
Asteria dan Viana tidak mau melewatkan kesempatan dan kepercayaan dari Sang Pangeran. Setiap pulang sekolah, mereka pergi ke perpustakaan untuk membaca dan mempelajari buku-buku dan dokumen usang yang selama ratusan tahun dirahasiakan.
Bu Surah yang mendengar cerita Asteria dan Viana merasa lega bahwa permasalahan ini tidak memanjang. Justru mereka mendapat akses eksklusif dari Pangeran Sagi untuk mempelajari semua yang ada di ruang rahasia itu. Bu Surah tak perlu merasa cemas dan gelisah lagi. Izin dari Pangeran adalah kartu hijau yang tak akan bisa dibantah siapapun.
Sudah satu bulan mereka bekerja. Setiap seminggu sekali Asteria dan Viana melaporkan hasil pembedahannya. Kisah tentang kerajaan-kerajaan masa lalu makin terbongkar.
Minggu ini Asteria menjelaskan tentang lubang yang ada di dalam samudera. Di lubang itu tersimpan benda-benda yang memiliki kekuatan sihir. Barang-barang itu terjatuh saat kapal yang membawanya terkena badai besar. Kapal dan segala isinya tenggelam di luang itu.
“Menarik. Jika kita bisa mendapatkannya, kita bisa menggunakannya untuk melawan Pasukan Langit. Lalu, selain itu apa lagi yang kamu dapat?” tanya Pangeran Sagi pada Asteria.
“Ada juga legenda tentang dinding besar di dalam samudera. Di sana tersimpan sebuah pedang milik seorang ksatria pada jaman dahulu. Tak ada yang pernah mendapatkannya, sebab dinding itu sangat besar dan memanjang di lautan. Tak ada yang pernah menemukan di sisi mana pedang itu disimpan,” jawab Asteria.
Pangeran Sagi makin tertarik dengan hasil-hasil yang didapatkan Asteria. Lalu Viana menyerahkan tiga buku di hadapan Pangeran Sagi.
“Ini adalah buku-buku tentang mantra, Pangeran. Aku bukanlah Pewaris Mantra. Aku tidak dapat mengaktifkan setiap mantra yang ada di sini. Mungkin buku ini akan sangat berguna bagi Pangeran. Bu Surah sudah mengizinkanku membawanya untuk Pangeran,” tutur Viana.
Pangeran Sagi menerimanya. Buku-buku ini ditulis dengan tulisan yang sampai saat ini digunakan, namun dengan kata-kata dan bahasa kuno yang sudah jarang digunakan. Ketiga buku itu disampul dengan sampul kulit yang masih kuat.
Pada bagian isi, tinta tulisan itu sudah banyak yang memudar namun tetap dapat dibaca. Pangeran Sagi membukanya satu per satu. Ia merasa buku-buku itu adalah harta peninggalan yang sangat berharga.
Pada beberapa lembar terdapat tulisan-tulisan mantra. Ada juga yang dilengkapi dengan simbol-simbol aneh berupa lingkaran api, pecahan batu, busur panah, dan banyak lagi. Ada pula berupa gambar-gambar binatang dengan perwujudan yang sangat mengerikan dan kuat, seperti monster-monster.
“Luar biasa,” gumam Pangeran.
Selain penemuan-penemuan Asteria dan Viana,Sang Ratu juga menemukan sebuah kotak kaca kecil yang terdapat butiran-butiran pasir di dalamnya. Serbuk pasir itu tak pernah diam meski kotak kaca itu disimpan dengan tenang. Serbuk pasir itu melayang-layang seperti ingin keluar.
Sang Ratu menyerahkan serbuk itu pada Pangeran Sagi sehari sebelumnya. Sang Ratu sendiri mengamankan sebuah buku mantra yang ingin ia pelajari sendiri.
“Bagaimana dengan dinding itu, Pangeran? Kapankah aku bisa keluar? Aku sudah melakukan tugasku. Aku harap Pangeran mau mewujudkan mimpiku meski hanya sebentar. Aku ingin melihat-lihat selama satu hari lalu kembali lagi ke kerajaan ini,” kata Asteria.
__ADS_1
“Bersabarlah dulu. Waktunya belum tepat. Para Pewaris Mantra saat ini sedang dikumpulkan. Setengahnya pun belum kami dapatkan. Semoga para Pewaris Mantra dapat kami kumpulkan sesuai jumlah yang dibutuhkan, dan tepat waktu,” jelas Pangeran Sagi.
“Baik Pangeran. Kuharap Pangeran menepati janji itu,” kata Asteria.
“Itu sudah pasti,” balas Pangeran Sagi. “Kita harus mempersiapkan banyak hal. Kita harus membangun kekuatan dari ancaman. Firasatku mengatakan serangan itu benar-benar akan datang. Kita harus waspada. Saat ini kondisi kita belum cukup kuat untuk melawan serangan,” Pangeran Sagi mengungkapkannya tanpa rasa beban. Ia sudah merasa Asteria dan Viana memahami kondisi dan bebannya.
“Baik, Pangeran. Adakah yang bisa kami bantu lagi?” tanya Asteria.
