Para Penjelajah Semesta

Para Penjelajah Semesta
Dunia Mimpi


__ADS_3

Entah jam berapa ini, langit masih sangat gelap. Asteria berdiri di sebuah tempat yang sangat gelap. Perlahan ia merasakan mual-mual yang luar biasa. Ia ingat terakhir kali pelayan membawanya ke kamar tamu di kastil kerajaan New Ferrata.


Asteria berjalan mencari toilet. Ruangan di sekitarnya gelap gulita. Apakah memang kerajaan mematikan lampu saat tengah malam? Tanya Asteria dalam hati. Ia ingin segera ke toilet dan membuang mual dan rasa mengganjal di perut.


Asteria mencari pencahayaan, namun tak menemukannya. Ia berjalan dan terus berjalan. Rasanya ruang kamar tamu ini sangat luas. Ia terus berjalan namun tak menemukan tembok atau pintu. Hanya gelap dan gelap.


Asteria mencoba membuang isi perutnya demi melepaskan rasa mualnya, tak ada apapun yang keluar. Ia memijat perut dan tengkuknya sendiri, namun tetap kosong. Asteria berpikir bahwa ia tidak betul-betul mual, dan perlahan rasa mual itu lenyap. Jadi ini hanya sugesti, atau apa? Membingungkan.


Asteria memukul wajahnya sendiri. Tak ada sakit yang dirasakan. “Apakah ini hanya mimpi? Tapi mengapa mual tadi begitu terasa nyata jika ini hanya mimpi?”


Asteria kembali ke ranjangnya. Sama saat seperti ia mencari sumber cahaya dan toilet, ranjang itu tak pernah ditemukan. Ia hanya berjalan dalam kegelapan.


“Di mana ini?”Asteria mulai bingung. “Pangeran Sagiiii!” ia memanggil nama pangeran. Semoga ada yang mendengar atau terganggu oleh teriakannya jika ia berada di kastil.


Tak ada yang menyahut. Sepi.


“Asteria,” sebuah suara menggema menyebutkan namanya.


Asteria melirik ke segala arah. Tak ada siapapun. “Siapa kamu? Di mana ini?”


“Tenanglah,” suara itu tidak sekeras gema pertama. Perlahan sesosok pria dengan pakaian yang sangat indah dan gagah muncul. Kehadirannya mengejutkan Asteria.


Pria itu berbicara dengan suara normal. “Selamat datang di Dunia Mimpi, wahai seorang Pemimpi,” ujar lelaki itu.


Asteria masih menaruh curiga pada pria yang tak dikenalinya itu. “Apa maksudmu Dunia Mimpi?”


“Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kamu harus percayai semua yang kukatakan. Jangan bertanya sebelum kuselesaikan penjelasanku. Mengerti?”


Asteria masih menimbang. Namun apa salahnya ia mengikuti mau pria asing ini. “Baik,” kata Asteria.


Pria itu mulai bercerita:


“Namaku Luid Cornius. Aku adalah seorang Raja di Kerajaan Ferrata. Kira-kira 993 tahun lalu aku memerintah sebagai Raja di sana. Aku tidak mati. Aku hanya melepaskan jiwa dan melenyapkan ragaku. Jiwaku tersimpan dalam sebuah mantra terlarang.”


Asteria tak berani memotong. Namun dari sedikit penjelasannya, banyak hal yang menjadi pertanyaan bagi dirinya.


Pria itu melanjutkan ceritanya. “Dahulu telah terjadi serangan besar dari Pasukan Langit. Mereka menghancurkan semua yang ada di Planet Sankz.”

__ADS_1


Tiba-tiba cahaya muncul di sekitar Asteria. Cahaya itu berkumpul dan menayangkan peristiwa serangan 993 tahun silam. Asteria dibuat takjub dengan keajaiban ini. Ia seperti melihat langsung peristiwa itu.


