
Tiga manusia dengan postur tubuh yang terlihat lebih besar itu terus berjalan melewati gelapnya hutan. Dari kecepatan dan keberanian mereka, Asteria menduga mereka sudah terbiasa hidup di hutan dan matanya sudah beradaptasi dengan baik saat malam.
Sampailah 3 manusia itu di sebuah gua. Ketiganya masuk ke dalam. Asteria berhenti di sebuah dahan. Ia berdiri menunggu manusia itu keluar. Namun tunggu ditunggu tidak ada yang keluar.
Asteria menimbang. Apakah ia harus kembali lagi ke shelterya atau melanjutkan rasa penasarannya akan manusia-manusia gua itu. Rasa penasaran Asteria sangat besar. Ia akhirnya memutuskan turun dari pohon.
Asteria berjalan pelan ke arah gua. Di sekitarnya banyak kayu yang ditumpuk dan bebatuan yang diletakkan dengan rapih. Menunjukkan batu-batu itu memiliki fungsi sesuai tempat dan ukurannya, serta kayu-kayu digunakan sebagai alat pendukung atau mungkin untuk membuat api. Entahlah, Asteria tak mengambil pusing.
Asteria tiba di mulut gua. Sekali lagi ia menimbang, rasa penasaran dan bahaya yang mengintai ia pertimbangkan lagi. Dan dengan kekuatan hati, ia memutuskan berjalan memasuki mulut gua setinggi dua setengah meter itu.
Asteria berjalan pelan memasuki lorong gua yang gelap dan panjang. Kakinya tak sengaja menyenggol sebuah kayu yang disandarkan di dinding lorong gua. Beruntung Asteria segera menangkapnya sebelum kayu itu jatuh dan mengeluarkan bunyi peraduan.
Asteria menggenggam kayu itu, yang ternyata adalah sebuah tombak kayu dengan mata tombak dari batu. Bagian mata tombak sedikit menguarkan aroma anyir, seperti pisau yang sering digunakan mencincang daging dan tak pernah dicuci.
Asteria membawa tombak itu dan melanjutkan perjalanannya. Ia tiba di dalam gue yang cukup luas dan tinggi. Di tengah gua ada api unggun yang tidak terlalu menyala. Hanya bara-bara api yang menumpuk dan memerah.
Asteria mengendap ke arah sisi. Di lantai gua sekitaran api, ada beberapa orang dewasa tidur dengan alas kulit binatang. Mereka semua tidak menggunakan pakaian. Di sudut lain beberapa orang juga tidur dengan alas kulit binatang.
Tiga manusia yang tadi masuk kini terlihat lagi oleh Asteria. Ketiganya keluar dari lubang gua arah lain. Asteria kini bisa melihat mereka sebagai laki-laki dewasa dengan perawakan yang cukup kekar. 2 orang berambut pendek namun dengan potongan berantakan dan 1 orang berambut panjang tak terurus. Mereka hanya menggunakan sehelai kulit binatang atau kulit pohon, entahlah, untuk menutupi alat kelaminnya.
Asteria merendahkan tubuhnya dan sedikit masuk pada celah batu gua untuk bersembunyi. Ketiga lelaki tadi tertawa seolah baru merayakan pesta dan kebahagiaan. Mereka memasuki celah-celah gua dan batu. Lalu ketiganya tidur di tempatnya masing-masing.
Asteria merasa informasi yang didapatkannya di gua itu sudah cukup. Ia ingin kembali ke shelter dengan mengingat lokasi gua ini dengan baik.
Baru saja Asteria bangkit, ada suara tangisan perempuan dari arah pintu gua tempat 3 lelaki tadi keluar. Asteria menahan dirinya. Ia kembali pada posisi mengamati. Tangisan dan rintihan itu makin jelas. Seperti ada perempuan yang sedang dalam penderitaan.
Seorang lelaki bangun dan merasa terusik akan suara rintihan itu. Ia memasuki ruang tersembunyi itu. Ada suara teriakkan dan pukulan dari dalam, diiringi jeritan menyakitkan. Asteria berpikir ada kekerasan di dalam gua ini.
Lelaki tadi keluar dengan seoang gadis muda yang berjalan terseok dengan tangan terikan dan ditarik paksa lelaki tadi. Gadis itu hanya mengenakan pakaian kulit untuk menutupi area **** dan dadanya. Sedangkan sisanya dibiarkan terbuka. Kulitnya putih, berbeda dengan kulit manusia lain yang ada di gua itu.
