
Saga sudah berada di Hutan Terlarang lebih dari satu bulan. Ia menjelajahi hutan itu untuk mencari Roh Penjaga Hutan yang diceritakan Rinn. Seluruh bagian hutan gelap itu sudah dijelajahinya namun ia tak pernah menemukan keberadaan Roh Penjaga Hutan.
Saga duduk di sebuah batu. Ia memejamkan matanya. Mencoba berkomunikasi dengan makhluk apapun di hutan ini. Barangkali ada yang bisa memberinya petunjuk.
Seminggu sudah dilewati namun Saga tak mendapatkan keberadaan makhluk apapun di hutan itu. hanya sepi dan gelap yang menemaninya selama pertapaan. Saga merasa tak mungkin ia harus bertapa bertahun-tahun seperti Ven dan Rinn. Ia ingin segera kembali ke istana Ghanda.
Saga mencoba berpikir dalam pertapaannya. Bagaimana cara memanggil Roh Penjaga Hutan untuk meminta kekuatan. Ia memikirkan bagaimana Roh Penjaga Hutan dapat mengabulkan banyak permintaan. Dan, apakah Roh Penjaga Hutan tidak memiliki permintaan apapun selama ia hidup? Rasanya tidak mungkin ada makhluk yang tidak memiliki keinginan. Bahkan setan sekalipun memiliki keinginan, yakni menginginkan manusia berperilaku sama seperti setan.
Pada ujung pemikiran itu, Saga menemukan celah. Bagaimana jika ia mencari tahu keinginan Roh Penjaga Hutan dan menawarkan untuk mengabulkannya. Atau ia mencoba menawarkan diri untuk berteman dengan Roh Penjaga Hutan. Mungkin dengan begitu Roh Penjaga Hutan akan datang dengan cepat.
Saga membuka mata. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia dapat berkomunikasi dengan Roh Penjaga Hutan. Saga memerhatikan setiap pohon yang hanya terlihat seperti siluet di hadapannya dan merasakan keberadaan mereka. Melalui pohon-pohon yang ada di hutan ini Saga mencoba menyampaikan maksudnya bahwa ia datang bukan hanya untuk meminta kepada Roh Penjaga Hutan. Namun ia datang dengan kerelaan dapat membantu Roh Penjaga Hutan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Berkali-kali Saga menyampaikan maksud itu. Ia yakin setiap pohon dapat merasakan dan berkomunikasi. Saga sabar menanti dan terus menyampaikan keingnannya.
Angin mulai menggoyangkan ranting dan dedaunan. Daun-daun berguguran dan tak lama kemudian sesuatu yang bercahaya muncul di kejauhan. Membuat pohon-pohon makin terlihat jelas.
Cahaya itu makin membesar dan mendekat. Sampai akhirnya berada tak jauh dari Saga. Cahaya tanpa bentuk itu melayang di antara pepohonan.
“Salam muliaku untukmu Roh Penjaga Hutan,” ujar Saga. Ia merasakan kehadiran makhluk yang ia yakini sebaga Roh Penjaga Hutan.
Tanpa adanya suara dari makhluk itu, Saga seakan mendengar seseorang berbicara di telinganya. Suara itu cukup parau dan seperti diucapkan oleh tiga atau bahkan empat orang secara bersamaan. “Apa maumu?” tanya suara di telinga Saga.
Mengerti dengan cara komunikasi Roh Penjaga Hutan, Saga membuka mulut. Ia berbicara dalam kepada Roh Penjaga Hutan. “Aku ingin mengenal dirimu, wahai Roh Penjaga Hutan,” kata Saga.
__ADS_1
“Untuk apa kamu mengenalku? Dalam darahmu mengalir darah dan jiwa seorang Raja. Untuk apa kamu ingin mengenalku,” balas Sang Roh.
Saga menjawab, “Aku tidak mengerti maksudmu dengan darah dan jiwa seorang Raja. Aku hanyalah makhluk biasa yang tak memiliki kemampuan. Aku tidak sepertimu yang memiliki kemampun untuk mengabulkan segala kemauan makhluk lain.”
Roh itu tertawa datar. “Jadi kamu tidak mengetahui asal usulmu. Seharusnya kamu tahu tentang dirimu. Karena dengan kemampuan dirimu seharusnya kamu tak perlu mendatangiku. Kamu bisa lebih kuat dari mereka yang mendatangiku.”
