
Lapangan tempat berlangsungnya Turnamen Memanah sudah dipenuhi penduduk yang antusias ingin menyaksikan acara tahunan dan terbesar di negara dengan sistem kerajaan ini.
Para peserta yang kemarin sudah mengikuti Tahap 2 sudah berbaris di lapangan. Prajurit Eri memasuki lapangan dan segera mengumumkan hasil pertandingan Tahap 2 kemarin.
Hasilnya, ditentukan 29 tim yang berhasil lolos memasuki tahap 3. Tim Asteria merupakan salah satu tim yang berhasil lolos.
Setelah pertimbangan penjurian, anak panah milik Neil dinyatakan sah mengenai patung kayu lawannya, sementara anak panah milik lawan dinyatakan tidak sah karena memanah patung milik timnya sendiri.
Pada Tahap 3 ini, peraturannya berbeda dengan tahap sebelumnya. Setiap tim yang sebelumnya berpasangan harus dipisah, karena tahap 3 dilakukan secara individu.
Mereka akan bertanding di lapangan satu lawan satu. Orang yang sebelumnya menjadi teman satu tim, kini menjadi lawan yang harus dikalahkan untuk memasuki tahap selanjutnya.
Turnamen kali ini dilakukan di dalam arena labirin. Setiap peserta harus memanah patung dengan pakaian prajurit yang sudah disiapkan di setiap sudut labirin. Satu patung yang berhasil dipanah bernilai 10 poin. Dan jika semua patung prajurit sudah habis dipanah, maka patung raja yang ada di pusat labirin boleh dipanah. Patung raja bernilai 50 poin.
Siapa yaang paling banyak mendapatkan poin, dialah yang akan memenangkan pertandingan ini. Panah yang digunakanpun tidak terbatas.
Peraturan lainnya, peserta boleh mengambil kain yang ada di lengan peserta lawanya, yang sebelumnya kain tersebut menjadi penanda bahwa ia teman satu timnya. Dan mereka boleh melakukan kontak fisik selama tidak menggunakan senjata tajam. Bagi peserta yang kainnya diambil lawan, maka ia tidak bisa melanjutkan memanah patung.
Penjelasan dari Prajurit Er sudah selesai disampaikan. Ia kembali ke istana.
Asteria menarik napas. Ia meyakinkan diri bahwa ia bisa mengalahkan Neil, bahkan jika perlu ia akan mengambil kain kuning pada lengan Neil untuk menghentikan langkahnya.
Pertandingan Asteria melawan Neil berada di urutan kedelapan. Ia duduk di kursi penonton sambil menyaksikan pertandingan pertama sampai ketujuh.
Pasangan pertama yang bertanding adalah Litto melawan Delda. Pertandingan pembuka Tahap 3 ini cukup seru dan menegangnyak. Kedua belah pihak dapat mencapai skor secara susul menyusul. Litto sudah mendapatkan 70 poin, Delda 80 poin. Litto menyusul ke angka 110 poin, Delna 130 poin. Puncaknya dimenangkan oleh Litto setelah memanah patung raja. Skor Litto mencapai 160 poin, sedangkan Delda 130 poin.
Setelah pertandingan pertama selesai, kedua lawan di pertandingan kedua bersiap di pintu labirin masing-masing. Saat mereka berdiri, dinding-dinding labirin bergeser dengan mesin yang sudah dirancang di dasarnya. Membuat pola labirin baru sesuai rancangan.
Pertandingan kedua Zanza melawan Kiar. Pendukung Kiar dibuat geram pada Zanza.
Lima belas menit pertama pertandingan seimbang. Zanza dengan skor 40 poin dan Kiar 40 poin. Namun pertandinga semakin memanas saat Zanza melewati patung-patung dan justru fokus mengejar Kiar. Zanza mengincar kain milik Kiar demi menghentikan langkah Kiar.
__ADS_1
Zanza menyusup melewati gang demi gang labirin. Mengincar pergerakan Kiar yang tak menyadarinya. Penonton di bangku tribun yang melihatnya tak boleh memberi petunjuk, teriakan atau gerak tubuh untuk memberi informasi pada pemain.
Di menit 40, Zanza berhasil menghadang Kiar. Kiar yang tak mau beradu fisik mencoba menghindarinya. Namun Zanza tak peduli. Ia memanfaatkan kiar yang tak mau bertarung fisik dengan menangkap tubuhnya, lalu mengambil kainnya.
Kiar tak dapat melanjutkan pertandingan. Zanza dengan santainya memanah patung-patung yang tersisa tanpa lawan, sampai panah terakhir di patung raja. Skor akhir Zanza 230 dan Kiar 60.
