mengambil anak panah peserta dan hanya menyisakan 3.


Setiap anak panah peserta diberi tanda yang berbeda antara satu dan yang lainnya, untuk memudahkan penjurian. Itu semacam kode kepemilikan.


Para peserta akan dilepas tanpa diawasi, mereka akan kembali setelah waktu habis. Juri hanya akan melihat pada kode anak panah yang menancap di patung untuk mengetahui siapa yang telah memanahnya kemudian mencocokannya dengan kain yang dibawa peserta, setiap patung memiliki kain yang diberi kode tertentu untuk membedakan.


“Baiklah, jika pemeriksaan sudah selesai, Turnamen Tahap 1 akan segera kita mulai!” Prajurit Er membuka kembali suaranya yang menggema. “


Waktu dimulai sejak gerbang barat dan timur dibuka. Selamat bertanding!” tutupnya.


Semua peserta tampak tegang. Perhatian tertuju pada dua gerbang. Penenton yang memenuhi tribun menunggu dengan cemas. Di antara mereka ada yang datang mendukung anaknya, kakaknya, pacarnya atau sahabatnya.


Gerbang barat dan timur perlahan terbuka. Semua peserta berlari menuju kedua gerbang tersebut. Mereka terbagi menjadi dua, menuju barat dan timur, sesuai pilihannya sendiri.


Asteria masih berdiri di tengah lapangan. Sendirian. Ia masih bingung memilih barat atau timur. Sementara itu semua penonton memerhatikannya penuh tanda tanya dan kegemasan karena semua peserta sudah pergi.


“Asteria!” Viana berteriak. “Jangan bodoh. Segera lari dan rebut kainnya!”


Asteria berpikir keras. Mempertimbangkan ini dan itu. Ia tak mendengar teriakan Viana karena suara-suara penonton baik teriakan maupun bisikan membuat gemuruh tak jelas.


Asteria melihat ke atas, tepat pada lokasi Sang Pangeran duduk. Kemudian pada beberapa prajurit yang berada di sekitar Pangeran. Ia memerhatan dengan detail. Tak terkecuali pada Prajurit Er yang baru saja membuka tahap 1.


“Baiklah, aku mengerti.” Asteria kemudian berlari menuju pintu gerbang bagian barat. [Next Part 5]


 

__ADS_1


 


__ADS_2