Saga makin tertarik dengan obrolan ini. Ia tak mau melewatkan kesempatan ini. “Terserah apa katamu. Yang jelas, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya manusia terlantar yang ditemukan Gandha di sebuah hutan, dan dia merawatku.”
Roh Penjaga Hutan cukup lama tak membalas, sampai kemudian dia berkata lagi. “Baiklah, itu urusanmu hidupmu. Jadi apa urusanmu datang ke sini?” tanya Roh.
“Aku datang untuk mengenalimu. Apakah kamu tidak memiliki keinginan sepanjang hidupmu?” Saga balik bertanya.
“Keinginan? Selama hidupku?” Roh mengulang kata dari Saga dengan nada pertanyaan. “Aku sudah lupa keinginanku sejak aku dapat mengabulkan keingiinan orang lain. Tak ada yang lebih kuinginkan selain melihat manusia memohon padaku. Lalu aku memberinya ujian untuk dilewati. Kemampuanku memberikan kemampuan ajaib pada manusia telah memberiku kepuasan sendiri.”
“Kalau begitu, haruskah aku memohon padamu untuk membuatmu senang dan menerimaku? Aku ingin menjadi sahabatmu. Itulah keinginanku. Dan haruskah aku melewati ujian darimu agar aku dapat bersahabat denganmu?” tanya Saga.
“Bersahabat? Aku tidak membutuhkan sahabat,” jawab Roh Penjaga Hutan.
“Tapi aku ingin menjadi sahabatmu. Aku rela memohon dan melewati ujian asalkan kamu menjadi sahabatku.”
“Ini permintaan yang aneh,” kata Roh Penjaga Hutan.
“Aku akan terus memohon. Sampai kamu bersedia menjadi temanku. Selama ini aku sudah jenuh bersahabat dengan manusia. Mereka semua serakah dan hanya ingin jadi yang terkuat,” kata Saga.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku akan memberimu ujian besar. Kamu harus dapat melewatinya,” kata Roh Penjaga Hutan. “Jika kamu dapat melewatinya, aku akan mengabulkan permintaanmu untuk bersahabat denganmu.”
“Aku siap menerima apapun risikonya asalkan dapat menjadi temanmu,” jawab Saga dengan segala maksud tersembunyi.
Tak lama kemudian Roh Penjaga Hutan menghadirkan banyak binatang buas dengan taring-taring yang runcing dan mata menyala. Beberapa macan mengaum keras. Ular-ular berbisa berkeliaran di tanah dan dahan pohon. Gajah-gajah dengan kaki besi bersiap dan menunggu perintah. Burung-burung pemakan bangkai bertengger dengan kuku-kukunya yang tajam dan runcing. Binatang-binatang itu melingari Saga di jarak sekira 50 meter.
Pada barisan acak di belakang binatang-binatang itu, ada makhluk-makhluk dengan cahaya api di tubuhnya. Mereka tidak memiliki wajah dan melayang. Mereka siap melawan apapun yang ada di hadapannya.
Pada barisan ketiga, monster-monster tinggi dari batu-batu besar berdiri kokoh. Siap menghajar dan menghancurkan lawannya menjadi berkeping-keping.
Saga mencoba tetap tenang. Di sekelilingnya binatang-binatang kelaparan menatapnya tajam, makhluk-makhluk yang terlihat membencinya, dan monster-monster menakutkan. Inilah ujian yang harus dihadapi Saga.
“Kamu harus bisa mengalahkan mereka untuk dapat menyelesaikan ujian dariku. Kamu dapat menggunakan seluruh kemampuanmu untu melawan mereka. Dan taruhannya adalah kematianmu jika kamu kalah,” kata Roh Penjaga Hutan.
Saga berdiri tegak. Ia mengeluarkan pedang di punggung yang dibawanya dari istana. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia mampu mengalahkan semua makhluk ini, meskipun terkesan sangat mustahil. Ia yakin setiap makhluk ini memiliki kelemahan.
“Baiklah, jika ini jalan yang harus kutempuh, aku rela berkorban asalkan menjadi sahabatmu,” kata Saga.
Sega mengelus permukaan pedangnya. Mencoba memastikan ketajaman pedang itu. Ia menggenggam erat pedang itu dan bersiap mengeluarkan segala kekuatan yang dimilikinya.
Binatang-binatang menatap Saga tajam. Saat Roh Penjaga Hutan memerintahkan binatang-binatang itu untuk menyerang, binatang-binatang itu berlari menuju Saga.
Saga pun segera melompat dan siap menebas setiap binatang yang menyerangnya.
__ADS_1
[Next Part 21]