Pertandingan ketiga Max melawan Dori yang dimenangkan Dori. Pertandingan keempat dimenangkan Tera, pertandingan kelima dimenangkan Enk, pertandingan keenam dimenangkan Fraza, dan pertandingan ketujuh dimenangkan Dega.
Pertarungan selanjutnya Asteria melawan Neil. Ini menjadi momen yang berat sekaligus tantangan bagi Asteria. Sebelumnya Neil menjadi kawan satu timnya. Saat detik-detik terakhir pertandingan tahap 2 kemarin, Asteria merasa Neil begitu tangguh dan cerdik. Kalau bukan karena kecerdikannya kemarin, saat ini mungkin Asteria sudah gagal.
Beberapa kelemahan Asteria juga sudah diketahui Neil. Tapi Asteria harus tetap berusaha. Ia kembali meyakinkan diri, bahwa ia bisa melewati tantangan kali ini.
Asteria memasuki lapangan. Labirin yang semula digunakan dalam pertandingan Dega melawan Volta berubah susunan.
Asteria berdiri di depan pintu labirin. Di sisi labirin yang berlawanan, Neil juga berdiri menghadap pintu labirin.
Saat terompet dibunyikan, Asteriaa dan Neil berlari memasuku labirin. Mencoba mencari jalan yang tepat, menghindari jalan buntu, sembari menemukan patung-patung prajurit. Tinggi labirin ini nyaris 2 kali dari tubuh Asteria.
Asteria menemukan pertigaan. Ia memilih jalur kiri.
Sial, ternyata itu jalur buntu. Namun tak sepenuhnya sial, di pojok labirin buntu terdapat satu patung prajurit. Asteria memanahnya dengan tepat, 10 skor untuk Asteria.
Asteria kembali ke jalur sebelumnya, ia memutuskan mengambil arah ke selatan. Asteria menemukan buntu kembali. Ia mencari jalan lain.
Asteria berhasil menemukan patung sebanyak 3 kali di sepanjang pencarian jalurnya. Ia sudah mendapatkan skor 40 poin.
Papan skor sudah menunjukkan Neil mendapatkan 50 poin, 10 poin lebih tinggi dari Asteria.
Asteria kembali menemukan patung di jalur buntu. Ia membidik patung dengan sangat fokus. Dan anak panah yang ia lepaskan menancap tepat di kepala patung tak berwajah itu. Papan skor yang terpasang di sudut lapangan menjadi angka 50 untuk kolom Asteria. Kini skor mereka sama.
Asteria tak menyangka ia bisa menyeimbangi Neil.
__ADS_1
Asteria terus berlari, sempat sesekali menemukan buntu. Ia memanah setiap patung yang ditemuinya. Total skor yang diraihnya sudah 60, sementara Neil 50. Asteria unggul.
Ia menemukan satu patung prajurit lagi. Dan dengan gagah berhasil memanahnya. Skornya menjadi 70.
Asteria mulai kelelahan, namun ia tak mau patah semangat. Ia tidak mau kalah. Di sisi lain, Neil berulang kali menemukan kebuntuan. Ia berdecak kesal.
Neil sudah mendapatkan skor 90. Lebih cepat dari yang dipikirkan.
Tiga puluh menit berikunnya dilewati dengan sangat menegangkan. Asteria berhasil menyusul menjadi 110 poin. Tak lama Neil mendapatkan 120 poin.
Patung prajurit terakhir berhasil ditemukan oleh Asteria. Ia memanahnya sebelum Neil datang. Skor mereka kini sama. 120 dan 120 poin.
Asteria segera mencari patung raja.
Dewi Keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Asteria. Ia tak menyangka bisa sebegitu mudah melewati ini. Ia berhasil menemukan ruang di pojok timur laut labirin. Di sana terdapat patung raja.
Asteria menarik napas. Lalu mengambil anak panahnya yang kebetulan tersisa 1. Dadanya membusung. Tangannya lurus mengarah sang raja. Busur panah digenggamnya erat-erat.
Matanya tajam dan fokus. Ia sudah berdiri di tengah lingkaran merah. Ini kesempatan terakhirnya untuk memenangkan pertandingan. Jika panahannya meleset, maka tidak ada pengulangan untuk memanah sang raja. Satu anak panah untuk satu kali panahan.
“Semua ini berakhir,” bisik Asteria. Matanya tajam.
Dan, tling! Senar pada busur panah milik Asteria putus. “OH, NO!”
Asteria terkejut. Jantungnya berdegup seketika. Matanya membulat. Tangannya yang menggenggam busur sedikit bergetar. Bagaimana ini?
Dari balik dinding labirin, terdengar suara langkah begitu cepat. sepertinya seseorang tengah berlari di antara dinding labirin. Mencari jalur menuju pusat labirin. Itu pasti Neil!
Sejenak Asteria melirik papan skor, 120 dan 120.
[Next Part 8]
__ADS_1