Lelaki itu mendorong si gadis sampai tersungkur. Ia memaki gadis itu sambil berteriak-teriak dengan bahasa yang tak dapat dimengerti Asteria. Suara lelaki itu membuat manusia gua lainnya terusik namun tetap mengabaikannya.
Mantra dari Raja Luid di lengan kiri Asteria muncul dengan cahaya redup. Asteria bingung mengapa mantra tersembunyi itu muncul. Raja Luid tidak menjelaskan ini.
Asteria yang khawatir keberadaannya diketahui jika cahaya redup mantra itu terlihat segera menutuinya dengan tangannya. Alhasil kondisi itu membuat mantra seakan ditekan ke dalam. Dan tiba-tiba Asteria dapat mengerti apa yang dibicarakan lelaki gua tadi pada si gadis itu.
__ADS_1
Asteria terperangah. Ternyata mantra itu juga dapat membuat Asteria mampu beradaptasi. Salah satunya adaptasi bahasa. Raja Luid memang sangat mengetahui bahwa Asteria akan melakukan perjalanan antar semesta, sehingga ia menanamkan 2 fungsi sekaligus pada mantra itu.
Terima kasih Raja Luid, kata Asteria dalam hati.
“Diam! Kamu ingin aku siksa lebih keras lagi?” bentak lelaki itu pada si gadis. “Beberapa malam lagi upacara pengorbanan akan berlangsung! Kamu tidak boleh mati sampai upacara itu tiba!”
Lelaki itu masuk ke dalam ruangan tadi dan kembali dengan segumpal daging. “Makan daging ini dan diamlah! Gunakan api untuk membuatnya matang jika kamu mau!” katanya lagi.
Gadis itu hanya menangis dan membiarkan daging segar yang sepertinya merupakan daging **** yang diambil oleh tiga lelaki sebelumnya di hutan. Sementara itu lelaki yang tadi memarahi si gadis kembali pada tempatnya dan melanjutkan tidur. Sebelumnya ia mengikat tali panjang di tangan si gadis pada kakinya agar si gadis tidak bisa lari.
Gadis itu memeluk kedua kakinya sambil menahan isak tangis. Ia sesenggukan di hadapan api. Ia merasakan lapar namun tak mau makan daging yang ada di dekat kakinya.
Asteria menunggu sampai lelaki tadi betul-betul tertidur. Sekira satu jam ia bersembunyi dan menunggu. Setelah dilihatnya lelaki tadi tidur dengan mendengkur, Asteria berjalan mengendap pada si gadis yang juga sudah tertidur.
Setelah dekat, Asteria memotong tali penghubung si gadis dengan lelaki menggunakan pisaunya dengan hati-hati agar tidak membuat hentakan pada kaki si lelaki.
Lalu, Asteria membangunkan gadis itu perlahan. Saat gadis itu membuka mata, ia hampir berteriak melihat orang asing ada di hadapannya. Asteria segera membekap kuat mulut gadis itu dan memintanya diam dengan mata dan ekspresinya.
Ketika dilihatnya gadis itu sudah mengerti, Asteria memotong tali pengikat tangannya. Dengan gerakkan tangan Asteria mengajak gadis itu kabur dari gua.
Si gadis menggeleng dengan ketakutan. Asteria meyakinkan bahwa ia bisa menyelamatkannya. Gadis itu dengan ragu mengagguk.
Asteria dan si gadis melanjutkan langkahnya. Asteria menyempatkan mengambil tombak dan membawanya. Saat tiba di lorong, keduanya menambah kecepatan sampai akhirnya keluar dari gua. Asteria terus membimbingnya memasuki hutan menuju shelternya.
Gadis itu terjatuh. Ia terlihat lemas. Rupanya gadis itu belum makan apapun dan kini kekurangan tenaga. Asteria mendudukkannya dan meyakinkan bahwa ia sanggup berjalan.
“Kumohon teruslah berjalan. Di tempatku ada makanan,” kata Asteria dengan bahasa aneh yang tak pernah disangka ia mampu mengucapkannya. Ia tak mungkin menggendongnya terbang sejauh itu. Ia belum sepenuhnya menguasai kemampuan terbangnya.