“Kerajaan Ferrata memutuskan menutup dinding dengan mantra pelindung. Setelah itu kerjaan dan negeri menjadi tertutuo. Di tahun ketiga setelah serangan, kerajaan sudah kembali pulih dan masyarakat kembali melanjutkan hidupnya. Namun, pada saat itu, aku penasaran akan masa depan. Apa yang terjadi di masa depan.


Aku membuka kitab mantra dan membacakan mantra yang dapat melihat masa depan. Aku pergi ke masa depan berabad-abad. Aku melihat serangan yang lebih dahyat muncul pada bulan biru seribu tahun kemudian. Aku takut dan tak tahu harus mengatakan apa pada rakyat.


Aku menjelaskan apa yang kulihat pada seorang Penasihat Kerajaan. Ia kuminta menyimpan visi dariku dan jangan pernah mengatakan bahwa aku telah pergi ke masa depan. Ia kuperbolehkan mengarang cerita apa saja untuk meyakinkan rakyat bahwa 1000 tahun kemudian serangan Pasukan Langit akan kembali datang.


Setelah itu aku masih cemas. Aku masih khawatir rakyat di masa depan meragukan cerita yang dibuat Penasihat bahwa akan ada serangan kembali. Kupikir agar aku bisa meyakinkan rakyat di masa depan, aku harus menyampaikannya langsung pada mereka.”


Sekali lagi Asteria menahan pertanyaan-pertanyaannya.


“Aku akhirnya memutuskan menyimpan jiwa dan ragaku dalam sebuah mantra yang sangat langka. Jika di masa depan ada yang membaca mantra itu, aku akan terbebas dari mantra dan mendatangi orang yang terkena percikan cahaya mantra dengan cara apapun. Mimpi salah satunya.


Sekarang aku harus meyakinkan dirimu bahwa Pasukan Langit akan kembali menyerang. Kalian harus bersiap.”


Pria itu tak berkata lagi. Mungkin inilah tanda bahwa Asteria boleh bicara.


“Hanya itu saja. Kupikir kamu, maksudku Raja, akan ikut membantu menyerang Pasukan Langit,” komentar Asteria pertama kali.


“Aku tidak bisa. Tubuhku sudah menghilang saat aku menuliskan dan membacakan mantra itu dalam Kitab Mantra. Hanya jiwa dan energiku yang dapat kembali, seperti saat ini. Tubuhku sudah lenyap menjadi udara. Aku hanya hadir untuk meyakinkan adanya serangan Pasukan Langit.”


“Apakah Raja tidak dapat membantu kami?” tanya Asteria akhirnya.


“Aku tidak dapat membantu bertempur. Hanya jiwa dan energiku yang tersisa,” jawab Raja Luid. “Namun aku dapat membantu menemukan jalan,” sambungnya.


“Itu lebih baik. Jalan apa yang Raja maksud?” tanya Asteria.


“Aku dapat memberimu kesempatan melintasi berbagai planet, galaksi, bintang-bintang di seluruh semesta raya ini. Kamu dapat menggunakan kesempatan itu untuk mencari berbagai kemampuan dan kekuatan untuk bertarung. Pergilah ke berbagai planet di semesta ini. Dapatkanlah kekuatan-kekuatanmu. Dan kamu dapat menggunakannya untuk melawan Pasukan Langit,” jelas Raja Luid.


Tawaran yang menarik, pikir Asteria. Ia bisa menggunakan kesempatan itu untuk memuaskan hasrat petualangan dan rasa keingin-tahuannya. Dahulu ia ingin menjelajah. Kini impian itu terwujud dengan misi dan penjelajahan yang sangat luas. Tak terbayang luasnya.


“Bagaiamana, kamu bersedia?” tanya Raja Luis.


“Ya, aku bersedia!” jawab Asteria mantap.


Raja Luid tersenyum. “Sudah kuduga. Orang pemimpi dan memiliki hasrat petualangan sepertimu pasti tak dapat menolak tawaran ini.”

__ADS_1


“Sepertinya Raja sudah mengetahui semua tentang diriku,” kata Asteria.


“Tidak semuanya. Hanya hasrat, isi hati dan pikiranmu yang dapat kusentuh. Saat cahaya mantra itu melepaskan diri dan menyentumu, saat itu aku mendapatkan isi hati dan pikiranmu.”