“Kalian lanjutkan saja mempelajari buku-buku itu. Masih banyak yang harus kalian baca. Aku tidak tinggal diam. Aku akan mengawasi para Prajurit Kerajaan yang sedang berlatih. Memastikan perlengkapan perang terus dibuat. Dan tentunya mempelajari buku-buku yang kalian bawa dari ruang rahasia itu,” kata Pangeran Sagi.
“Baik, Pangeran. Dengan senang hati kami akan menyelesaikannya,” ujar Asteria.
“Sejauh ini kalian sudah bekerja dengan bagus. Kuharap kalian tidak mengkhianatiku. Aku mempercayai kalian,” kata Pangeran Sagi.
“Siap, Pangeran.,” jawab Asteria dan Viana bersamaan.
“Mulai hari ini kalian panggil aku Sagi, saja.”
“Tidak Pangeran. Kami akan tetap memanggil Pangeran,” ujar Viana.
“Tidak. Ini permintaanku. Jika kalian takut ada yang mengetahuinya, panggil aku Pangeran di hadapan umum dan orang lain. Saat seperti ini, panggil saja aku Sagi. Usia kita tidak berbeda jauh, kan?” tanya Pangeran Sagi. Selama ini ia sangat merindukan hadirnya sahabat. Ia merasa Asteria dan Viana dapat ia jadikan sahabat, tak pedua meski hanya seorang rakyat biasa.
“Baik, Pangeran. Maksudku, Sagi,” jawab Asteria.
Pangeran Sagi kembali pada tiga buku yang diserahkan Viana. Ia membuka-buka buku ketiga yang belum sempat diperiksanya. Buku ini tidak memiliki gambar. Hanya tulisan-tulisan. Dan lebih tipis.
Pada bagian halaman tengah, ada sebuah tulisan yang cukup pendek. Di bawahnya terdapat stempel lilin dan nama Luid Cornius. Sagi merasa nama itu tak asing baginya. Ia mengelus stempel lilin itu.
Didorong rasa penasaran, Sagi membaca tulisan itu dengan pelan sampai selesai.
__ADS_1
Saat ia menyelesaikan kata terakhir yang tak ia pahami artinya, sebuah cahaya kebiruan terpencar ke segala sisi dari halaman itu. Cahaya itu menghempas Sagi, Asteria dan Viana dengan cukup kuat.
Cahaya itu hilang seketika.
Sagi bangkit berdiri dengan sedikit ngilu. Asteria masih di lantai dan merasakan pusing. Viana merasa sangat lemas. Cahaya tadi seperti melenyapkan seluruh kalori dalam tubuhnya.
Sagi membantu Asteria berdiri. Lalu mereka membantu Viana berdiri dan duduk di kursinya. Mereka sudah kembali pada posisi semula.
“Apa itu tadi?” tanya Asteria dengan menahan pusing di kepalanya. “Kenapa ia begitu cepat dan kuat?”
“Aku tidak tahu. Artinya ini menunjukkan bahwa buku ini menyimpan kekuatan yang sangat besar,” ujar Sagi. “Kalian beristirahatlah di kamar tamu. Aku akan meminta bantuan pelayan membantu dan mengantar kalian.”
Sagi memanggil pelayan-pelayan kerajaan untuk membawa Asteria dan Viana ke kamar tamu dan memeriksa kesehatannya. Asteria dan Viana pun dibantu berjalan dan dibawa ke kamar tamu sesuai perintah Pangeran.
Sagi yang memiliki badan dan tenaga lebih kuat mampu bertahan dan tidak mengalami sakit separah Asteria dan Viana. Ia masih duduk di kursinya dan mampu pergi ke kamar tanpa perlu bantuan pelayan.
Sagi berdiri dari kursinya. Meski tak separah Asteria dan Viana, ia tetap merasakan lemas.
Sagi merapikan buku-buku itu dan bersiap membawanya ke kamar. Namun betapa terkejutnya ia saat hendak menutup buku ketiga yang terakhir kali dibukanya.
Tulisan pada halaman berstampel dan bertuliskan nama Luid Cornius itu hilang. Terhapus dengan sempurna. Sagi membulak-balikkan halaman demi halaman, tak menemukan halaman lain yang memiliki stampel dan tanda nama. Ini masih halaman yang tadi, tidak tertutup oleh halaman lain.
“Siapa yang menghapus tulisan itu?” gumam Sagi dengan bingung. Matanya melihat sekeliling. Sepi. Tak ada orang yang menghapusnya.
Lagipula tulisan itu sudah menempel pada lembaran kertas tua dengan sangat kuat. Penghapus macam apa yang dapat menghapusnya. Dan tak ada bekas hapusan atau goresan pada kertas tua itu.
Sagi masih tak mengerti. Namun ia memutuskan berjalan menuju kamarnya untuk istirahat. Hari sudah sore.
Tanpa disadari, Pangeran Sagi yang merupakan seorang Pewaris Mantra telah mengaktifkan sebuah mantra yang akan membawa mereka pada perjalanan yang tak pernah terbayangkan. Buku terakhir yang dibukanya merupakan Kitab Mantra yang sangat penting dalam menentukan takdir dan masa depan umat manusia di Planet Sankz.
__ADS_1
[Next Part 17]