Si gadis kembali berdiri. Keduanya berjalan perlahan menyusuri hutan. Asteria mencoba mengingat arah shelternya. Mereka tiba di shelter setelah melakukan perjalanan sekitar satu jam.
“Naiklah ke pundakku. Aku akan menggendongmu. Tempat tinggalku ada di atas pohon,” kata Asteria.
Gadis itu mendongak ke atas. Lalu ia menuruti perintah lelaki yang tak dikenalnya itu. Asteria menggendong dan perlahan melayang. Cukup kesulitan baginya dengan membawa beban manusia. Apalagi sebagian tubuh gadis itu terbuka. Hal itu sedikit mengganggu konsentrasinya.
Asteria berhasil membawa gadis itu ke shelternya. Keduanya duduk berhadapan. Asteria menyerahkan daging matang dan air minum pada tabung bambu simpanannya untuk gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu menerimanya dan makan dengan sangat rakus. Asteria hanya memandangnya dengan iba. Gadis itu bahkan bersendawa setelah makan. Ia merasakan energinya kembali. Dan kini wajahnya lebih cerah.
“Siapa namamu?” tanya Asteria.
“Sikkadopadehn,” kata si gadis. Asteria kesulitan mengulang namanya.
“Panggil aku Sikka,” potong si gadis.
“Baiklah, Sikka. Salam kenal, aku Asteria. Kamu bisa tidur di sini malam ini.” Lantas Asteria mengambil jubah yang tak terlalu tebal dan ringan yang menggantung di atap shelter. Ia menyerahkan jubah itu pada Sikka untuk digunakan.
“Pakailah. Dengan ini kamu akan lebih hangat,” kata Asteria.
Sikka menerima dan menggunakannya.
“Kenapa kamu dipukuli oleh mereka?” tanya Asteria kemudian.
Gadis itu terlihat murung dan memegang bagian tubunya yang masih terasa sakit akibat pukulan.
“Kamu merasa keberatan untuk bercerita?” tanya Asteria lagi.
Sikka menggelengkan kepalanya. “Mereka adalah Bangsa Atas, sedangkan aku adalah Bangsa Bawah. Kami Bangsa Bawah selalu diperbudak oleh mereka. Dan setelah purnama ini berakhir, mereka akan mengadakan ritual Persembahan Pada Dewa. Aku akan dijadikan persembahan mereka. Pada puncak ritualnya, aku akan dibawa ke Danau Dewa. Darahku akan diserahkan pada Dewa yang ada di danau. Lalu tubuhku akan dipotong-potong sebagai santapan mereka. Manusia yang sudah dipersembahkan dianggap suci dan akan menyelamatkan kehidupan orang yang memakannya!”
Asteria tercekat. “Mereka melakukan pembunuhan dan memakan manusia? Kanibal!”
“Iya. Tidak hanya itu saja. Sebelum puncak acara, aku akan ditiduri oleh beberapa pria yang dianggap sebagai Tangan-Tangan Dewa. Mereka yang tinggal di gua itu adalah Tangan-Tangan Dewa. Tak jarang mereka menggernyangi tubuhku untuk hiburan, namun tak sampai memerkosaku. Sebab aku harus ditiduri oleh Tangan-Tangan Dewa pada acara ritual. Ritual akan dimulai dua hari lagi. Dan puncaknya sekitar 3 hari lagi,” kata Sikka.
Asteria menggelengkan kepala dan membayangkan peristiwa mengerikan akan terjadi di sini. “Di mana keluargamu?” tanya Asteria.
“Di bawah. Mereka berada di bawah daratan.”
“Maksudmu?” Asteria merasa bingung.
“Di bawah daratan ini ada tempat tinggal kami Bangsa Bawah,” jawab Sikka.
“Baiklah. Nanti kita pergi ke tempat tinggalmu. Sebaiknya sekarang kita harus pergi lebih jauh. Jika Bangsa Atas mengetahui kamu sudah tidak ada di gua, mereka akan mencarimu. Kamu masih sanggup berjalan?”
__ADS_1
Sikka mengagguk. Asteria pun membawa Sikka turun kembali. Mereka melanjutkan perjalanan menjauhi wilayah itu. Di tengah hutan, malam hari, dan hanya disinari bulan.
[Next Part 25]