Kegelapan dan cahaya di sekitar Asteria berubah menjadi bintang-bintang yang sangat indah. Lebih indah dari yang biasa Asteria lihat di langir malam. Gugusan langit berwarna merah, biru, hitam, dan banyak sekali cahaya kecil yang membentuk lukisan indah di luasnya kanvas langit yang gelap. Inilah kumpulan galaksi.


“Ini adalah medan penjelajahanmu. Kamu harus berhati-hati. Jangan sampai kamu mati dalam petualanganmu. Dan kamu harus ingat waktumu sangat terbatas. Serangan Pasukan Langit akan datang kurang dari 7 tahun lagi. Kamu harus kembali dengan kekuatan baru sebelum Pasukan Langit menghancurkan negerimu,” jelas Raja Luid.


“Baik, aku mengerti. Meskipun ini sangat mendebarkan bagiku, aku sangat semangat menjalaninya. Aku yakin akan kembali dengan selamat dan membawa kekuatan untuk melawan Pasukan Langit.”


“Bagus. Yang kamu perlu lakukan adalah mencari sumber-sumber kekuatan di setiap planet tanpa perlu merusaknya,” kata Raja Luid.


“Aku mengerti.” Asteria melayang di udara. Sejak tadi lantai yang ia injak sudah menghilang entah ke mena. Asteria baru menyadarinya.


“Bagaimana caraku menjelaskan pada Viana dan Pangeran Sagi? Mereka dan semua penduduk New Ferrata akan mencariku,” ujar Asteria.


“Tenang. Aku akan mengatakannya pada mereka berdua. Kamu pergi saja. Meskipun ini Dunia Mimpi, saat kamu pergi ke tujuanmu. Kamu sudah memasuki dunia nyata. Ragamu sudah kamu bawa dan tidak ada lagi di kamar itu,” jelas Raja Luid.


“Baiklah. Kalau begitu aku pergi sekarang.” Asteria mengedarkan pandangan. Begitu luas dan besarnya mahakarya Tuhan. Ia tak tahu harus pergi ke mana dulu.


“Aku tidak tahu tempat apa  yang harus kutuju sekarang,” kata Asteria akhirnya.


Raja Luid memberinya saran untuk pergi ke Planet Mordoc. Di sana ada sebuah danau yang menyimpan senjaata-senjata kuat peninggalan kaum Mord. Ia menunjuk arah planet itu berada. Perjalanan selanjutnya Asteria harus mencari dan memutuskan sendiri.


Raja Luid menyerahkan sebuah kompas dengan 2 jarum penunjuk, berwarna merah dan hijau pada Asteria.


“Ini untukmu. Jika warna merah bergerak, artinya ada bahaya. Jika waran hijau bergerak, artinya ada sesuatu yang berharga,” kata Raja Luid. “Kompas ini juga bisa mengerti isi hati dan pikiranmu. Ia akan membawamu ke tempat yang kamu pikirkan,” sambungnya.


“Terima kasih,” balas Asteria. Ia menerimanya.


“Satu lagi, saat kamu merasa misimu sudah selesai. Gunakan ini untuk kembali.” Raja Luid mengusap lengan kiri Asteria dan secara ajaib tulisan kuno yang dapat dibaca Asteria muncul. Tulisan itu kemudian meresap ke dalam kulit dan lenyap.


“Usaplah tanganmu ini dengan mata terpejam. Setelah mantra ini muncul di lenganmu, bacalah. Kamu pun akan kembali ke planetmu.”


“Baiklah, terima kasih untuk semua ini. Kalau begitu aku pamit. Semoga kita dapat berjumpa lagi.” Asteria terbang melesat menuju planet yang disarankan Raja Luid.


Raja Luid menatap kepergian Asteria. Ia berharap Asteriaa mampu melewati segala tantangan yang akan dihadapinya. Ia sadar perjalanan ini sangat berisiko baginya.

__ADS_1


[Next Part 18]


__ADS_2